“Saat keluarga kesulitan memproses peristiwa-peristiwa besar, itu bisa menjadi momen yang tepat untuk mempertimbangkan terapi,” ujar Runt.
Sering Drama Keluarga? Ini Tanda Keluargamu Perlu Ikut Family Therapy

Konflik dalam keluarga merupakan hal yang hampir tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Perbedaan sudut pandang, karakter, hingga pengalaman hidup kerap memicu gesekan yang tak jarang berulang. Namun, ketika drama keluarga mulai menguras emosi dan sulit menemukan titik temu, bantuan profesional bisa menjadi pilihan yang patut dipertimbangkan.
Family therapy hadir bukan untuk mencari siapa yang paling bersalah. Pendekatan ini justru membantu keluarga memahami pola hubungan yang terbentuk dan memperbaikinya secara kolektif. Jika suasana di rumah terasa semakin tidak sehat, beberapa tanda berikut bisa menjadi sinyal awal yang perlu diperhatikan. Yuk, cek tanda-tandanya berikut ini!
1. Konflik yang sama terus berulang

Pertengkaran dengan topik serupa yang terus muncul menandakan ada persoalan mendasar yang belum terselesaikan. Meski sudah berkali-kali dibahas, konflik tersebut seolah kembali dengan pola yang sama. Situasi ini kerap membuat anggota keluarga merasa lelah secara emosional dan kehilangan harapan untuk berdamai.
Dalam kondisi tersebut, sudut pandang pribadi sering kali mendominasi cara melihat masalah. Dikutip dari SELF, Erin Runt, LMFT, menyebutkan, saat kita menceritakan konflik, yang muncul biasanya hanya versi kita sendiri. Family therapy menawarkan ruang yang lebih netral, sehingga setiap anggota keluarga memiliki kesempatan yang sama untuk didengar.
2. Komunikasi selalu berujung salah paham

Ketika komunikasi tak lagi berjalan efektif, ketegangan dalam keluarga mudah meningkat. Percakapan sederhana bisa berubah menjadi perdebatan atau berakhir dengan sikap saling diam. Jika dibiarkan, pola ini dapat menciptakan jarak emosional yang semakin sulit dijembatani.
Dikutip dari SELF, Dorin Roth, PsyD, menjelaskan bahwa akar masalah keluarga sering kali terletak pada cara berinteraksi. Tujuan terapi keluarga adalah menggeser keseluruhan sistem hubungan, bukan hanya perilaku satu individu. Dengan pendampingan profesional, keluarga dapat belajar menyampaikan perasaan tanpa menyela, bersikap defensif, atau membuat asumsi.
3. Perubahan besar sulit dihadapi bersama

Peristiwa besar seperti perceraian, kehilangan orang terdekat, atau perpindahan tempat tinggal dapat memengaruhi stabilitas keluarga. Setiap anggota mungkin memproses perubahan tersebut dengan cara yang berbeda. Tanpa ruang dialog yang sehat, perbedaan respons ini berpotensi memicu konflik baru.
Family therapy dapat membantu keluarga menghadapi masa transisi dengan lebih terarah. Terapi menyediakan ruang aman untuk mengekspresikan emosi secara terbuka dan saling memahami. Selain itu, proses ini juga memperkuat rasa kebersamaan di tengah situasi yang penuh tantangan.
4. Batasan pribadi tidak pernah dihargai

Menetapkan batasan dalam keluarga kerap menjadi hal sensitif. Ketika kebutuhan pribadi dianggap berlebihan atau ditanggapi dengan rasa bersalah, konflik pun mudah terjadi. Akibatnya, seseorang bisa merasa tertekan hanya karena berusaha menjaga kesehatan mentalnya.
Selain itu, penolakan terhadap batasan sering berangkat dari kesalahpahaman emosional. Tidak sedikit orang yang memaknai penolakan sebagai bentuk penolakan personal, bukan sebagai kebutuhan. Melalui terapi, keluarga dapat belajar menghormati batasan tanpa merasa kehilangan kedekatan.
“Terapi bisa menjadi alat yang sangat baik, bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan membantu keluarga membangun rasa saling menghormati dan kepercayaan agar bisa saling bergantung satu sama lain,” kata Dr. Roth.
Family therapy bukanlah simbol kegagalan dalam membangun keluarga yang harmonis. Justru sebaliknya, langkah ini menunjukkan kesadaran untuk memperbaiki hubungan secara lebih sehat dan berkelanjutan. Jika drama keluarga terasa tak kunjung usai, mungkin inilah saatnya mencari solusi bersama.


















