Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tantangan Finansial Gen Z Saat Ingin Punya Rumah Sendiri

ilustrasi membeli rumah
ilustrasi membeli rumah (pexels.com/jakub zerdzicki)
Intinya sih...
  • Harga rumah naik lebih cepat dari kenaikan gaji, membuat impian punya rumah terasa makin jauh.
  • Uang muka yang tinggi menjadi tantangan awal yang berat bagi Gen Z.
  • Penghasilan belum stabil dan tekanan gaya hidup menyulitkan rencana membeli rumah.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Keinginan punya rumah sendiri di usia muda sering jadi mimpi besar bagi Gen Z, tapi realitanya tidak selalu seindah unggahan media sosial. Di tengah gaji yang belum stabil, biaya hidup yang terus naik, dan gaya hidup perkotaan, rencana membeli rumah kerap terasa makin jauh. Tak heran jika banyak Gen Z mulai bertanya, apakah punya rumah masih realistis untuk diperjuangkan?

Meski terdengar berat, tantangan finansial ini bukan tanpa alasan yang jelas. Ada berbagai faktor yang membuat langkah Gen Z menuju rumah pertama terasa penuh rintangan. Yuk, simak satu per satu tantangan finansial yang paling sering dihadapi Gen Z saat ingin punya rumah sendiri.

1. Harga rumah naik lebih cepat dari kenaikan gaji

ilustrasi harga rumah
ilustrasi harga rumah (pexels.com/jakub zerdzicki)

Dalam beberapa tahun terakhir, harga properti terus merangkak naik, terutama di wilayah perkotaan dan penyangga kota besar. Sayangnya, kenaikan gaji Gen Z tidak selalu sebanding dengan lonjakan harga rumah tersebut. Kondisi ini membuat impian punya rumah terasa makin jauh meski sudah bekerja penuh waktu.

Ketimpangan antara harga rumah dan pendapatan menciptakan rasa frustrasi tersendiri. Banyak Gen Z akhirnya menunda membeli rumah karena merasa target finansialnya tidak realistis. Bahkan, menabung bertahun-tahun pun belum tentu cukup untuk mengejar harga pasar.

2. Uang muka yang tinggi

ilustrasi uang muka
ilustrasi uang muka (pexels.com/pavel danilyuk)

Uang muka atau DP sering kali menjadi tantangan awal yang paling berat. Besarnya nominal DP mengharuskan Gen Z memiliki tabungan besar dalam waktu relatif singkat. Padahal, di fase awal kerja, penghasilan biasanya masih terserap untuk kebutuhan dasar.

Situasi ini membuat banyak Gen Z kesulitan memulai langkah pertama membeli rumah. Tidak sedikit yang akhirnya bergantung pada bantuan keluarga. Namun, opsi tersebut tentu tidak bisa diandalkan oleh semua orang.

3. Penghasilan belum stabil

ilustrasi mengatur gaji (pexels.com/olivia danilevich)
ilustrasi mengatur gaji (pexels.com/olivia danilevich)

Sebagian Gen Z bekerja di sektor dengan penghasilan fluktuatif, seperti freelance atau kontrak. Kondisi ini kerap dianggap berisiko oleh lembaga keuangan. Akibatnya, pengajuan KPR sering terkendala persyaratan administrasi.

Ketidakpastian pendapatan membuat bank ragu memberikan persetujuan kredit. Padahal, banyak Gen Z sebenarnya mampu mencicil secara konsisten. Sayangnya, sistem kredit belum sepenuhnya ramah pada pola kerja generasi saat ini.

4. Biaya hidup harian menyita porsi tabungan

ilustrasi biaya hidup
ilustrasi biaya hidup (pexels.com/karolina grabowska)

Kenaikan biaya hidup membuat alokasi tabungan semakin tergerus. Mulai dari kebutuhan makan, transportasi, hingga cicilan lain, semuanya menuntut perhatian finansial. Tabungan untuk rumah pun sering kali jadi prioritas terakhir.

Dalam kondisi seperti ini, menabung terasa seperti perjuangan jangka panjang. Gen Z harus ekstra disiplin agar dana tidak habis untuk kebutuhan harian. Tanpa strategi keuangan yang matang, impian punya rumah bisa terus tertunda.

5. Tekanan gaya hidup dan ekspektasi sosial

ilustrasi mengejar gaya hidup (pexels.com/freestock)
ilustrasi mengejar gaya hidup (pexels.com/freestock)

Lingkungan sosial juga memberi tekanan tersendiri bagi Gen Z. Gaya hidup, tren, dan ekspektasi untuk menikmati hidup sering kali berbenturan dengan rencana finansial jangka panjang. Akibatnya, menabung untuk rumah terasa kalah menarik dibanding kebutuhan aktualisasi diri.

Di sisi lain, ada pula tuntutan sosial untuk segera mandiri dan punya rumah sendiri. Tekanan ini bisa memicu stres dan rasa tidak cukup. Tanpa kesadaran finansial yang kuat, Gen Z bisa terjebak dalam dilema antara realita dan ekspektasi.

Tantangan finansial Gen Z untuk memiliki rumah bukan sekadar soal niat, tapi juga soal realita yang harus dihadapi. Dengan perencanaan keuangan yang lebih sadar dan strategi yang tepat, impian punya rumah tetap bisa diperjuangkan meski jalannya tidak mudah. Yuk, mulai melihat kondisi finansial secara realistis agar keputusan besar ini bisa diambil dengan lebih matang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Cara Berhenti Membeli Barang yang Gak Dibutuhkan, Biar Gak Menyesal!

25 Jan 2026, 23:22 WIBLife