“Mayoritas orangtua sepakat bahwa tidak ada pendekatan satu ukuran untuk semua anak dalam pengasuhan. Selebihnya memilih menggabungkan beberapa gaya parenting sekaligus,” jelas , Casey Miller, CEO Kiddie Academy, dikutip dari Parents.
Tren Parenting 2026 yang Banyak Diterapkan Orangtua Gen Z

Menjadi orangtua di era modern tak lagi sekadar mengikuti pola lama. Generasi Z membawa cara pandang baru yang lebih reflektif, fleksibel, dan peduli kesehatan mental. Memasuki 2026, pendekatan mereka melahirkan tren parenting yang semakin relevan dengan tantangan zaman.
Berbagai pendekatan ini lahir dari keinginan Gen Z untuk menciptakan lingkungan keluarga yang lebih seimbang. Gak hanya fokus pada anak, tetapi juga pada kesejahteraan orangtua itu sendiri. Berikut tren parenting 2026 yang banyak diterapkan orangtua Gen Z dan mulai membentuk pengasuhan modern. Cek, yuk!
1. Hybrid parenting

Hybrid parenting menjadi pilihan utama orangtua Gen Z karena dinilai lebih realistis dan manusiawi. Mereka tidak lagi mengikatkan diri pada satu gaya pengasuhan, melainkan memadukan kelembutan dengan ketegasan sesuai situasi. Pendekatan ini memberi ruang bagi orangtua untuk beradaptasi tanpa merasa bersalah.
Dibanding hanya memvalidasi perasaan anak, orangtua Gen Z juga menekankan pentingnya batasan yang jelas. Anak diajak memahami alasan di balik aturan, bukan sekadar diminta patuh. Pola ini membantu membangun komunikasi dua arah yang sehat dan saling menghargai.
2. AI-enabled parenting

Teknologi berbasis AI kini menjadi alat bantu penting dalam keseharian orangtua Gen Z. Aplikasi pintar dimanfaatkan untuk mengatur jadwal, menyusun menu harian, hingga membantu aktivitas rutin yang sering menguras energi. Dengan rutinitas yang lebih terorganisir, tekanan mental pun bisa ditekan.
“Dengan penggunaan AI yang tepat, aplikasi-aplikasi tersebut dirancang agar tidak membebani orangtua,” jelas Cassidy Blair, PsyD, psikolog klinis di Beverly Hills, dikutip dari Parents. “Hasilnya, orangtua bisa lebih hadir secara emosional saat berinteraksi dengan anak,” tambahnya.
Namun, penggunaan AI tidak lantas menggantikan peran orangtua. Justru, teknologi ini membantu mereka lebih fokus saat bersama anak tanpa terdistraksi urusan teknis. Bagi Gen Z, teknologi adalah alat pendukung agar hubungan emosional tetap menjadi prioritas utama.
3. Split-shift parenting atau berbagi peran, berbagi napas

Split-shift parenting menjadi solusi bagi orangtua Gen Z yang ingin menghindari kelelahan berkepanjangan. Pola ini memungkinkan orangtua bergantian mengurus anak, sehingga masing-masing punya waktu untuk beristirahat atau menyelesaikan urusan pribadi. Parenting tidak lagi terasa seperti beban sepihak.
“Beban untuk mengerjakan semuanya sendirian berkurang,” ujar Cassidy Blair. “Orangtua pun punya ruang untuk bernapas dan memulihkan diri.”
Dengan pembagian peran yang lebih adil, hubungan pasangan pun menjadi lebih sehat. Orangtua bisa menjalani perannya dengan energi yang lebih stabil dan emosi yang lebih terkendali. Dampaknya, kualitas pengasuhan dan keharmonisan keluarga ikut meningkat.
4. Sadar dan berani mengubah pola lama

Orangtua Gen Z juga semakin sadar bahwa tidak semua pola asuh lama layak diteruskan. Mereka mulai mengidentifikasi kebiasaan yang dulu menyakiti atau menekan, lalu memilih untuk tidak mengulanginya pada anak. Inilah yang dikenal sebagai cycle-breaking.
Proses ini sering dimulai dari perubahan kecil, seperti lebih hadir secara emosional dan terbuka membicarakan perasaan. Menurut Kim Vander Dussen, PsyD, profesor psikologi klinis, dikutip dari Parents, Gen Z juga cenderung meninggalkan peran gender kaku dalam keluarga. Tujuannya jelas, menciptakan ruang tumbuh yang lebih aman dan sehat bagi anak.
5. Berdamai dengan ketidaksempurnaan

Standar parenting serba sempurna kini mulai ditinggalkan. Orangtua Gen Z memahami bahwa lelah, emosi, dan kesalahan adalah bagian dari proses belajar menjadi orangtua. Mereka tidak lagi menuntut diri untuk selalu tampil ideal.
Dengan menerima ketidaksempurnaan, orangtua bisa lebih fokus pada hubungan yang nyata dan hangat. Kehidupan keluarga tidak harus selalu rapi atau estetik untuk bisa bahagia. Tren ini membantu orangtua menjalani parenting dengan lebih jujur dan penuh empati.
6. Lebih sedikit screen time, lebih banyak interaksi nyata

Kesadaran akan dampak negatif layar membuat orangtua Gen Z lebih selektif dalam memberikan akses digital pada anak. Aktivitas bermain di luar rumah, eksplorasi alam, dan permainan kreatif kini kembali diutamakan. Waktu bersama keluarga pun dijaga agar minim distraksi gawai.
Menariknya, Gen Z juga mulai memahami pentingnya rasa bosan bagi anak. Tidak semua waktu harus diisi aktivitas atau stimulasi berlebihan. Dari kebosanan, anak justru belajar berimajinasi dan mengenal dirinya sendiri.
Tren parenting 2026 menunjukkan bahwa orangtua Gen Z tidak sekadar mengikuti arus, tetapi berani menciptakan pendekatan baru yang lebih seimbang. Mereka menggabungkan kesadaran emosional, teknologi, dan refleksi diri dalam satu kesatuan pola asuh. Parenting pun bukan lagi soal sempurna, melainkan soal hadir, sadar, dan terus belajar bersama anak.


















