Terlalu sering mengatur cara kamu mendidik anak
Komentar soal isi dompet tiap bulan
Mengkritik pasanganmu atau anakmu secara berlebihan.
Kapan Harus Mengalah dan Kapan Kudu Tegas pada Mertua?

- Mengalah saat masalahnya hanya soal selera, bukan prinsip
- Mengalah di awal pernikahan saat semuanya masih penyesuaian
- Tegas kalau sudah menyentuh privasi rumah tangga
Siapa pun yang sudah menikah pasti cepat atau lambat akan berhadapan dengan satu “ujian” yang khas: hubungan dengan mertua. Dan jujur saja, hubungan dengan mertua itu sering jadi salah satu tantangan paling “halus” tapi juga bikin batin lelah. Di satu sisi, kita diajarkan untuk hormat dan sungkan pada orang tua. Di sisi lain, kita juga manusia yang punya batas emosi.
Masalahnya, tidak semua situasi bisa dihadapi dengan satu gaya. Ada waktu kita perlu mengalah demi kedamaian, tapi ada juga saat di mana kita harus tegas supaya diri sendiri tidak terus menerus tertekan. Nah, supaya tidak salah langkah, ini dia beberapa panduan kapan harus mengalah dan kapan kudu tegas pada mertua.
1. Mengalah saat masalahnya hanya soal selera, bukan prinsip

Kalau yang dipermasalahkan mertua adalah hal kecil, seperti cara memasak, gaya berpakaian di rumah, atau cara menata ruangan, maka mengalah sering kali lebih bijak. Misalnya, kamu suka rumah bergaya minimalis, sementara mertua lebih suka penuh dekor. Selama itu tidak mengganggu kenyamanan hidupmu secara serius, tidak ada salahnya sedikit fleksibel. Intinya, kalau bukan soal nilai hidup, keyakinan, atau martabat, kadang mengalah justru bikin hidup lebih tenang.
2. Mengalah di awal pernikahan saat semuanya masih penyesuaian

Di tahun-tahun awal menikah, semua pihak masih belajar satu sama lain. Kamu belum sepenuhnya tahu karakter mertua, dan mereka juga belum paham ritme hidupmu. Di fase ini, banyak mendengar dan mengamati itu penting. Tidak semua hal harus langsung dikoreksi. Kadang, mengalah dulu itu bukan berarti kalah, tapi sedang “mengumpulkan peta”. Anggap saja ini masa observasi, bukan masa perlawanan.
3. Tegas kalau sudah menyentuh privasi rumah tangga

Begitu mertua mulai terlalu ikut campur urusan internal—keuangan, pola asuh anak, atau keputusan besar rumah tangga—di sinilah kamu perlu mulai pasang batas. Beberapa urusan yang perlu disikapi dengan tegas, meliputi:
Kamu berhak bicara dengan sopan tapi tegas. Namun, tegas bukan berarti kasar. Tegas itu soal jujur dan konsisten. Contoh kalimat tegas tapi sopan:
“Kami sudah sepakat soal ini, Bu. Terima kasih masukannya, tapi kami mau coba jalani cara kami dulu.”
4. Mengalah kalau mertua sebenarnya berniat baik, meski caranya kurang pass

Kadang, mertua cerewet bukan karena mau mengontrol, tapi karena khawatir. Bedakan antara niat dan cara. Kalau niatnya peduli, tapi caranya terkesan terlalu ikut campur, maka kamu bisa mengalah sambil perlahan mengarahkan. Misalnya, alih-alih langsung defensif, kamu bisa mengatakan:
“Iya Bu, kami paham maksudnya baik. Nanti kami pertimbangkan ya.”
5. Tegas kalau harga dirimu atau pasangan diremehkan

Kalau sudah masuk ke ranah merendahkan, membanding-bandingkan, atau membuat pasanganmu merasa kecil, ini bukan lagi soal sopan santun, tapi soal harga diri. Di titik ini, diam justru bisa memperpanjang luka dan membuat mertua makin semena-mena. Kamu bisa bilang dengan nada tenang tapi tegas, seperti:
“Kami merasa kurang nyaman kalau dibanding-bandingkan seperti itu, Bu.”
6. Tegas kalau kamu sudah berkali-kali mengalah, tapi tidak pernah dihargai

Kalau kamu sudah terlalu sering diam, menahan, dan berusaha mengerti, tapi justru makin diremehkan, itu tanda kamu perlu ubah strategi. Mengalah terus-menerus tanpa batas itu bukan damai, tapi mengorbankan diri sendiri. Di titik ini, tegas pada mertua itu bentuk self-respect. Jadi, stop mengalah dan tunjukkan kalau kamu punya batas yang tidak boleh dilanggar.
Dalam hubungan dengan mertua, mengalah dan tegas itu bukan dua kutub yang bertentangan. Keduanya justru harus berjalan bersamaan. Mengalah tanpa batas membuat kamu hilang. Sementara, tegas tanpa empati membuat hubungan jadi retak.
Kuncinya ada di satu hal: tahu batas diri sendiri. Kalau kamu sudah paham apa yang bisa ditoleransi dan apa yang tidak, kamu tidak akan bingung lagi kapan harus menunduk, dan kapan harus berdiri.


















