Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Cara Menghadapi Mertua di Tahun-Tahun Awal Pernikahan, Minim Konflik

ilustrasi mertua dan menantu (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi mertua dan menantu (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya sih...
  • Jangan terlalu baper, tapi juga jangan memendam
  • Sadari bahwa pasanganmu adalah anak mereka
  • Bangun kedekatan pelan-pelan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menikah itu bukan hanya menyatukan dua orang, tapi juga dua keluarga. Dan di sinilah petualangan baru dimulai: menghadapi mertua. Bagi banyak pasangan menikah, tahun-tahun awal pernikahan sering jadi fase paling rawan. Bukan karena tidak cinta, melainkan karena ekspektasi, kebiasaan, dan cara pandang yang beda-beda mulai saling bersinggungan.

Terlebih, banyak pasangan muda harus tinggal bersama mertua di awal-awal pernikahan, entah karena permintaan mertua, ekonomi, belum memiliki tempat tinggal, atau alasan apa pun. Kalau kamu sering merasa kikuk, serba salah, atau mudah baper karena sikap mertua, tenang kamu tidak sendirian. Hampir semua orang pernah ada di fase ini. Untuk membantumu, yuk simak strategi menghadapi mertua di awal pernikahan agar lebih nyaman.

1. Jangan terlalu baper, tapi juga jangan memendam

ilustrasi mertua dan menantu (freepik.com/freepik)
ilustrasi mertua dan menantu (freepik.com/freepik)

Terkadang, ucapan mertua terdengar pedas, menyentil, atau membuat hati panas. Namun, di banyak kasus, mereka tidak sadar kalau kalimatnya menyakitkan. Individu dari latar belakang yang berbeda punya gaya komunikasi yang berbeda juga.

Kuncinya, jangan dipendam sampai meledak sendiri. Namun, juga jangan dibalas dengan emosi. Sebisa mungkin tidak selalu memasukkan ucapan mereka ke dalam hati. Lalu, kalau ada yang mengganjal, coba ungkapkan dulu ke pasangan dengan tenang. Bukan untuk mengadu, tapi supaya pasangan tahu posisiamu dan bisa jadi jembatan komunikasi yang sehat.

2. Sadari bahwa pasanganmu adalah anak mereka

ilustrasi mertua sedang mengatur acara makan malam
ilustrasi mertua sedang mengatur acara makan malam (pexels.com/Anna Shvets)

Ini penting sekali untuk diingat. Bagimu, pasangan adalah suami/istri. Namun, bagi mertua, dia tetap anak mereka yang dirawat sejak kecil. Jadi, kalau kamu merasa mertua terlalu ikut campur, coba lihat dari sudut pandang orangtua yang masih merasa bertanggung jawab pada anaknya. Kadang, orangtua lupa kalau anaknya sudah dewasa dan perlu belajar hidup mandiri.

Bukan berarti semua campur tangan harus dituruti, ya. Namun, memahami niat di baliknya bisa bikin hati lebih legowo. Diskusikan dengan pasangan soal batasan. Biarkan pasangan yang menyampaikan ke orangtuanya dengan bahasa yang halus dan penuh hormat.

3. Bangun kedekatan pelan-pelan

ilustrasi menyambut mertua yang datang berkunjung
ilustrasi menyambut mertua yang datang berkunjung (pexels.com/RDNE Stock project)

Tidak semua hubungan mertua–menantu langsung hangat. Ada yang butuh waktu lama untuk dekat. Yang penting, kamu sudah berusaha membangun kedekatan. Kamu bisa mulai dari hal kecil, seperti:

  • Sering menyapa
  • Sesekali tanya kabar
  • Ikut ngobrol walau hanya sebentar
  • Bantu hal sederhana di rumah kalau sedang berkunjung

Kedekatan itu dibangun dari konsistensi, bukan drama. Jadi, cobalah ambil hati mertua dengan sering membangun interaksi positif. Lama kelamaan, kamu juga akan merasa nyaman.

4. Jangan membandingkan dengan orang lain

ilustrasi mertua dan menantu (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi mertua dan menantu (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Mungkin, saat temanmu cerita tentang kebaikan mertuanya, ada rasa iri dan merasa bahwa kamu tidak seberuntung dirinya. Nah, sebisa mungkin segera tepis pemikiran ini. Apalagi sampai berkata pada pasanganmu, seperti

“Mertua temanku tuh baik banget...”

Ingat, tiap keluarga punya dinamika sendiri. Kalau kamu terus membandingkan, kamu akan terus merasa kecewa. Fokus saja ke hubunganmu sendiri dan proses yang sedang kamu jalani.

5. Jaga batasan tanpa jadi kurang ajar

ilustrasi berdiskusi dengan mertua (pexels.com/RDNE Stock project)
ilustrasi berdiskusi dengan mertua (pexels.com/RDNE Stock project)

Menghadapi mertua bukan berarti kamu harus kehilangan jati diri. Kamu tetap boleh punya prinsip, gaya hidup, dan cara mengatur rumah tangga sendiri. Yang penting, sampaikan dengan cara dewasa. Bukan defensif, bukan sinis, bukan nyolot. Kalimat lembut tapi tegas jauh lebih dihargai. Misalnya:

“Aku ngerti maksud Ibu baik, tapi untuk urusan ini, kami mau coba jalani dengan cara kami dulu, ya.”

6. Ingat tujuan utamamu untuk menjaga rumah tangga

ilustrasi pasangan suami istri sedang berlibur
ilustrasi pasangan suami istri sedang berlibur (pexels.com/Gustavo Fring)

Di tengah ribetnya urusan keluarga besar, jangan lupa fokus utama kamu itu pasangan dan pernikahan kalian. Jangan sampai konflik kecil dengan mertua merusak hubungan kalian sebagai suami-istri. Komunikasi terbuka dengan pasangan itu kunci. Ingat, kalian itu satu tim, bukan lawan.

Menghadapi mertua di tahun-tahun awal pernikahan memang tidak selalu mulus. Ada rasa sungkan, capek hati, dan kadang ingin menyerah. Namun, justru di fase inilah kamu belajar mengatur emosi, menjaga sikap, dan menempatkan diri dengan bijak.

Tidak perlu sempurna. Yang penting kamu terus belajar, mau memahami, dan tetap menjaga diri sendiri. Karena pernikahan bukan cuma soal cinta, tapi juga soal kemampuan beradaptasi dengan dunia baru yang ikut datang bersamanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Life

See More

[QUIZ] Dari Genre Buku Ini, Kami Bisa Tebak Kamu Logis atau Intuitif

18 Jan 2026, 16:05 WIBLife