ilustrasi orangtua (unsplash.com/Age Cymru)
Hubungan dengan orangtua menjadi persoalan ketika pendapat mereka selalu menjadi penentu terakhir dalam kehidupan anak yang sudah menikah. Mulai dari memilih rumah, menentukan sekolah anak, membeli kendaraan, sampai memutuskan tempat berlibur, pasangan bisa merasa setiap keputusan harus menunggu persetujuan keluarga besar. Dalam kondisi seperti ini, persoalannya bukan lagi tentang satu nasihat dari orangtua, tetapi tentang siapa yang sebenarnya memegang keputusan dalam rumah tangga.
Menghormati orangtua tidak berarti semua keputusan mereka harus diikuti. Setelah menikah, suami dan istri tetap perlu membicarakan sendiri keputusan yang menyangkut kehidupan mereka, sementara orangtua dapat tetap dihormati tanpa harus menjadi pihak yang menentukan semuanya. Ketika posisi tersebut tidak pernah dibicarakan, konflik bisa terus muncul karena satu pihak merasa sedang mempertahankan hubungan dengan orangtua, sedangkan pihak lainnya merasa sedang berusaha mendapatkan ruang dalam rumah tangganya sendiri.
Menjaga hubungan dengan orangtua dan menjaga rumah tangga sebenarnya bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Persoalan mulai muncul ketika rasa hormat kepada keluarga asal membuat pasangan tidak lagi punya ruang untuk menyampaikan keberatan atau ikut menentukan keputusan. Soalnya, sikap terlalu membela orangtua bisa memicu konflik rumah tangga. Menurutmu, dalam rumah tangga lebih sulit menghadapi orangtua yang terlalu ikut campur atau pasangan yang tak pernah berada di pihakmu?