Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi keluarga
ilustrasi keluarga (pexels.com/Julia M Cameron)

Intinya sih...

  • Sampaikan rencana pindah sejak awal dengan bahasa yang jujur

  • Dengarkan perasaan anak tanpa menghakimi

  • Libatkan anak dalam proses persiapan pindah

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Rencana pindah ke luar kota bukan hanya soal logistik saja, melainkan juga tentang kesiapan emosional seluruh anggota keluarga. Bagi orang dewasa, pindah tempat tinggal sering dianggap sebagai keputusan yang cukup rasional demi pekerjaan atau masa depan. Meski demikian, bagi anak, perubahan ini bisa terasa cukup melelahkan dan membingungkan.

Seorang anak memiliki ikatan emosional dengan rumah, sekolah, dan lingkungan yang selama ini mereka kenal sejak lahir. Ketika orangtua melewatkan kesempatan untuk menyampaikan rencana pindah dengan cara yang tepat, anak bisa merasa kehilangan rasa aman secara mendadak. Oleh karena itu, cara berkomunikasi menjadi kunci agar anak merasa dilibatkan dan dihargai.

1. Sampaikan rencana sejak awal dengan bahasa yang jujur

ilustrasi ayah dan anak (pexels.com/Nicole Michalou)

Menceritakan pada anak tentang rencana pindah sebaiknya dilakukan sejak jauh hari, bukan secara mendadak. Kejujuran membantu anak mempersiapkan diri secara mental tanpa merasa dikejutkan. Gunakan bahasa yang sederhana dan sesuai usia agar mereka memahami inti perubahan yang akan dihadapi bersama-sama.

Hindari menutup-nutupi alasan pindah karena anak bisa merasakan ketidakkonsistenan dari ucapan orangtua. Ketika anak tahu alasan di balik keputusan tersebut, mereka akan belajar dan lebih mudah untuk menerima keputusan besar ini. Transparansi juga membangun kepercayaan antara orangtua dan anak dalam jangka panjang.

2. Dengarkan perasaan anak tanpa menghakimi

ilustrasi ngobrol dengan anak di balkon rumah (pexels.com/Anna Tarazevich)

Setelah rencana pindah disampaikan, beri ruang bagi anak untuk mencerna dan mengungkapkan perasaannya. Persiapkan diri sebab anak mungkin merasa sedih, marah, atau takut kehilangan teman dan rutinitas. Semua emosi tersebut valid dan perlu diterima tanpa penilaian. Saat inilah peran orangtua menjadi begitu penting untuk membantu anak mengolah emosi.

Orangtua sebaiknya tidak langsung menyanggah atau meremehkan perasaan anak. Kalimat sederhana dapat membantu anak merasa lebih tenang. Kemudian, dengarkan dengan penuh perhatian agar membuat anak merasa dipahami. Dari proses ini, anak belajar bahwa perasaannya penting dan diakui oleh orangtuanya.

3. Libatkan anak dalam proses persiapan pindah

ilustrasi berkemas (pexels.com/Ivan Samkov)

Melibatkan anak dalam proses pindah dapat membantu mereka merasa memiliki kontrol atas perubahan yang akan dihadapi. Misalnya, ajak anak memilih barang yang ingin dibawa atau membantu menentukan dekorasi kamar baru. Hal kecil seperti ini bisa memberikan rasa aman dan keterlibatan emosional selama proses transisi ini.

Ketika anak merasa dilibatkan, pindah tidak lagi terasa sebagai keputusan sepihak dari orangtua. Mereka akan melihat proses pindah sebagai pengalaman bersama, bukan paksaan. Keterlibatan ini juga membantu anak beradaptasi lebih cepat dengan lingkungan baru.

4. Gambarkan hal positif tanpa memaksakan optimisme

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Arina Krasnikova)

Orangtua boleh menceritakan hal-hal positif dari kota baru, seperti lingkungan yang lebih nyaman atau kesempatan baru. Namun, penyampaiannya perlu seimbang, wajar, dan tidak berlebihan. Terlalu memaksakan sisi positif justru bisa membuat anak merasa perasaannya diabaikan.

Biarkan anak memahami bahwa pindah memang membawa tantangan sekaligus peluang. Pendekatan yang realistis membantu anak menyiapkan ekspektasi dengan lebih sehat. Dengan begitu, anak belajar menghadapi perubahan secara dewasa dan bertahap.

Memberitahu anak tentang rencana pindah ke luar kota membutuhkan empati, kesabaran, dan komunikasi yang terbuka. Ketika anak merasa dilibatkan dan didengarkan, proses pindah tidak lagi menjadi momok yang menakutkan. Jika kamu sedang berada di fase ini, mulailah dengan komunikasi yang hangat agar anak tumbuh lebih siap menghadapi perubahan besar dalam hidupnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian