Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi ibu dan anak membaca buku (pexels.com/olly)
ilustrasi ibu dan anak membaca buku (pexels.com/olly)

Belajar membaca dimulai dari kemampuan mengenali dan mengolah bunyi. Di fase awal inilah phonics berperan sebagai fondasi penting sebelum anak lancar membaca dan menulis. Dukungan orangtua di rumah membuat proses belajar ini terasa lebih natural dan menyenangkan.

Phonics tidak harus dipelajari lewat cara yang kaku. Aktivitas sederhana sehari-hari bisa menjadi sarana belajar yang efektif jika dilakukan secara konsisten. Dengan pendekatan yang tepat, anak akan lebih percaya diri mengenal bunyi, huruf, dan kata. Yuk, ketahui tips mendukung anak belajar phonics lewat artikel berikut!

1. Pastikan orangtua mengucapkan bunyi dengan tepat

ilustrasi ibu dan anak menggunakan laptop (pexels.com/nicolabarts)

Metode phonics menekankan pengucapan bunyi murni, bukan nama huruf. Karena itu, orangtua perlu membiasakan diri mengucapkan bunyi seperti “mmm” atau “sss” tanpa tambahan vokal. Cara ini membantu anak memahami hubungan antara bunyi dan huruf sejak awal.

“Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa anak mampu menguraikan bunyi, meskipun mereka tidak mengetahui arti kata tersebut,” kata Andrew Lambirth, profesor pendidikan di University of Greenwich, dikutip dari BBC.

Beberapa bunyi seperti f, l, m, n, dan s sering keliru diucapkan dengan tambahan “uh”. Kesalahan kecil ini bisa membingungkan anak saat belajar mengeja. Dengan pelafalan yang tepat, anak lebih mudah menggabungkan bunyi menjadi kata.

2. Beri contoh langsung saat anak belajar

ilustrasi ibu dan anak menghabiskan waktu bersama (pexels.com/nicolabarts)

Anak belajar paling efektif melalui apa yang mereka lihat dan dengar. Saat mengucapkan bunyi atau mengeja kata, pastikan anak bisa melihat gerakan mulut orangtua. Hal ini membantu anak memahami perbedaan bunyi secara visual.

Orangtua tidak perlu takut melakukan kesalahan saat mendampingi anak. Justru, memperbaiki kesalahan di depan anak menunjukkan bahwa belajar adalah proses. Anak pun akan merasa lebih nyaman mencoba tanpa takut salah.

3. Libatkan anak bermain dengan berbagai bunyi

ilustrasi ibu dan anak membaca buku (pexels.com/olly)

Belajar phonics tidak selalu harus menggunakan huruf. Anak sebenarnya sudah belajar membedakan bunyi sejak lahir, seperti suara hujan atau kicau burung. Kepekaan terhadap bunyi ini menjadi dasar penting dalam belajar membaca.

Orangtua bisa mengajak anak bernyanyi, bermain rima, atau menggunakan alat musik sederhana. Mendengarkan cerita dan ikut mengulang bunyi tertentu juga sangat membantu. Aktivitas ini membuat belajar phonics terasa seperti bermain.

4. Jadikan membaca sebagai aktivitas menyenangkan

ilustrasi anak membaca (pexels.com/olly)

Membaca bersama anak sebaiknya dilakukan dalam suasana santai. Orangtua bisa membaca di tempat yang berbeda agar anak tidak bosan. Semakin menyenangkan suasananya, semakin besar minat anak terhadap membaca.

Bahan bacaan juga tidak harus selalu berupa buku cerita. Tulisan di sekitar rumah, seperti label, poster, atau rambu jalan, bisa dijadikan bahan belajar. Cara ini membantu anak memahami bahwa membaca adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Riset menunjukkan bahwa anak yang lahir dalam keluarga di mana membaca dan membicarakan buku adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, sudah memiliki budaya membaca yang menyenangkan,” kata Lambirth.

5. Sesuaikan pembelajaran dengan kemampuan anak

Ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/pixabay)

Setiap anak memiliki kecepatan belajar yang berbeda. Orangtua perlu menyesuaikan tingkat kesulitan kata dengan kemampuan anak. Terlalu memaksa justru bisa menurunkan rasa percaya diri anak.

Pengulangan adalah bagian penting dalam belajar phonics. Agar tidak membosankan, pengulangan bisa dikemas dalam bentuk permainan sederhana. Dengan dukungan yang tepat, anak akan lebih percaya diri dan menikmati proses belajar membaca.

Mendukung anak belajar phonics di rumah bukan tentang hasil instan, melainkan proses yang menyenangkan dan konsisten. Dengan peran orangtua yang tepat, minat baca anak bisa tumbuh secara alami sejak dini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team