4 Trauma Tersembunyi Akibat Immature Parenting Saat Dewasa

- Terobsesi dan mengontrol:
Orang tua yang menerapkan 'helicopter parenting' menuntut keunggulan, kesempurnaan, dan sering marah. Anak-anaknya cenderung perfeksionis, beprestasi tinggi, dan berjuang dengan perilaku kompulsif. - Kesulitan dalam mengelola emosi:
Orang tua dengan emosi tidak terkendali dapat membuat anak dewasa mudah cemas, depresi, atau mengalami disregulasi emosional. Hal ini juga berdampak negatif pada hubungan romantis. - Penolakan:
Anak dari orang tua yang bersikap menolak mungkin tumbuh sebagai individu yang memiliki empati terbatas, tampak egois, sulit menjalin hubungan, dan sulit mempertahankan keterik
Banyak dari kita yang secara tak sadar tumbuh di bawah pengasuhan atau parenting yang belum dewasa secara emosional. Orang tua yang belum dewasa secara emosional sering kali mengasuh dari tempat trauma keterikatan mereka sendiri. Bisa jadi berasal dari pengalaman saat dibentak orang tua atau menerima penolakan dari orang tua mereka.
Untuk dapat memahami bagaimana pola pengasuhan yang tidak matang secara emosional dapat memengaruhi kehidupan dewasa di kemudahan hari, penting untuk menyadari trauma penyebabnya. Sebab, jika luka dari trauma di masa lalu orang tua tak kunjung diatasi, pola asuh tidak dewasa ini dapat terus berlanjut dari satu generasi ke generasinya lainnya.
1. Terobsesi dan mengontrol

Orang tua yang memiliki obsesi berlebihan dan terlalu mengontrol sering disebut menerapkan ‘helicopter parenting’. Orang tua seperti ini biasanya menuntut keunggulan dan kesempurnaan, bahkan menetapkan ekspektasi tinggi yang tidak realistis. Tidak hanya pada anak-anak mereka, tetapi juga pada diri mereka sendiri. Orang tua seperti ini sering kali mudah marah dan memberi banyak hukuman.
Di masa dewasa, anak-anak yang dibesarkan dengan tipe pengasuhan ini sering menjadi perfeksionis, beprestasi tinggi, dan sangat kritis terhadap diri mereka sendiri. Sebagian juga berjuang dengan perilaku kompulsif, seperti kecanduan bekerja atau belanja yang menjadi semacam copying mechanism untuk memastikan perasaan dan merasa berharga.
2. Kesulitan dalam mengelola emosi

Orang tua yang mengalami disregulasi emosional dapat berfluktuasi dari tindakan ekstrem satu ke tindakan ekstrem lainnya. Orang tua tipe ini mungkin tampak terlalu dramatis, bereaksi berlebihan terhadap suatu situasi, atau tampak tidak berdaya dan ‘tidak membutuhkan’. Di sisi lain, orang tua yang mengalam disregulasi emosional juga dapat menjadi tampak jauh, sinis, acuh tak acuh, atau dingin terhadap anak.
Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua dengan emosi tidak terkendali dapat tumbuh sebagai orang dewasa yang mudah cemas, depresi, atau mengalami disregulasi emosional. Kamu mungkin bergumul dalam masalah kemarahan atau merasa terputus dari emosi, terutama yang rentan. Kondisi ini dapat berdampak negatif pada kematangan emosional dari hubungan romantis yang dijalin.
3. Penolakan

Orang tua yang bersikap menolak biasanya tampil sebagai pribadi yang acuh tak acuh terhadap anak mereka. Tipe orang tua ini lebih sering menjauh dari anak-anaknya, menghabiskan waktu sendirian, atau tidak mau diganggu dengan pengasuhan dan emosi. Orang tua yang bersikap menolak sering kali juga memiliki trauma ditolak oleh orang tua mereka sendiri dan tumbuh dewasa sendirian.
Saat dewasa, anak-anak dari immature parenting seperti ini mungkin akan tumbuh sebagai orang yang memiliki empati terbatas terhadap kebutuhan orang lain. Individu ini juga cenderung bimbang saat menjalin hubungan, tampak egois atau mementingkan diri sendiri, dan menjadi orang tua yang menolak secara emosional. Tak jarang mempertahankan keterikatan dengan pasangan pun sulit untuk mereka.
4. Lalai dan pasif

Orang tua yang lalai secara emosional atau fisik dan pasif cenderung menghindari konfrontasi dan mungkin tampak mudah diajak bergaul. Mereka kebanyakan kurang memiliki batasan yang sehat dan konsisten. Pengasuhan yang direduksi menjadi apa yang diinginkan orang tua dengan hanya sedikit pertimbangan apa yang diinginkan anak. Selain itu orang tua tipe ini juga sering tampak kekanak-kanakan.
Dibesarkan oleh orang tua yang lalai baik secara fisik dan emosional, dapat meningkatkan risiko kecemasan, depresi, atau diagnosis kesehatan mental lainnya saat anak dewasa. Tak jarang, anak-anak ini juga tumbuh dengan perasaan marah yang intens terhadap orang tua maupun diri sendiri. Kamu akan tumbuh menjadi pribadi yang sulit mengekspresikan emosi.
Kamu tidak bisa memilih dari orang tua seperti apa kita akan dilahirkan. Namun, kamu bisa memilih untuk belajar menjadi orang tua seperti apa untuk anak-anak kelak. Dengan memahami bagaimana pengaruh emosional yang belum matang saat menjadi orang tua terhadap kehidupan anak di masa depan. Kamu setidaknya bisa berbenah untuk berupaya menjadi orang tua yang lebih ideal bagi masa depan anak-anak yang lebih baik.


















