Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Alasan Tumbuh Kembang Anak Gak Bisa Jadi Tolok Ukur Keberhasilan Parenting
ilustrasi ibu memakaikan baju pada anak (pexels.com/ekaterina-bolovtsova)
  • Tonggak perkembangan adalah panduan pemantauan, bukan standar mutlak; setiap anak memiliki kecepatan berbeda dan perkembangannya dapat berlangsung tidak linear.
  • Satu kemampuan, seperti berjalan atau berbicara, tidak mewakili seluruh tumbuh kembang maupun menentukan kecerdasan dan keberhasilan anak di masa depan.
  • Orangtua perlu mengamati perkembangan secara menyeluruh, memberi stimulasi sesuai kebutuhan, serta berkonsultasi dengan dokter bila ada keterlambatan tanpa menyalahkan diri sendiri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bagi orangtua, melihat anak tumbuh sehat dan mulai menguasai berbagai kemampuan baru, tentu menjadi kebahagiaan tersendiri. Namun, ketika anak seusianya sudah bisa berjalan, berbicara, atau melakukan hal-hal tertentu, sementara si kecil belum, gak sedikit orangtua yang mulai merasa khawatir dan mempertanyakan pola asuhnya.

Padahal, setiap anak memiliki proses tumbuh kembang yang berbeda-beda dan gak semuanya harus sesuai dengan patokan usia secara kaku. Supaya kamu dan pasangan gak terus-menerus membandingkan perkembangan si kecil dengan anak lain, pahami alasan mengapa tumbuh kembang anak gak bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan parenting berikut ini!

1. Setiap anak memiliki kecepatan tumbuh kembang yang berbeda

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/karola-g)

Tonggak perkembangan (developmental milestones) merupakan panduan bagi orangtua dan tenaga kesehatan untuk memantau kemampuan anak sesuai usianya, bukan patokan mutlak yang harus dicapai semua anak. Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan berbeda, termasuk dalam menguasai keterampilan motorik.

Misalnya, anak umumnya mulai berjalan sekitar usia satu tahun, tetapi waktu pencapaiannya bisa berbeda-beda. Jadi, jika si kecil belum bisa berjalan seperti teman sebayanya, bukan berarti orangtua gagal dalam mengasuhnya. Tetap pantau perkembangannya dan konsultasikan dengan dokter anak jika ada hal yang mengkhawatirkan.

"Tonggak perkembangan tidak memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan, melainkan hanya menjadi indikator tentang posisi perkembangan anak saat ini dan bahwa ia terus melewati berbagai tahapan," ujar Damon Korb, MD, seorang dokter spesialis anak di bidang perkembangan dan perilaku, penulis buku Raising an Organized Child, dikutip dari Motherly.

2. Perkembangan anak gak selalu berjalan secara linear

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/karola-g)

Orangtua mungkin mengira perkembangan anak berlangsung berurutan, mulai dari berguling, duduk, merangkak, hingga berjalan. Padahal, perkembangan bisa mengalami kemajuan dan kemunduran kecil, sementara setiap kemampuan tumbuh dengan kecepatan berbeda.

Misalnya, anak mulai aktif berbicara, tetapi perkembangan motoriknya tampak lebih lambat. Kondisi ini gak selalu menandakan masalah, jadi orangtua gak perlu langsung menyalahkan pola asuh ketika perkembangan si kecil terlihat gak konsisten.

"Perkembangan berlangsung dalam siklus, bukan dalam garis lurus," ujar Mona Delahooke, PhD, psikolog anak dan penulis buku Beyond Behaviors: Using Brain Science and Compassion to Change Children’s Behavioral Challenges, dikutip dari Motherly.

3. Pencapaian satu kemampuan gak menggambarkan seluruh perkembangan anak

ilustrasi anak bermain xylophone (pexels.com/karola-g)

Tonggak perkembangan hanya menggambarkan sebagian kemampuan anak, bukan keseluruhan proses tumbuh kembangnya. Meski belum lancar berbicara, misalnya, anak mungkin sudah bisa berkomunikasi lewat gestur, menunjuk benda, atau ekspresi wajah.

Daripada sekadar menghitung jumlah kata yang diucapkan si kecil, kamu dan pasangan bisa mengamati cara ia menyampaikan keinginan, berinteraksi, dan merespons lingkungan. Dengan begitu, orangtua bisa memahami kemampuan yang sudah dikuasai dan dukungan yang dibutuhkan tanpa menilai keberhasilan parenting dari satu pencapaian saja.

"Cobalah melihat gambaran yang lebih besar untuk mengetahui apakah anak mau berinteraksi, memahami banyak hal yang disampaikan kepadanya, dan mulai mempelajari kata-kata baru," ujar Katherine Williamson, MD, FAAP, seorang dokter anak di California dan juru bicara American Academy of Pediatrics, dikutip dari Motherly.

4. Anak yang lebih cepat mencapai milestone belum tentu lebih sukses di masa depan

ilustrasi anak sedang bermain (pexels.com/tatianasyrikova)

Anak yang lebih cepat berjalan, berbicara, atau membaca mungkin membuat orangtua bangga dan berharap ia memiliki masa depan gemilang. Sebaliknya, anak yang membutuhkan waktu lebih lama, bisa membuat orangtua khawatir, padahal waktu pencapaian milestone gak bisa menjadi patokan kecerdasan atau keberhasilan anak di masa depan.

Anak yang lebih cepat berbicara, gak otomatis lebih cerdas. Begitu pula anak yang lebih lambat menguasai keterampilan tertentu, belum tentu mengalami kesulitan di kemudian hari. Daripada membandingkan pencapaian anak, orangtua sebaiknya memberi ruang bagi si kecil untuk belajar, bereksplorasi, dan mengembangkan potensinya sesuai kebutuhan.

5. Keterlambatan perkembangan perlu diperhatikan, bukan dijadikan alasan untuk menyalahkan diri sendiri

ilustrasi ibu memakaikan baju pada anak (pexels.com/ekaterina-bolovtsova)

Meski tumbuh kembang anak bukan tolok ukur keberhasilan parenting, orangtua tetap perlu memperhatikan kemungkinan keterlambatan perkembangan. Jika si kecil belum mencapai kemampuan tertentu sesuai rentang usianya, konsultasikan dengan dokter anak untuk mengetahui apakah diperlukan pemeriksaan atau intervensi lebih lanjut.

Jika anak membutuhkan dukungan khusus, orangtua gak perlu menyalahkan diri sendiri atau menganggap masa depannya sudah ditentukan. Dengan evaluasi dan pendampingan yang tepat, si kecil bisa mengembangkan kemampuannya secara optimal.

Tumbuh kembang anak bukanlah perlombaan. Jadi, kamu dan pasangan gak perlu membandingkan pencapaian si kecil dengan anak lain atau menyalahkan diri sendiri. Fokuslah mendampingi tumbuh kembangnya, memberikan stimulasi yang tepat, dan berkonsultasi dengan dokter jika diperlukan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article