5 Janji pada Diri Sendiri agar Luka Emosional Kita Tak Turun ke Anak

- Berjanji untuk berhenti membandingkan anak dengan orang lain
- Berjanji untuk lebih banyak mendengar daripada sekadar menghakimi
- Berjanji untuk tidak menjadikan anak sebagai pelampiasan amarah
Menyadari bahwa kita membawa luka dari masa lalu adalah langkah awal yang sangat berani bagi sebagai orangtua. Sering kali tanpa sengaja, kita mengulangi pola asuh yang dulu pernah membuat kita merasa kecil dan tidak berharga. Kita tentu tidak ingin melihat anak kita merasakan kesedihan yang sama seperti yang kita simpan sendiri selama ini.
Memutus rantai trauma ini membutuhkan kesadaran penuh untuk tidak lagi menggunakan amarah sebagai senjata saat mendidik anak. Jika dibiarkan, luka lama yang kita bawa bisa menjadi beban berat yang merusak masa depan dan keceriaan buah hati. Inilah saatnya kita berkomitmen untuk berubah agar kepedihan masa lalu berhenti di kita saja, yuk simak ulasannya di bawah ini.
1. Berjanji untuk berhenti membandingkan anak dengan orang lain

Dulu mungkin kita tumbuh dengan rasa tidak percaya diri karena selalu dianggap kurang jika dibandingkan dengan saudara atau teman. Luka itu membuat kita selalu merasa harus menjadi sempurna hanya untuk mendapatkan sedikit perhatian atau pujian dari orangtua. Kita tahu betul betapa sesaknya saat usaha keras kita tidak pernah terlihat cukup di mata mereka yang paling kita cintai.
Mulai sekarang, mari berjanji untuk menghargai setiap usaha dan langkah kecil yang sudah anak kita lakukan. Jangan lagi hanya melihat hasil akhirnya saja, tapi berikan pujian tulus bahkan saat mereka baru mencoba memulai sesuatu. Dengan begitu, mereka akan tumbuh dengan rasa percaya diri yang kuat karena merasa sepenuhnya diterima dan dicintai apa adanya.
2. Berjanji untuk lebih banyak mendengar daripada sekadar menghakimi

Banyak dari kita yang besar di lingkungan di mana suara anak kecil sering kali dianggap angin lalu atau tidak penting. Kita sering dipaksa untuk selalu patuh tanpa diberikan kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sedang mengganjal di dalam hati. Akibatnya, kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih suka memendam masalah karena takut akan disalahkan jika berani berbicara jujur.
Mari kita berjanji untuk memberikan telinga dan hati yang tulus saat anak ingin menceritakan hari-harinya yang sederhana. Jangan lagi kita langsung memotong pembicaraan atau menyalahkan mereka sebelum kita benar-benar mengerti apa yang sedang mereka rasakan. Saat mereka merasa didengar tanpa dihakimi, anak akan belajar bahwa kita adalah tempat pulang paling aman untuk mencurahkan segala keluh kesah.
3. Berjanji untuk tidak menjadikan anak sebagai pelampiasan amarah

Sering kali kita tidak sadar bahwa amarah yang kita tumpahkan pada anak sebenarnya adalah sisa kelelahan atau kekesalan kita pada hal lain. Luka lama itu membuat kita mudah sekali meledak hanya karena kesalahan sepele yang dilakukan anak saat mereka sedang bermain. Tanpa sadar, kita menjadikan jiwa yang masih polos itu sebagai tempat penampungan rasa kesal yang seharusnya bisa kita kelola sendiri.
Kita harus berjanji untuk mengambil jeda sejenak dan menenangkan diri sebelum menghadapi anak saat emosi sedang meluap. Anak-anak berhak mendapatkan senyum hangat dari orangtua, bukan rasa takut yang muncul setiap kali kita menunjukkan wajah yang penuh amarah. Mengontrol diri adalah bentuk kasih sayang paling nyata agar anak-anak kita selalu merasa tenang dan terlindungi saat berada di dalam rumah.
4. Berjanji untuk rendah hati dan mau meminta maaf saat berbuat salah

Gengsi untuk mengakui kesalahan sering kali menjadi tembok besar yang menjauhkan hubungan antara kita dengan anak. Dulu kita mungkin sering disalahkan meski benar, dan sangat jarang mendengar kata maaf keluar dari mulut orangtua kita sendiri. Hal ini membuat kita tumbuh dengan rasa tidak adil yang membekas dan membuat kita sulit untuk terbuka pada mereka.
Mulai saat ini, mari berjanji untuk tidak malu meminta maaf dengan tulus jika kita tidak sengaja bersikap kasar atau keliru. Meminta maaf tidak akan membuat kita kehilangan harga diri, melainkan justru mengajarkan anak tentang arti kejujuran dan rasa tanggung jawab. Tindakan sederhana ini akan menghapus banyak luka sekaligus membangun ikatan batin yang jauh lebih kuat dan hangat dengan anak.
5. Berjanji untuk tidak menuntut anak menjadi pengganti mimpi kita

Terkadang kita tanpa sadar memaksakan keinginan yang dulu gagal kita raih agar bisa diwujudkan oleh anak-anak kita sekarang. Kita ingin mereka menjadi apa yang kita mau, bukan mendukung apa yang sebenarnya menjadi minat dan bakat alami mereka. Hal ini sering kali membuat anak merasa terbebani karena harus memikul impian orang lain di pundak mereka.
Mari berjanji untuk memberi mereka kebebasan dalam memilih jalan hidup dan impian yang ingin mereka kejar sendiri. Tugas kita adalah menjadi pendukung nomor satu yang selalu ada untuk mengarahkan, bukan pengatur yang menentukan setiap langkah kaki mereka. Saat anak merasa didukung untuk menjadi dirinya sendiri, mereka akan menjalani hidup dengan penuh semangat dan rasa syukur.
Mengubah kebiasaan lama memang bukan perkara mudah, apalagi jika luka tersebut sudah mengakar kuat sejak kita masih kecil. Namun, keberanian kita untuk berproses hari ini adalah jaminan agar anak-anak tidak perlu lagi memikul beban emosional yang seharusnya sudah berhenti di generasi kita. Semoga dengan menjaga setiap janji tulus ini, kita bisa memberikan masa kecil yang jauh lebih indah dan penuh kedamaian bagi jiwa-jiwa kecil yang sangat mencintai kita.


















