Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Cara Stop Doom Spending agar Tak Terjebak Utang Paylater
ilustrasi bingung cara stop doom spending karena stres (pexels.com/Gustavo Fring)
  • Doom spending akibat stres dapat memicu belanja impulsif, menguras dompet, dan berisiko menjerat pengguna dalam utang paylater.
  • Menunda pembayaran selama 24 jam serta mengurangi paparan promo dan akun belanja di media sosial membantu meredam dorongan membeli karena emosi.
  • Stres dapat dialihkan ke aktivitas fisik sederhana, sementara pencatatan emosi dan pengeluaran membantu mengenali pemicu belanja impulsif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat banyak pikiran, kamu tiba-tiba check out keranjang e-commerce. Saat itu, kamu merasa membutuhkan, padahal barang yang kamu beli hanyalah pelarian sementara dan belum tentu benar-benar dibutuhkan. Kalau kebiasaan retail therapy berlebihan ini gak segera diatasi, dompet kamu yang bakal menjerit di akhir bulan, lho.

Kamu bisa terjebak dalam siklus utang dan jeratan paylater yang bikin kepala makin pusing dari sebelumnya. Mumpung sebentar lagi memperingati Hari Keuangan Nasional atau Hari Oeang pada 30 Oktober 2026 nanti, mulai berbenah dengan cara stop doom spending karena stres agar kondisi finansialmu kembali sehat.


1. Kasih jeda 24 jam sebelum bayar

ilustrasi terapkan waktu sebelum belanja online (pexels.com/Ivan)

Saat merasa emosional, otak sering kehilangan kontrol rasional sehingga impulsif membeli barang. Memberi jeda waktu sekitar 24 jam bisa jadi trik ampuh untuk meredam keinginan sesaat tersebut. Dalam rentang waktu ini, kamu punya kesempatan buat berpikir lebih jernih tanpa tekanan emosi berlebih. Jadi, tanyakan lagi pada dirimu apakah barang itu benar-benar penting atau cuma sekadar hasrat pelampiasan semata.

Untuk menghentikan kebiasaan ini, kamu perlu memasukkan barang ke keranjang belanja tapi jangan langsung ditekan tombol bayarnya. Coba tinggalkan dulu untuk melakukan kegiatan lainnya, seperti nonton maraton series, baca buku, atau bahkan dibawa tidur semalaman. Biasanya besok paginya, keinginan menggebu-gebu buat beli barang itu bakal hilang atau jauh berkurang secara otomatis, kok.


2. Unfollow akun racun di media sosial

ilustrasi unfollow akun Instagram yang membuatmu gak nyaman (pexels.com/RDNE Stock project)

Paparan informasi yang terus-menerus tentang barang diskonan atau haul belanja sering banget bikin iman goyah. Media sosial punya algoritma yang dirancang khusus untuk memunculkan iklan pemicu FOMO (Fear of Missing Out). Kamu perlu secara sadar mengurangi godaan ini dengan mulai unfollow akun-akun yang sering menebar racun belanja. 

Langkah kecil ini adalah bentuk detoks digital demi menjaga kewarasan pikiran dan ketebalan dompetmu, lho. Sebagai contoh, kamu bisa menonaktifkan notifikasi promo flash sale dari aplikasi belanja online di HP kamu. Percaya deh, gak tahu info promo menggiurkan itu gak akan bikin hidupmu berakhir hari ini juga, kok.


3. Alihkan stres ke aktivitas fisik

ilustrasi jalan santai dengan teman (pexels.com/Keira Burton)

Pelampiasan emosi negatif gak melulu harus diakhiri dengan transaksi finansial yang menguras kantong pribadi. Kamu bisa mengganti kebiasaan buruk ini dengan mencari aktivitas fisik yang memicu hormon endorfin secara alami. Olahraga atau sekadar berjalan kaki di sore hari terbukti secara ilmiah mampu menurunkan kadar kortisol penyebab stres. 

Gak perlu repot daftar gym mahal atau ikut kelas studio elite yang malah bikin pengeluaran baru lagi, kok. Kamu cukup jogging santai keliling kompleks, beres-beres kamar sambil putar lagu favorit, atau coba home workout dari YouTube. Selain bikin badan jadi lebih bugar, pikiranmu juga perlahan akan kembali tenang dan lebih logis. 


4. Catat pemicu emosi dan pengeluaran

ilustrasi mencatat pemicu emosi yang kamu alami (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Memahami akar masalah menjadi langkah krusial sebelum kamu bisa benar-benar mengubah kebiasaan buruk secara permanen. Cobalah untuk menjadi pengamat bagi dirimu sendiri dengan membuat journaling atau catatan kecil di aplikasi ponsel. Setiap kali muncul dorongan kuat untuk belanja impulsif, catat persis apa yang sedang kamu rasakan saat itu. 

Apakah kamu sedang kesal sama pasangan, kewalahan dengan tugas dari bos, atau sekadar merasa kesepian di kosan? Nah, dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kamu jadi tahu pola yang tercatat ini. Alhasil,  kamu jadi lebih mudah mengenali "tombol" pemicu emosi yang bikin kamu jadi boros. Nantinya, saat perasaan penat serupa datang lagi, kamu sudah punya alarm awareness mandiri, deh. 

Menerapkan cara stop doom spending karena stres memang butuh proses panjang dan gak bisa instan. Namun, asalkan mau konsisten berlatih, kamu pasti bisa mengambil alih kembali kendali atas emosi sekaligus keuanganmu, kok. Semangat terus ya, kamu pasti bisa melewati fase berat ini tanpa harus bikin saldo tabunganmu menangis!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article