Momen pulang kampung sering kali identik dengan koper penuh barang dan tas tambahan berisi oleh-oleh. Ada semacam tekanan sosial yang terasa halus tapi nyata, seolah kepulangan harus disertai buah tangan dengan harga fantastis. Padahal, esensi pulang kampung bukan soal nilai materi, melainkan soal pertemuan, pelukan hangat, dan cerita yang akhirnya tersampaikan setelah lama terpisah jarak.
Budaya berbagi memang indah, tetapi ketika berubah menjadi beban finansial, maknanya bisa bergeser. Gak sedikit orang yang memaksakan diri membeli barang mahal demi menjaga gengsi atau citra di mata keluarga. Padahal, hubungan yang sehat gak pernah diukur dari harga suvenir atau merek yang menempel pada kemasan. Yuk, ubah cara pandang soal oleh-oleh dan nikmati momen pulang kampung dengan lebih ringan dan tulus!
