Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi perempuan lelah
ilustrasi perempuan lelah (pexels.com/cottonbro studio)

Intinya sih...

  • Lelah fisik berkurang setelah istirahat, tubuh terasa lebih ringan dan tenaga kembali terisi.

  • Lelah mental tetap terasa meski tubuh sudah tidur cukup, pikiran masih penuh dan emosi terasa berat.

  • Fokus biasanya menurun saat tubuh lelah, namun pada kelelahan psikis, fokus terasa buyar meski kondisi fisik baik-baik saja.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Rasa lelah sering dianggap hal wajar setelah menjalani hari yang padat dan penuh tuntutan. Banyak orang langsung mengira tubuhnya butuh istirahat fisik, padahal sumber capeknya belum tentu dari badan. Di balik aktivitas yang tampak biasa, kelelahan psikis bisa diam-diam menumpuk tanpa disadari. Jika terus diabaikan, kondisi ini bisa berdampak serius pada kesehatan jiwa.

Masalahnya, lelah fisik dan lelah mental sering terasa mirip di permukaan. Sama-sama bikin energi turun, fokus berkurang, dan mood jadi gak stabil. Padahal, cara mengatasinya bisa sangat berbeda tergantung sumber kelelahannya. Nah, yuk simak lima cara membedakan lelah fisik dan lelah mental agar kamu lebih peka terhadap kondisi diri sendiri.

1. Perhatikan respon tubuh setelah istirahat

ilustrasi perempuan (pexels.com/Valeria Ushakova)

Lelah fisik biasanya berkurang setelah kamu tidur cukup atau beristirahat sejenak. Tubuh terasa lebih ringan, tenaga kembali terisi, dan aktivitas bisa dijalani dengan lebih nyaman. Ini karena otot dan sistem tubuh memang butuh pemulihan secara biologis. Setelah istirahat, performa fisik pun cenderung membaik.

Sebaliknya, kelelahan psikis sering kali tetap terasa meski tubuh sudah tidur cukup. Pikiran masih penuh, emosi terasa berat, dan motivasi gak kunjung kembali. Kondisi ini jadi salah satu ciri-ciri lelah mental yang sering diabaikan. Kalau istirahat fisik gak banyak membantu, bisa jadi yang lelah adalah mentalmu.

2. Cek kondisi emosi dan suasana hati

ilustrasi perempuan sedih (freepik.com/freepik)

Capek fisik umumnya gak terlalu memengaruhi emosi secara mendalam. Kamu mungkin lesu, tapi tetap bisa merasa senang atau netral secara perasaan. Mood bisa membaik seiring energi tubuh kembali. Emosi pun relatif stabil meski badan terasa pegal.

Lelah mental justru sangat erat kaitannya dengan emosi yang gak menentu. Kamu jadi mudah marah, sensitif, atau merasa hampa tanpa alasan jelas. Ini sering muncul sebagai tanda awal burnout yang menyerang secara perlahan. Jika perasaan negatif bertahan lama, ini lebih dari sekadar capek badan.

3. Amati kemampuan fokus dan konsentrasi

ilustrasi laki-laki bekerja (pexels.com/Yan Krukau)

Saat tubuh lelah, fokus biasanya menurun karena energi fisik terkuras. Namun, setelah makan atau istirahat singkat, konsentrasi bisa kembali normal. Otak hanya butuh dukungan energi dari tubuh. Aktivitas berpikir pun masih terasa mungkin dilakukan.

Pada kelelahan psikis, fokus terasa buyar meski kondisi fisik baik-baik saja. Pikiran mudah terdistraksi, sulit mengambil keputusan, dan merasa kosong. Ini menjadi pembeda penting antara capek fisik dan psikis. Jika konsentrasi terus menurun, mentalmu mungkin sedang kelelahan.

4. Lihat reaksi terhadap aktivitas yang biasanya menyenangkan

ilustrasi perempuan me time (freepik.com/freepik)

Saat hanya lelah fisik, kamu tetap bisa menikmati hal-hal favorit meski dengan tenaga terbatas. Menonton film, mendengarkan musik, atau mengobrol ringan masih terasa menyenangkan. Tubuh memang capek, tapi minat tetap ada. Kesenangan sederhana masih bisa dinikmati.

Berbeda dengan lelah mental yang sering mematikan rasa antusias. Aktivitas yang dulu bikin senang kini terasa hambar atau bahkan melelahkan. Ini termasuk gejala umum kelelahan psikis yang sering luput disadari. Kehilangan minat bisa jadi sinyal serius untuk kondisi mentalmu.

5. Perhatikan durasi dan pola kelelahan

ilustrasi perempuan lelah bekerja (pexels.com/Ron Lach)

Capek fisik biasanya muncul setelah aktivitas tertentu dan bersifat sementara. Setelah pemicu hilang dan tubuh beristirahat, rasa lelah pun ikut mereda. Polanya jelas dan mudah dipahami. Tubuh memberi sinyal yang cukup konsisten.

Lelah mental cenderung berlangsung lama dan terasa menumpuk. Meski aktivitas terlihat ringan, rasa berat di kepala tetap ada. Pola ini sering muncul akibat tekanan emosional berkepanjangan. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa mengganggu kesehatan jiwa secara keseluruhan.

Memahami perbedaan lelah fisik dan lelah mental adalah langkah awal untuk merawat diri dengan lebih tepat. Tubuh dan pikiran sama-sama butuh perhatian agar bisa berfungsi seimbang. Mengenali ciri-ciri lelah mental sejak dini bisa mencegah dampak yang lebih serius. Saatnya lebih peka pada sinyal diri sendiri dan memberi ruang bagi kesehatan jiwa untuk tetap terjaga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team