Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Cara Mengelola Pikiran agar Terlepas dari Kebiasaan Overanalyzing
ilustrasi wanita (pexels.com/Anna Tarazevich)

Apa kamu salah satu tipe orang yang sering tersesat dalam labirin pikiranmu sendiri? Kamu selalu memikirkan hal sekecil apa pun, dari berbagai macam sudut pandang yang berbeda. Pada akhirnya, kebiasaan berpikir berlebihan atau overthinking seperti ini bisa memimpin pada stres, depresi, dan kecemasan berlebih.

Kamu selalu menganalisis satu hal secara berlebihan, yang membuatmu sulit untuk move on. Padahal, tidak semua hal harus dipikirkan. Justru penting untuk kamu memilah-milah. Berikut lima tips yang bisa kamu terapkan agar terbebas dari kebiasaan overanalyzing.

1.Fokuslah hanya pada apa yang ada sekarang

ilustrasi wanita (pexels.com/Engin Akyurt)

Terkadang, kebiasaan overthinking dimulai ketika kamu secara sengaja membiarkan pikiranmu terus memikirkan hal-hal yang sudah terjadi di masa lalu atau malah belum terjadi di masa depan. Kamu tidak bisa fokus pada apa yang ada di hadapanmu sekarang.

Contoh, terus mengingat-ingat obrolan dengan teman padahal itu sudah seminggu yang lalu. Hal ini yang membuatmu sulit untuk beranjak dari masa lalu. Untuk mengatasinya, kamu perlu secara sengaja memutus rangkaian pikiranmu sendiri.

Sadari bahwa apa yang sudah berlalu tidak bisa diulangi lagi. Yang bisa kamu lakukan hanya fokus pada masa sekarang sembari mempersiapkan masa depan.

2.Jangan terlalu keras pada diri sendiri

ilustrasi wanita (pexels.com/ Zeynep Sude Emek)

Beberapa orang tidak bisa beranjak dari masa lalu karena penyesalan. Mereka menganalisis berlebihan hingga sulit mengambil keputusan sendiri. Setiap kemungkinan dipertimbangkan pro-kontranya, hingga diri sendiri merasa kewalahan.

Sadarilah bahwa tidak ada keputusan yang sempurna. Meski bagus punya pertimbangan yang matang atas setiap pilihan, hal itu tidak ada gunanya bila membuatmu malah terjebak tanpa mengambil tindakan.

3.Ubah pikiran negatif menjadi realistis

ilustrasi wanita (pexels.com/George Milton)

Seringkali, hal-hal yang kita pikirkan atau takutkan tidak jelas sumbernya. Tapi anehnya, kamu percaya juga. Kamu terus pikirkan sampai stres sendiri.

Sesekali, tantanglah pemikiran burukmu dengan mempertimbangkan perspektif alternatif yang lebih seimbang. Lalu tanya dirimu, apa prediksi buruk itu datang berdasarkan bukti atau hanya ketakutan berlebih. Dengan ini, kamu akan terbiasa mengubah pemikiran negatif menjadi pemikiran yang lebih realistis dan rasional.

4.Berhenti menuntut kesempurnaan pada diri sendiri

ilustrasi wanita (pexels.com/George Milton)

Perfectionism bisa menjadi batu sandungan bagimu dan pikiranmu. Sebab terlalu berambisi mengejar kesempurnaan, kamu jadi tidak bisa menoleransi kesalahan sekecil apa pun.

Untuk mengatasi hal ini, kamu perlu menerapkan self-compassion. Berbuat baiklah pada dirimu. Tetapkan tujuan yang realistis dan rayakan setiap progress yang kamu buat. Terlepas hasilnya sempurna atau tidak, kamu jadi bisa belajar dan bertumbuh melalui proses itu.

5. Berhenti berusaha menyenangkan semua orang

ilustrasi wanita (pexels.com/Keira Burton)

Overanalyzing terkadang datang dari asumsi berlebih tentang orang lain. Kamu ingin mendapat validasi dan selalu dipandang baik oleh orang lain, yang pada akhirnya malah menjadi beban untuk dirimu sendiri.

Untuk apa peduli pada perkataan dan pandangan orang? Toh, setiap orang punya pendapat berbeda. Tidak akan pernah ada ujunglah bila fokusmu adalah menyenangkan orang. Alih-alih, terlibatlah dalam kegiatan positif yang meningkatkan kepercayaan dan harga dirimu. Lakukan itu bukan untuk orang lain, melainkan diri sendiri.

Rasanya pasti tidak enak terjebak dalam pikiran sendiri terlalu lama. Karena itu, jangan diteruskan! Tidak semua hal perlu dipikirkan, tidak semua hal harus dipikirkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team