Pemeliharaan mangrove oleh masyarakat dengan pola silvofishery. (dok. M4CR)
Asal kamu tahu, kita ternyata punya pahlawan penjaga ekosistem bumi yaitu Mangrove. Tanaman ini sangat penting karena mampu menyerap karbon hingga empat kali lebih banyak dibanding hutan hujan tropis, sekaligus menjadi benteng alami dari abrasi dan bencana pesisir.
Masalahnya, luas lahan tanaman mangrove terus berkurang karena alih fungsi lahan dan eksploitasi yang tidak terkendali. Dampaknya apa? Selain hilangnya ekologi, hilangnya ekosistem mangrove juga berdampak kepada sumber pangan masyarakat pesisir.
Untuk itu, Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) yang dijalankan Kementerian Kehutanan bersama World Bank berkomitmen untuk merehabilitasi mangrove di Indonesia. Program ini membuka ruang partisipasi bagi masyarakat dan komunitas lokal untuk ikut memulihkan ekosistem mangrove di berbagai wilayah pesisir Indonesia.
Salah satu contoh nyata dampak program ini datang dari Desa Kutai Lama, Kalimantan Timur. Di sana, M4CR mendampingi Kelompok Tani Hutan (KTH) Sinar Abab Mandiri dan melakukan rehabilitasi mangrove seluas 275 hektare. Metode silvofishery dipilih untuk memadukan penanaman mangrove dengan budidaya perikanan di lahan yang sama.
Pengelolaan hasil padi oleh anggota KTH Sinar Abab Mandiri (Dok.M4CR)
Bagi masyarakat di sana, menjaga kawasan mangrove bukan sesuatu yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Mereka juga mengelola berbagai sumber penghidupan, termasuk pertanian. Dari sinilah dukungan M4CR kemudian tidak berhenti pada rehabilitasi kawasan.
Melalui skema matching grant, KTH Sinar Abab Mandiri mendapat dukungan untuk membeli mesin rice polisher dan separator. Dengan alat tersebut, hasil panen padi dapat diolah dan dipilah langsung di lokasi tanpa harus membawa gabah menyusuri Sungai Mahakam ke darat.
PPIU Manager M4CR, Asman Azis, menegaskan bahwa keberlanjutan rehabilitasi mangrove sangat dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat dalam memperoleh manfaat nyata dari kawasan yang mereka jaga. “Pelaksanaan rehabilitasi mangrove M4CR juga memperhatikan sosial dan ekonomi, masyarakat dapat memperoleh manfaat dan memiliki alasan untuk terus menjaga kawasan tersebut. Ketika masyarakat memiliki sumber penghidupan yang berkelanjutan, maka upaya menjaga mangrove juga dapat tumbuh menjadi kesadaran dan inisiatif bersama,” ujarnya.
Inilah inti dari pendekatan M4CR. Ketika masyarakat punya alasan ekonomi yang kuat untuk menjaga mangrove, pelestarian lingkungan tumbuh bukan sebagai kewajiban tapi sebagai inisiatif bersama.