Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Jenis Pola Pikir yang Toxic, Kamu Mengalaminya? 

ilustrasi kesedihan (pixabay.com/3938030)
ilustrasi kesedihan (pixabay.com/3938030)

Sadar atau tidak, pola pikir merupakan setir utama yang menjadi pedoman dalam menjalankan kehidupan, lho. Ya, semua sikap dan tindakanmu itu berasal dari pengasuhan dan pemeliharaan sebuah pola pikir. Jika begitu, bagaimana kalau ternyata selama ini kamu tak sadar telah memiliki pola pikir yang toxic? Tentunya saat pola pikir itu dijalankan bisa merugikanmu dan orang sekitarmu, nih.

Lantas, bagaimana juga jika ternyata kamu ialah korban dari sikap dan tindakan orang lain yang memelihara pola pikir toxic? Coba simak ulasan dari lima jenis pola pikir toxic di bawah ini agar kamu tak mudah terperangkap olehnya.

1. Black and white thinking

ilustrasi masalah hidup (pixabay.com1388843/)
ilustrasi masalah hidup (pixabay.com1388843/)

Ada hitam dan ada putih yang menjadi standar penilaian dan praktiknya tak bisa dinegosiasi lagi. Ya, terdapat penilaian salah dan benar, baik dan buruk, menang dan kalah yang sudah tak bisa diganggu gugat. Sadar atau tidak, standar-standar penilaian yang ada di masyarakat umum dan kini turut memengaruhi pola pikirmu itu hanya akan merugikanmu sendiri, lho.

Bagi black and white thinking, seseorang yang gagal mendapatkan nilai A ya artinya dia bodoh. Padahal, di balik gagalnya memperoleh nilai A yang jika dikaji mungkin sejatinya nilainya A hanya saja terdapat alasan tak terduga yang berada di luar kendali. Dengan begitu, bukankah hukum black and white itu tak bisa disamarakatan? Coba pikirkan baik-baik.

2. Jumping to conclusions

ilustrasi orang bersedih (pixabay.com/StockSnap)
ilustrasi orang bersedih (pixabay.com/StockSnap)

Jumping to conclusions alias pemikiran yang langsung memberikan asumsi atas sebuah situasi atau kondisi tertentu. Apakah hal tersebut salah? Tentu saja iya. Bayangkan saja, ketika seseorang dengan pola pikirnya yang main berasumsi sendiri dan ternyata asumsinya itu berbalik 180 derajat dari kenyataannya? Tentu timbul banyak kerugian internal maupun eksternal di dalamnya.

Sederhananya, ketika kamu tidak diundang untuk pergi bersama, tak selalu artinya kamu sudah bukan anggota circle lagi. Kalau respons chat yang kamu dapatkan tak semesra kemarin, belum tentu artinya ia tengah marah hingga sudah berubah. Daripada sibuk berasumsi sendiri, lebih baik dikomunikasikan dengan pihak-pihak terkait bukan? Hati jadi lega dan asumsi bisa bertemu dengan faktanya.

3. Should-must

ilustrasi dunia kerja (pixabay.com/WebTechExperts)
ilustrasi dunia kerja (pixabay.com/WebTechExperts)

Coba tanyakan dalam hatimu yang paling dalam, hidup dengan penuh keharusan ini dan itu di setiap waktunya apakah bisa membuatmu nyaman dalam menjalaninya? Bukankah banyak rasa takut akan gagal menjalankan atau mendapatkan keharusan tersebut? Lantas mengapa masih memelihara should-must thinking? Rasanya karena tuntutan sekitar, nih.

Seperti usia kepala dua yang sudah harus menikah bagi perempuan. Pun usia kepala dua yang mengharuskan untuk mendapatkan kesuksesan dalam hidup, khususnya secara finansial. Padahal, adanya keharusan itu justru menghambat goal dari keharusan itu, lho. Bagaimana mungkin? Adanya keharusan mampu membuat pelakunya jadi melakukan dalam tekanan. Sebaliknya, tanpa adanya keharusan untuk berhasil, maka proses menuju kesuksesan akan terasa lebih enjoy. Nah, bukankah saat berkarya dengan enjoy akan lebih mudah untuk mendapatkan hasil yang maksimal? Iya rasanya.

4. Labeling

ilustrasi aku dan orang lain (pixabay.com/NoName_13)
ilustrasi aku dan orang lain (pixabay.com/NoName_13)

Seseorang dengan pola pikir yang suka memberikan label rasanya memiliki kepribadian yang sulit berkembang atau berubah. Bagaimana tidak, jika ia mampu memberikan label yang sama pada seseorang untuk sepanjang masanya. Padahal, setiap orang itu berubah, bahkan label yang diberikan itu belum tentu benar.

Misalnya saja orang introvert yang diberikan label tidak mampu berbicara di depan publik dengan baik. Kalau label tersebut benar, suatu hari ketika orang terkait belajar tentu ia akan memiliki kemampuan public speaking yang cukup baik. Lantas, apakah label itu akan hilang? Rasanya tidak dan akan terus melekat pada dirinya. Bahkan, label yang diberikan bisa jadi salah, karena tak semua orang introvert itu tak mampu berkomunikasi dengan baik.

5. Overgene ralization

ilustrasi kesedihan (pixabay.com/vdnhieu)
ilustrasi kesedihan (pixabay.com/vdnhieu)

Singkatnya, seseorang dengan pola pikir overgene realization akan membuat kesimpulannya sendiri berdasarkan apa yang dilihat atau dirasakan. Tentu saja kesimpulan yang diberikan itu belum tentu benar. Yang mana besar kemungkinannya kesimpulan yang diberikan bukan berdasar atas logika yang jernih, melainkan atas rasa emosional yang ada dalam hatinya.

Misalnya saja, generalisasi bahwa setiap cowok itu tak baik hanya karena pengalamannya pernah diselingkuhi oleh pasangannya. Pun kesimpulan bahwa hidupnya ditakdirkan untuk selalu mengalami kegagalan hanya karena melihat instannya kesuksesan anak si orang kaya. Yang namanya kesimpulan itu berlaku secara umum bukan? Iya rasanya. Kalau masih ada cowok baik yang setia dan orang miskin yang dengan usahanya bisa sukses, maka  overgene ralization thinking ialah sebuah kesalahan.

Jenis pola pikir yang toxic dengan dampak negatif berkepanjangan. Jadi, kamu pelaku dari pola pikir toxic atau justru korban sikap dan tindakan dari seseorang yang memelihara pola pikir toxic? Apa pun itu tetap kontrol kehidupanmu dengan baik, ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Melinda Fujiana
EditorMelinda Fujiana
Follow Us