ilustrasi penyandang disabilitas (pexels.com/Eren Li)
Trotoar sering dianggap tempat yang aman untuk berhenti sejenak, mengobrol, atau menunggu teman datang. Masalahnya, tidak semua trotoar memiliki lebar yang cukup untuk dilewati banyak orang sekaligus termasuk disabilitas. Saat beberapa orang berdiri bergerombol di satu titik, pengguna kursi roda, tongkat, maupun alat bantu jalan kerap harus mencari jalur alternatif yang belum tentu aman. Situasi seperti ini cukup sering terjadi di dekat halte, stasiun, gerbang sekolah, hingga area pusat perbelanjaan.
Bagi sebagian orang, bergeser beberapa langkah mungkin terdengar sepele. Namun bagi penyandang disabilitas, ruang yang terhalang bisa mengubah rute perjalanan mereka. Kebiasaan memberi ruang untuk orang lain melintas menunjukkan bahwa trotoar memang dibuat untuk digunakan bersama. Tidak perlu menunggu ditegur atau diminta terlebih dahulu. Kesadaran sederhana seperti ini membuat ruang publik terasa lebih nyaman tanpa mengurangi kenyamanan siapa pun.