Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bukan Belas Kasihan, Ini 5 Hal yang Disabilitas Sebenarnya Butuhkan

Bukan Belas Kasihan, Ini 5 Hal yang Disabilitas Sebenarnya Butuhkan
ilustrasi penyandang disabilitas (pexels.com/ SHVETS production)
Intinya Sih
  • Banyak penyandang disabilitas justru kehilangan kemandirian karena keluarga terlalu protektif, padahal yang mereka butuhkan adalah kesempatan untuk mandiri dan belajar dari pengalaman sendiri.
  • Fasilitas publik dan lingkungan kerja masih sering mengabaikan kebutuhan nyata penyandang disabilitas, membuat mereka terbatas bergerak dan kurang mendapat kesempatan setara dalam pekerjaan.
  • Media sosial dan bahasa sehari-hari masih menampilkan disabilitas secara keliru, memperkuat stereotip inspiratif atau negatif alih-alih menunjukkan kehidupan mereka yang wajar dan beragam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kesadaran disabilitas sering dianggap selesai cuma dengan menyediakan kursi roda atau jalur khusus di trotoar. Padahal yang sebenarnya dibutuhkan jauh lebih dari itu. Banyak orang merasa sudah cukup baik kalau sekadar bersikap sopan atau menunjukkan simpati, tanpa benar-benar paham apa yang diinginkan teman, saudara, atau rekan kerja yang punya disabilitas.

Padahal niat baik saja kadang malah jadi beban tersendiri buat mereka. Berikut beberapa hal yang jarang dibahas tapi penting untuk dipahami bersama.

1. Keluarga kerap memperlakukan anggota dengan disabilitas seperti anak kecil

ilustrasi penyandang disabilitas
ilustrasi penyandang disabilitas (pexels.com/SHVETS production)

Banyak keluarga yang punya anggota dengan disabilitas, terjebak dalam pola asuh yang terlalu protektif, bahkan setelah anggota tersebut dewasa. Keputusan kecil seperti mau makan apa, pergi ke mana, atau pakai baju apa kadang diambil alih oleh orangtua atau saudara dengan alasan "demi kebaikan". Niatnya mungkin baik, tapi efeknya bikin orang dengan disabilitas merasa kemampuannya diragukan terus-menerus, padahal mereka sudah lama bisa mengurus diri sendiri.

Hal ini lebih sering terjadi pada perempuan dengan disabilitas, yang kadang dianggap perlu dijaga dua kali lipat dibanding saudara laki-lakinya yang juga punya kondisi serupa. Akibatnya, banyak yang merasa kemandiriannya direbut pelan-pelan, sampai akhirnya kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri untuk mengambil keputusan. Padahal yang mereka butuhkan bukan dilindungi berlebihan, melainkan diberi kesempatan untuk gagal dan belajar seperti orang lain.

2. Tempat umum masih mengabaikan kebutuhan dasar penyandang disabilitas

ilustrasi penyandang disabilitas
ilustrasi penyandang disabilitas (pexels.com/Gustavo Fring)

Fasilitas publik di Indonesia sering hanya memenuhi standar minimal, tanpa benar-benar dipikirkan dari sudut pandang penggunanya. Jalur kursi roda yang dibangun kadang malah berakhir di tembok atau tangga, guiding block untuk tuna netra sering ditutupi pedagang kaki lima, dan toilet aksesibel sering dijadikan gudang. Ini bukan sekadar masalah teknis, tapi menunjukkan bahwa kebutuhan mereka belum benar-benar dianggap penting saat perencanaan dibuat.

Lalu yang lebih jarang disorot, banyak penyandang disabilitas akhirnya membatasi sendiri ke mana mereka mau pergi. Bukan karena tidak ingin, tapi karena sudah hafal tempat mana yang ramah dan mana yang akan menyulitkan. Pilihan ini sebenarnya bentuk kelelahan, bukan preferensi. Kalau fasilitas publik benar dirancang dengan mempertimbangkan semua orang, mereka tidak perlu menghitung-hitung risiko hanya untuk sekadar keluar rumah.

3. Rekan kerja mereka sering salah mengartikan bantuan yang sebenarnya dibutuhkan

ilustrasi penyandang disabilitas
ilustrasi penyandang disabilitas (pexels.com/Ivan S)

Di lingkungan kerja, disabilitas kadang membuat seseorang otomatis dikira butuh dibantu dalam segala hal, padahal yang mereka perlukan cuma penyesuaian kecil yang spesifik. Misalnya, seseorang dengan gangguan pendengaran mungkin hanya perlu rekan kerja bicara menghadap ke arahnya, bukan dibantu menyelesaikan semua tugasnya. Bantuan yang berlebihan dan tidak diminta justru bisa terasa merendahkan, seolah kemampuan kerja mereka diragukan duluan sebelum dicoba.

Masalah lain yang sering muncul, promosi atau tanggung jawab baru, kadang tidak ditawarkan ke karyawan dengan disabilitas karena atasan sudah berasumsi sendiri "kasihan, nanti kerepotan". Padahal keputusan itu seharusnya ada di tangan yang bersangkutan, bukan ditentukan sepihak atas nama kepedulian. Kesetaraan di tempat kerja berarti diberi kesempatan yang sama untuk mencoba dan menentukan batas sendiri, bukan otomatis dikecualikan dari tantangan.

4. Media sosial menampilkan disabilitas hanya sebagai konten inspirasi

ilustrasi media sosial
ilustrasi media sosial (pexels.com/Los Muertos Crew)

Konten tentang disabilitas yang viral di media sosial kebanyakan berformat sama, yaitu seseorang dengan disabilitas yang dianggap "menginspirasi" karena tetap bisa berprestasi meski punya keterbatasan. Format ini sebenarnya menyimpan masalah, sebab penyandang disabilitas tidak hidup untuk jadi bahan motivasi orang lain. Mereka cuma menjalani hidup biasa, dan tuntutan harus selalu terlihat inspiratif justru jadi tekanan yang tidak perlu.

Sisi yang jarang diangkat, banyak penyandang disabilitas justru merasa lelah dengan ekspektasi seperti itu. Hari yang biasa-biasa saja, momen mengeluh, atau bahkan gagal mencapai sesuatu jarang ditampilkan, padahal itu juga bagian dari hidup mereka yang sama wajarnya seperti orang lain. Representasi yang lebih jujur seharusnya menunjukkan keseharian yang utuh, bukan cuma versi yang paling layak dijadikan caption motivasi.

5. Bahasa sehari-hari tanpa sadar masih menyudutkan disabilitas

ilustrasi penyandang disabilitas
ilustrasi penyandang disabilitas (pexels.com/SHVETS production)

Banyak istilah yang dianggap biasa dalam percakapan sehari-hari sebenarnya berasal dari kondisi disabilitas dan dipakai secara negatif, seperti menyebut "cacat" atau "buta" . Kata-kata ini dipakai tanpa maksud menyakiti, tapi tetap memperkuat anggapan bahwa kondisi disabilitas identik dengan sesuatu yang buruk atau kurang. Lama-lama, ini membentuk cara pikir bahwa disabilitas adalah kekurangan yang pantas dijadikan bahan bercanda.

Perubahan kecil dalam pemilihan kata sebenarnya bisa berdampak besar untuk cara orang memandang disabilitas secara umum. Bukan berarti harus jadi terlalu hati-hati sampai canggung, tapi cukup sadar bahwa kata yang dipilih turut membentuk persepsi orang banyak. Kesadaran disabilitas dimulai dari hal sederhana seperti ini, jauh sebelum bicara soal kebijakan atau fasilitas yang lebih besar.

Pada akhirnya, kesadaran disabilitas bukan soal seberapa sering kita menunjukkan simpati, tapi seberapa mau kita mendengar apa yang sebenarnya dibutuhkan tanpa berasumsi duluan. Hal-hal kecil yang sering dianggap sepele ternyata yang paling sering bikin penyandang disabilitas merasa tidak benar-benar dilihat sebagai individu yang setara. Jadi, sudah berapa kali kita memberi bantuan yang tepat bagi mereka?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa

Related Articles

See More