Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Keluhan Sehari-hari yang Menunjukkan Seseorang Kurang Bersyukur

5 min read
5 Keluhan Sehari-hari yang Menunjukkan Seseorang Kurang Bersyukur
ilustrasi sebal (magnific.com/Drazen Zigic)
  • Keluhan terus-menerus tentang teman dan keluarga dapat menandakan fokus berlebihan pada kekurangan, hingga mengabaikan dukungan serta arti hubungan sosial yang sehat.
  • Membandingkan barang, mengeluh bosan, atau menuntut pengakuan berlebihan bisa membuat seseorang sulit menikmati manfaat yang sudah dimiliki dan niat baiknya.
  • Keluhan soal pekerjaan, kelelahan, atau kekecewaan tetap wajar; yang perlu diperhatikan adalah saat pola itu menutupi penghasilan, pengalaman, waktu luang, dan hal positif lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mengeluh sesekali sebenarnya hal yang sangat manusiawi. Adakalanya kamu memang merasa lelah, kecewa, bosan, atau kesal dengan keadaan tertentu. Namun, kalau hampir setiap percakapan selalu diisi keluhan, bisa jadi ada kebiasaan untuk lebih memperhatikan hal negatif daripada hal baik dalam hidup.

Sikap seperti ini juga bisa membuat seseorang sulit menyadari berbagai hal berharga yang sebenarnya sudah dimiliki. Karena itu, penting untuk mengenali beberapa keluhan sehari-hari yang mungkin menunjukkan kurangnya rasa syukur.

  1. 1. Teman dan keluarga selalu dianggap menyebalkan

    ilustrasi konflik dengan teman
    ilustrasi konflik dengan teman (pexels.com/Liza Summer)

    Setiap orang pasti pernah merasa kesal dengan teman atau anggota keluarga. Adakalanya sikap mereka memang bikin emosi, perkataan mereka kurang menyenangkan, atau kebiasaan tertentu terasa mengganggu. Namun, kalau setiap kali membicarakan orang terdekat isinya selalu keluhan, kamu mungkin sedang terlalu fokus pada kekurangannya. Padahal, hubungan tersebut bisa saja memberikan banyak dukungan dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

    Orang yang terbiasa melihat sisi negatif juga bisa lupa bahwa keberadaan teman dan keluarga punya arti penting. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), hubungan sosial yang sehat dapat membantu mendukung kesehatan dan kesejahteraan seseorang. Jadi, sesekali merasa kesal tentu wajar, tapi terus-menerus menganggap orang terdekat sebagai sumber masalah bisa membuatmu lupa menghargai hubungan tersebut. Cobalah mengingat kembali hal-hal baik yang pernah mereka lakukan ketika rasa kesal mulai mendominasi pikiran.

  2. 2. Barang yang dimiliki selalu dianggap kalah dari orang lain

    ilustrasi scrolling hp
    ilustrasi scrolling hp (pexels.com/Matheus Bertelli)

    Membandingkan diri dengan orang lain merupakan hal yang cukup umum, apalagi ketika kamu sering melihat kehidupan orang lain melalui media sosial. Melihat teman membeli ponsel baru, mengganti mobil, atau tinggal di rumah lebih bagus memang bisa memunculkan rasa iri. Masalahnya muncul ketika perbandingan tersebut membuat apa pun yang kamu miliki terasa tidak pernah cukup. Akhirnya, barang yang sebenarnya masih berfungsi dengan baik malah dianggap kurang hanya karena ada orang lain yang memiliki versi lebih mahal.

    Kebiasaan membandingkan diri seperti ini juga bisa membuatmu sulit menikmati apa yang sudah dimiliki. Dalam Verywell Mind dijelaskan bahwa social comparison dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri dan kehidupannya, terutama ketika terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain. Padahal, ponsel yang kamu gunakan mungkin masih sangat membantu pekerjaan, begitu pula kendaraan atau barang lain yang masih memenuhi kebutuhan. Rasa syukur bisa membantumu melihat manfaat sebuah barang tanpa harus terus mengukurnya berdasarkan kepunyaan orang lain.

  3. 3. Merasa bosan karena gak ada kegiatan

    ilustrasi bosan
    ilustrasi bosan (pexels.com/Alena Darmel)

    Bosan memang gak selalu berarti seseorang tidak bersyukur. Perasaan tersebut merupakan pengalaman yang normal dan bisa menjadi tanda bahwa kamu membutuhkan perubahan dalam aktivitas atau lingkungan. Profesor psikologi Erin Westgate, PhD, menjelaskan bahwa kebosanan dapat terasa gak nyaman seperti rasa sakit, tapi juga berfungsi sebagai sinyal bahwa sesuatu perlu diubah. Jadi, merasa bosan sesekali sebenarnya gak perlu dianggap sebagai masalah besar.

    Namun, terlalu larut dalam keluhan karena merasa gak punya kegiatan bisa membuatmu melewatkan sisi positif dari waktu luang. Seseorang dengan jadwal sangat padat dan penuh tekanan mungkin justru berharap bisa memiliki beberapa menit tanpa kewajiban. American Psychological Association juga membahas kebosanan sebagai pengalaman yang dapat memberikan sinyal tertentu tentang kebutuhan seseorang terhadap aktivitas yang lebih bermakna. Karena itu, daripada terus mengeluh gak ada kegiatan, kamu bisa menggunakan waktu tersebut untuk beristirahat, mencoba hobi, atau sekadar menikmati hidup yang sedang berjalan lebih pelan.

  4. 4. Kesal karena tidak mendapatkan pengakuan

    ilustrasi kesal
    ilustrasi kesal (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Mendapat apresiasi setelah membantu orang lain tentu terasa menyenangkan. Kamu juga wajar merasa kecewa ketika sudah berusaha keras tapi gak ada satu pun orang yang mengucapkan terima kasih. Perasaan tersebut gak otomatis menunjukkan bahwa kamu kurang bersyukur karena setiap orang memang ingin usahanya dihargai. Akan tetapi, kalau tidak mendapatkan pengakuan membuatmu terus mengungkit kebaikan sendiri, pola tersebut patut diperhatikan.

    Seseorang yang sulit bersyukur bisa terlalu terpaku pada penghargaan dari orang lain sampai melupakan alasan awal ketika membantu. Akibatnya, satu pengalaman gak diapresiasi dapat membuatnya enggan melakukan kebaikan berikutnya. Dalam Psychology Today dijelaskan bahwa kebutuhan untuk merasa dihargai merupakan bagian yang wajar dalam hubungan sosial, tapi kemampuan menghargai diri sendiri dan tetap memiliki niat baik juga penting. Jadi, apresiasi dari orang lain memang menyenangkan, tapi nilai dari kebaikan yang kamu lakukan gak selalu ditentukan oleh seberapa banyak pujian yang diterima, lho.

  5. 5. Setiap hari mengeluh karena harus bekerja

    ilustrasi stres kerjaan
    ilustrasi stres kerjaan (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Gak semua orang bangun pagi dengan perasaan bahagia karena harus pergi bekerja. Tekanan pekerjaan, perjalanan yang melelahkan, target yang menumpuk, sampai hubungan dengan rekan kerja memang bisa membuat aktivitas tersebut terasa berat. Bahkan, tekanan pekerjaan dalam jangka panjang dapat berkontribusi terhadap burnout. Mayo Clinic menjelaskan bahwa burnout berkaitan dengan stres pekerjaan kronis yang belum berhasil dikelola dengan baik.

    Keluhan soal pekerjaan juga tidak selalu berarti kamu gak bersyukur, ya. Namun, kalau setiap hari hanya melihat pekerjaan sebagai beban tanpa pernah mengakui manfaat yang diberikan, kamu mungkin sedang kehilangan perspektif yang lebih luas. Memiliki pekerjaan bisa memberikan penghasilan, rutinitas, pengalaman, dan rasa aman secara finansial, meskipun pekerjaannya belum sesuai dengan impian. Daripada memaksa diri untuk selalu mencintai pekerjaan, kamu bisa mencoba mengakui bagian yang memang berat sekaligus menghargai hal positif yang masih kamu dapatkan darinya.

    Pada akhirnya, bersyukur bukan berarti kamu harus selalu merasa bahagia atau dilarang mengeluh. Kamu tetap boleh kecewa ketika tidak dihargai, kesal kepada orang terdekat, bosan, atau merasa lelah dengan pekerjaan. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika keluhan tersebut menjadi kebiasaan sampai membuatmu gak lagi melihat hal baik yang masih ada dalam kehidupan. Dengan mulai menyadari pola tersebut, kamu bisa belajar melihat keadaan secara lebih seimbang dan menghargai apa yang selama ini sudah dimiliki.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More