Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Makna Speak Up Aurelie Moeremans, Cara Sembuh dari Masa Lalu Kelam

Aurelie Moeremans
Aurelie Moeremans (instagram.com/aurelie)

Keputusan Aurelie Moeremans untuk bersuara tentang masa lalunya lewat Broken Strings bukan sekadar pengakuan publik. Di balik keberanian itu, ada proses panjang menghadapi luka yang selama ini tersembunyi rapat. Ceritanya membuka ruang refleksi tentang bagaimana masa lalu kelam bisa membentuk, bahkan membelenggu, seseorang. Namun dari situlah muncul kemungkinan untuk sembuh dengan cara yang jujur.

Speak up sering dianggap sebagai tindakan berisiko, apalagi ketika kebenaran menyangkut relasi kuasa dan trauma emosional. Banyak orang memilih diam demi bertahan, meski diam justru memperpanjang rasa sakit. Apa yang dilakukan Aurelie menunjukkan bahwa bersuara bisa menjadi langkah pemulihan yang paling radikal. Yuk simak lima makna speak up yang menjelaskan bagaimana cara ini membantu menyembuhkan luka masa lalu.

1. Memutus rantai gaslighting dan merebut kembali narasi diri

ilustrasi memutus rantai gaslighting
ilustrasi memutus rantai gaslighting (freepik.com/freepik)

Dalam relasi yang penuh manipulasi, penyintas kerap dibuat ragu pada ingatan dan perasaannya sendiri. Gaslighting bekerja pelan-pelan hingga korban mempertanyakan realitas yang ia alami. Saat seseorang akhirnya berani berbicara, validasi pertama justru datang dari dirinya sendiri. Ini adalah langkah awal untuk berhenti menyalahkan diri atas luka yang bukan ia ciptakan.

Ketika kata-kata diucapkan atau dituliskan, kendali atas cerita hidup berpindah tangan. Narasi yang sebelumnya dikuasai pelaku mulai disusun ulang oleh penyintas. Peralihan ini menandai transformasi dari victim menjadi survivor. Mengakui kebenaran secara terbuka membantu mengikis keraguan internal yang selama ini menumpuk.

2. Melepaskan beban toxic shame yang mengakar

ilustrasi perempuan melepaskan beban
ilustrasi perempuan melepaskan beban (freepik.com/benzoix)

Rasa malu beracun sering menjadi penghambat terbesar dalam proses pemulihan trauma. Banyak penyintas merasa kejadian pahit harus disembunyikan demi menjaga citra dan rasa aman semu. Padahal, rasa malu justru tumbuh subur dalam kesunyian. Diam membuat luka terus hidup tanpa pernah benar-benar disentuh.

Dengan bersuara, rahasia yang menekan akhirnya keluar ke ruang terang. Tindakan Aurelie menunjukkan bahwa rasa malu seharusnya kembali pada pelaku, bukan pada mereka yang disakiti. Saat beban itu dilepaskan, tubuh perlahan keluar dari mode siaga terus-menerus. Inilah momen ketika penyembuhan mental dan emosional mulai berjalan beriringan.

3. Mengubah luka personal menjadi kekuatan advokasi

ilustrasi perempuan tersenyum
ilustrasi perempuan tersenyum (freepik.com/freepik)

Penyembuhan terdalam sering terjadi ketika rasa sakit tak lagi berhenti pada diri sendiri. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai altruistic surrender, ketika penderitaan diolah menjadi makna. Cerita pribadi yang dibagikan dengan jujur bisa menjadi pegangan bagi orang lain yang masih terjebak dalam ketakutan. Dari sini, luka menemukan fungsinya.

Melalui Broken Strings, Aurelie tidak hanya berbicara untuk dirinya, tetapi juga membuka ruang aman bagi banyak suara lain. Kesadaran bahwa kisah kita mungkin menyelamatkan seseorang memberi rasa kebermaknaan yang kuat. Rasa bermakna ini perlahan menutup kehampaan yang ditinggalkan trauma. Self-healing pun naik level, dari sekadar pulih menjadi memberi.

4. Memvalidasi emosi yang lama terpendam

ilustrasi perempuan sedih (freepik.com/pikisuperstar)
ilustrasi perempuan sedih (freepik.com/pikisuperstar)

Banyak penyintas trauma bertahan hidup dengan menekan emosi agar bisa terus berjalan. Marah, sedih, dan kecewa dikubur demi terlihat baik-baik saja. Namun emosi yang ditekan tidak pernah benar-benar hilang. Ia muncul kembali dalam bentuk kecemasan berkepanjangan atau perasaan kosong yang sulit dijelaskan.

Speak up menjadi jalan katarsis yang memungkinkan emosi mengalir keluar. Proses menyusun cerita membantu perasaan yang membeku menemukan bahasanya. Tanpa validasi emosi, penyembuhan sering kali hanya berada di permukaan. Keberanian berbicara memastikan setiap luka diakui sebelum akhirnya benar-benar mengering.

5. Menciptakan support system yang lebih sehat

ilustrasi berkumpul dengan sahabat
ilustrasi berkumpul dengan sahabat (freepik.com/freepik)

Ketakutan akan penolakan sosial sering membuat banyak orang memilih diam. Padahal, bersuara justru berfungsi sebagai penyaring alami bagi lingkungan sekitar. Mereka yang berempati akan bertahan, sementara yang toksik akan menjauh dengan sendirinya. Proses ini memang menyakitkan, tetapi perlu.

Ketika Aurelie berbicara, ia secara tidak langsung membangun lingkaran dukungan yang lebih aman. Orang-orang yang hadir adalah mereka yang menghargai kejujuran dan keberanian. Lingkungan seperti ini penting agar luka lama tidak terbuka kembali. Dukungan yang sehat menjadi pondasi agar pemulihan bisa berjalan berkelanjutan.

Speak up bukan tentang membuka luka demi dilihat orang lain, melainkan tentang mengakui bahwa luka itu memang ada. Apa yang ditunjukkan Aurelie Moeremans lewat Broken Strings memperlihatkan bahwa penyembuhan dimulai dari keberanian menghadapi kebenaran. Masa lalu kelam memang tak bisa dihapus, tetapi bisa ditempatkan di posisi yang lebih sehat. Yuk, izinkan diri sendiri bersuara dan berjalan pelan menuju versi diri yang lebih merdeka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kirana Mulya
EditorKirana Mulya
Follow Us

Latest in Life

See More

Apakah Isra Miraj Boleh Puasa? Ini Aturan dan Bacaan Niatnya

15 Jan 2026, 11:25 WIBLife