Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Pemicu Doom Spending di Era Digital yang Perlu Diwaspadai

5 Pemicu Doom Spending di Era Digital yang Perlu Diwaspadai
ilustrasi belanja online (pexels.com/Cottonbro studio)
Intinya Sih
  • Doom spending muncul sebagai respons emosional terhadap stres dan kecemasan, diperparah oleh kemudahan akses belanja digital serta paparan informasi yang berlebihan.
  • Lima pemicu utamanya meliputi berita negatif, promo tanpa henti, pengaruh media sosial, kemudahan pembayaran digital, dan algoritma yang terus menampilkan produk sesuai minat pengguna.
  • Fenomena ini dapat mengganggu stabilitas finansial jika tidak disadari, sehingga penting membangun kesadaran diri dan kebiasaan keuangan yang lebih bijak di era digital.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Doom spending adalah kebiasaan berbelanja secara impulsif sebagai respons terhadap rasa cemas, stres, atau ketidakpastian terhadap kondisi ekonomi maupun kehidupan. Fenomena ini semakin sering terjadi di era digital karena masyarakat sangat mudah terpapar berbagai informasi dan godaan belanja hanya melalui ponsel. Mulai dari promosi tanpa henti hingga tren media sosial, semuanya dapat memicu keputusan finansial yang kurang bijak.

Jika tidak disadari, doom spending dapat mengganggu kondisi keuangan, mengurangi kemampuan menabung, bahkan meningkatkan risiko utang. Agar lebih waspada, berikut lima pemicu doom spending yang paling sering muncul di era digital.

1. Paparan berita negatif berlebihan

ilustrasi membuka sosial media (unsplash.com/Erik Lucatero)
ilustrasi membuka sosial media (unsplash.com/Erik Lucatero)

Informasi mengenai inflasi, ancaman resesi, PHK massal, hingga ketidakstabilan ekonomi sering memenuhi media sosial maupun portal berita. Paparan yang terus-menerus dapat memunculkan kecemasan sehingga sebagian orang memilih mencari pelarian melalui aktivitas belanja.

Membeli barang baru memang dapat memberikan rasa senang sesaat karena memicu pelepasan hormon dopamin. Namun, efek tersebut biasanya tidak bertahan lama. Setelah euforia menghilang, rasa cemas justru kembali disertai penyesalan karena pengeluaran membengkak.

2. Promo dan flash sale yang datang tanpa henti

ilustrasi diskon (pexels.com/max fischer)
ilustrasi diskon (pexels.com/max fischer)

Platform belanja digital kini semakin pintar menarik perhatian konsumen. Notifikasi diskon, voucher terbatas, gratis ongkos kirim, hingga hitung mundur flash sale membuat banyak orang merasa harus segera membeli sebelum kesempatan hilang.

Strategi pemasaran tersebut memanfaatkan rasa takut ketinggalan atau fear of missing out (FOMO). Akibatnya, seseorang membeli barang bukan karena benar-benar membutuhkan, melainkan karena tergoda penawaran yang terlihat menguntungkan. Jika dilakukan berulang, kebiasaan ini menjadi salah satu penyebab utama doom spending.

3. Pengaruh media sosial dan lifestyle influencer

ilustrasi media sosial
ilustrasi media sosial (pexels.com/Lisa from pexels)

Media sosial dipenuhi konten unboxing, rekomendasi produk, hingga gaya hidup yang tampak serba sempurna. Melihat orang lain terus membeli barang baru dapat memunculkan keinginan untuk mengikuti tren agar tidak merasa tertinggal.

Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya. Membandingkan diri dengan kehidupan orang lain hanya akan mendorong pembelian impulsif yang berpotensi mengganggu kesehatan finansial.

4. Kemudahan pembayaran digital dan paylater

ilustrasi belanja online (pexels.com/PhotoMIX Company)
ilustrasi belanja online (pexels.com/PhotoMIX Company)

Dompet digital, kartu kredit, hingga layanan PayLater membuat proses transaksi menjadi sangat praktis. Hanya dengan beberapa sentuhan di layar, pembelian dapat langsung selesai tanpa perlu mengeluarkan uang tunai.

Kemudahan tersebut sering membuat seseorang kurang menyadari besarnya pengeluaran. Ketika tagihan datang di akhir bulan, barulah terasa bahwa pengeluaran jauh melebihi anggaran. Karena itu, kemudahan pembayaran perlu diimbangi dengan disiplin mengatur keuangan agar tidak terjebak doom spending.

5. Algoritma terus menawarkan produk sesuai minat

ilustrasi belanja online (pexels.com/Cottonbro)
ilustrasi belanja online (pexels.com/Cottonbro)

Platform digital menggunakan algoritma untuk mempelajari kebiasaan pengguna. Produk yang pernah dicari atau dilihat akan terus muncul dalam bentuk iklan maupun rekomendasi. Semakin sering melihat produk yang sama, semakin besar pula keinginan untuk membelinya.

Tanpa disadari, paparan berulang dapat menciptakan dorongan psikologis bahwa barang tersebut memang diperlukan. Oleh sebab itu, penting untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan sebelum menekan tombol checkout.

Doom spending bukan sekadar kebiasaan boros, melainkan respons emosional terhadap tekanan yang diperkuat oleh teknologi digital. Dengan mengenali berbagai pemicunya, kita dapat lebih bijak mengendalikan pengeluaran, membatasi paparan yang memicu belanja impulsif, serta membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat. Di tengah derasnya arus informasi dan promosi, kesadaran diri menjadi benteng terbaik agar kondisi keuangan tetap aman dalam jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More