Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Oversharing di Media Sosial Bisa Merusak Hubungan?

Apakah Oversharing di Media Sosial Bisa Merusak Hubungan?
Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Nima Ghodsi)
Share Article

Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang membagikan berbagai momen, mulai dari pencapaian karier, aktivitas harian, hingga kisah percintaan. Kemudahan berbagi ini memang dapat mempererat hubungan dengan keluarga dan teman yang berjauhan.

Namun, ketika informasi yang dibagikan terlalu banyak atau terlalu pribadi, perilaku tersebut sering disebut sebagai oversharing. Lantas, benarkah oversharing di media sosial dapat merusak hubungan?

1. Oversharing dapat mengurangi privasi dalam hubungan

ilustrasi bermain media sosial (freepik.com/marymar)
ilustrasi bermain media sosial (freepik.com/marymar)

Salah satu dampak paling nyata dari oversharing adalah berkurangnya batas antara kehidupan pribadi dan ruang publik. Ketika seseorang rutin membagikan konflik rumah tangga, isi percakapan dengan pasangan, atau masalah keluarga ke media sosial, informasi yang semula bersifat pribadi menjadi konsumsi banyak orang.

Akibatnya, pasangan atau anggota keluarga bisa merasa privasinya dilanggar karena tidak semua hal layak dipublikasikan. Pengungkapan diri di media sosial perlu mempertimbangkan kenyamanan pasangan karena informasi yang dibagikan dapat memengaruhi persepsi dan kepercayaan dalam hubungan.

"Ketika seseorang sering berbagi informasi pribadi dengan banyak orang di media sosial, hal itu berdampak negatif pada kepuasan dan perasaan keintiman pasangannya dalam hubungan tersebut," kutip dari penelitian berjudul "Effects of self- and partner’s online disclosure on relationship intimacy and satisfaction".

2. Terlalu banyak membagikan kehidupan pribadi bisa memicu konflik dengan pasangan

ilustrasi pasangan bertengkar (freepik.com/Drazen Zigic)
ilustrasi pasangan bertengkar (freepik.com/Drazen Zigic)

Media sosial memungkinkan pasangan saling mengetahui aktivitas satu sama lain. Namun, ketika salah satu pihak terlalu sering mengunggah kehidupan pribadinya tanpa berdiskusi terlebih dahulu, hal tersebut dapat memicu kesalahpahaman.

Misalnya, mengunggah pertengkaran, menyindir pasangan melalui status, atau membagikan masalah yang seharusnya diselesaikan secara langsung. Penelitian menemukan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berkaitan dengan meningkatnya konflik dalam hubungan romantis.

"Individu yang menggunakan Facebook secara berlebihan jauh lebih mungkin mengalami konflik dengan pasangan romantis mereka, yang kemudian dapat menyebabkan hasil hubungan negatif termasuk perselingkuhan emosional dan fisik, putus hubungan, dan perceraian," kata seorang peneliti Russell Clayton, sekaligus mahasiswa doktoral di Sekolah Jurnalistik Universitas Missouri dikutip dari ScienceDaily.

Meski penelitian tersebut berfokus pada Facebook, para peneliti menilai fenomena serupa juga dapat terjadi di platform media sosial lain. Hal ini menunjukkan bahwa bukan hanya durasi penggunaan media sosial yang perlu diperhatikan, tetapi juga jenis informasi yang dibagikan dan bagaimana aktivitas tersebut memengaruhi komunikasi di dunia nyata.

3. Oversharing berpotensi mengikis kepercayaan dalam hubungan

ilustrasi oversharing (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
ilustrasi oversharing (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Kepercayaan merupakan fondasi utama dalam setiap hubungan, baik dengan pasangan, keluarga, maupun sahabat. Ketika seseorang mengunggah cerita pribadi yang melibatkan orang lain tanpa izin, pihak yang bersangkutan dapat merasa dikhianati.

Meski tujuan unggahan tersebut hanya untuk mencari dukungan atau berbagi pengalaman, dampaknya bisa membuat orang lain enggan lagi menceritakan hal-hal pribadi karena khawatir akan dipublikasikan. Keterbukaan memang penting untuk membangun kedekatan, tetapi harus disertai dengan batasan yang sehat.

“Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa semakin sering seseorang dalam hubungan romantis menggunakan Facebook, semakin besar kemungkinan mereka memantau aktivitas Facebook pasangannya dengan lebih ketat, yang dapat menyebabkan perasaan cemburu,” kata Russell.

“Kecemburuan yang disebabkan oleh Facebook dapat menyebabkan pertengkaran mengenai mantan pasangan. Selain itu, studi kami menemukan bahwa pengguna Facebook yang berlebihan lebih cenderung terhubung atau terhubung kembali dengan pengguna Facebook lainnya, termasuk mantan pasangan, yang dapat menyebabkan perselingkuhan emosional dan fisik,” lanjutnya.

4. Oversharing sering dilakukan untuk mencari validasi dari orang lain

ilustrasi oversharing (Freepik.com/freepik)
ilustrasi oversharing (Freepik.com/freepik)

Tidak semua orang melakukan oversharing karena ingin pamer atau mencari perhatian. Dalam banyak kasus, seseorang membagikan kehidupan pribadinya karena mengharapkan dukungan, empati, atau pengakuan dari orang lain. Sayangnya, ketika validasi dari media sosial menjadi kebutuhan utama, kualitas hubungan di dunia nyata justru dapat menurun karena perhatian lebih terfokus pada respons warganet daripada komunikasi dengan orang-orang terdekat.

“Terlalu banyak berbagi di media menunjukkan kebutuhan untuk mencari validasi dari orang lain. Banyak orang melakukan ini secara tidak sadar, tetapi keinginan yang mendasarinya selalu untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain,” kata psikolog klinis Seema Hingorrany kepada Hindustan Times.

5. Bagaimana berbagi cerita di media sosial dengan cara yang sehat?

Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Nima Ghodsi)
Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Nima Ghodsi)

Media sosial bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi penggunaannya perlu disertai kesadaran akan batasan privasi. Sebelum mengunggah cerita yang melibatkan pasangan, keluarga, atau teman, ada baiknya bertanya terlebih dahulu apakah mereka merasa nyaman jika informasi tersebut diketahui publik.

"Batasan adalah garis tak terlihat yang membentuk identitas diri kita. Kita menetapkan batasan di bagian diri kita yang bersedia kita bagikan dengan orang lain dan apa yang ingin kita rahasiakan. Batasan kita bergantung pada hubungan kita," saran Andrea Brandt, Ph.D, terapis pernikahan dan keluarga dalam Psychology Today.

Prinsip sederhana ini menunjukkan rasa hormat terhadap privasi orang lain sekaligus membantu menjaga kepercayaan dalam hubungan. Pasalnya, jejak digital sulit dihapus sepenuhnya sehingga setiap unggahan perlu dipertimbangkan dengan matang, terutama jika menyangkut kehidupan pribadi atau orang lain.

Oversharing di media sosial tidak selalu berdampak buruk, tetapi dapat menjadi masalah ketika mengabaikan privasi, persetujuan, dan perasaan orang lain yang terlibat. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan media sosial secara bijak dengan mempertimbangkan batasan yang sehat, berkomunikasi dengan orang-orang terdekat sebelum mengunggah sesuatu yang bersifat pribadi.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More