Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Perbedaan Quiet Living dan Slow Living yang Sering Dikira Sama
ilustrasi perempuan me time (magnific.com/lifeforstock)
  • Quiet living berfokus mengurangi kebisingan sosial dan digital untuk menjaga ruang pribadi, sedangkan slow living mengatur ritme aktivitas agar tidak terasa terus dikejar waktu.
  • Quiet living relevan saat kelelahan dipicu notifikasi, linimasa, dan tuntutan sosial; slow living membantu ketika jadwal padat, rapat berdekatan, atau kebiasaan multitasking menguras energi.
  • Keduanya dapat diterapkan bersamaan melalui pembatasan gangguan dan pemberian jeda antaraktivitas, tanpa harus mengubah seluruh rutinitas sekaligus.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Keinginan hidup lebih tenang gak selalu berarti kamu ingin memperlambat semua aktivitas. Bisa jadi, kamu hanya ingin mengurangi notifikasi, obrolan yang melelahkan, atau kebiasaan mengecek media sosial berulang kali. Keinginan ini membuat quiet living dan slow living menarik perhatian sebagai tren gaya hidup.

Sekilas, kedua konsep tersebut terlihat serupa karena sama-sama mengutamakan ketenangan. Padahal, quiet living berfokus pada pengurangan kebisingan sosial dan digital, sedangkan slow living menekankan ritme hidup yang lebih lambat. Yuk simak lima perbedaan quiet living dan slow living berikut ini agar kamu memahami konsep yang sesuai dengan kebutuhanmu.

1. Quiet living mengurangi kebisingan, slow living memperlambat ritme

ilustrasi laki-laki bekerja (pexels.com/Edmond Dantès)

Setelah seharian menerima pesan, menghadiri rapat, dan mendengar berbagai pendapat, kamu mungkin ingin menikmati kamar yang sunyi. Kamu memilih mematikan notifikasi dan gak langsung membalas pesan siapa pun. Keinginan tersebut mencerminkan quiet living karena kamu sedang mengurangi rangsangan yang memenuhi pikiran.

Sementara itu, slow living mengajakmu mengatur aktivitas tanpa terus merasa dikejar waktu. Kamu bisa sarapan tanpa terburu-buru atau menyelesaikan pekerjaan satu per satu. Fokusnya bukan menghilangkan suara, melainkan menjalani kegiatan dengan tempo yang lebih terkendali.

2. Quiet living menjaga ruang pribadi, slow living menata waktu

ilustrasi perempuan memasak (magnific.com/pvproductions)

Saat akhir pekan, kamu mungkin memilih gak membuka media sosial atau menolak ajakan nongkrong yang terlalu ramai. Bukan berarti membenci orang lain, kamu hanya ingin punya ruang tanpa banyak tuntutan dari luar. Pilihan ini mencerminkan quiet living yang membantu menjaga batas kehidupan pribadi.

Berbeda dengan itu, slow living lebih terasa ketika kamu berhenti memenuhi jadwal dengan banyak kegiatan. Kamu sengaja menyisakan waktu untuk memasak, berjalan kaki, atau beristirahat tanpa agenda tambahan. Perbedaannya terletak pada hal yang ingin kamu lindungi, yaitu ketenangan atau waktu.

3. Sumber kelelahan yang ingin dikurangi juga berbeda

ilustrasi perempuan membuat jadwal harian (magnific.com/freepic.diller)

Notifikasi grup, linimasa penuh perdebatan, dan kebiasaan mengikuti kehidupan orang lain bisa membuat pikiran terasa sesak. Bahkan ketika duduk diam, kamu masih sibuk memproses berbagai informasi. Quiet living membantu mengurangi beban tersebut dengan membatasi paparan yang sebenarnya gak diperlukan.

Dalam slow living, sumber kelelahan bisa berupa jadwal rapat berdekatan atau kebiasaan mengerjakan beberapa hal sekaligus. Kamu mungkin gak terganggu oleh media sosial, tetapi tetap kelelahan karena aktivitas terlalu padat. Karena itu, memperlambat tempo lebih relevan daripada sekadar mengurangi notifikasi.

4. Cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari berbeda

ilustrasi membalas e-mail (magnific.com/rawpixel-com)

Menerapkan quiet living gak berarti kamu harus menghilang dari pergaulan atau berhenti menggunakan teknologi. Kamu bisa mengatur waktu membuka pesan, membersihkan linimasa, dan memilih lingkungan yang nyaman. Tujuannya menentukan rangsangan mana yang layak mendapat perhatianmu.

Untuk slow living, kamu bisa menghindari jadwal terlalu rapat dan memberikan jeda antar kegiatan. Misalnya, selesaikan satu pekerjaan sebelum beralih ke tugas berikutnya, lalu makan tanpa menatap layar. Kebiasaan ini membantumu fokus pada kegiatan yang sedang dijalani.

5. Keduanya bisa berjalan bersamaan tanpa harus memilih

ilustrasi perempuan rileks (magnific.com/diana.grytsku)

Kamu mungkin sudah membatasi penggunaan media sosial, tetapi masih makan terburu-buru karena mengejar tenggat pekerjaan. Artinya, kamu menerapkan prinsip quiet living, tetapi ritme harianmu belum tentu mencerminkan slow living. Kedua konsep ini berkaitan, tetapi kebutuhan yang dijawab tetap berbeda.

Kamu bisa menggabungkan keduanya dengan mengurangi gangguan sekaligus mengatur tempo aktivitas. Matikan notifikasi ketika bekerja, lalu sisihkan waktu istirahat tanpa membawa pekerjaan ke meja makan. Gak perlu mengubah seluruh rutinitas sekaligus karena kebiasaan yang sesuai kebutuhan lebih mudah dipertahankan.

Memahami perbedaan quiet living dan slow living membantumu mengenali sumber kelelahan yang selama ini sulit dijelaskan. Kamu gak harus mengikuti setiap tren gaya hidup hanya karena terlihat menarik di media sosial. Pilih perubahan yang membuat keseharianmu lebih nyaman tanpa mengabaikan tanggung jawab maupun kebutuhan diri sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article