5 Tanda Orang Toksik Ingin Berubah, Ada Usaha meski Susah!

Jika kamu menjalin hubungan dengan orang yang toksik, saran paling masuk akal ialah menyudahi hubungan itu daripada dirimu terus tertekan. Akan tetapi, ini tak berarti bahwa orang yang hari ini toksik akan selamanya begitu. Mereka yang termasuk toxic people bisa berubah, kok.
Hanya saja, menunggu perubahannya sambil kamu tetap dalam ikatan hubungan dengannya tidaklah bijak. Kamu berhak bahagia sedangkan dia perlu waktu lama untuk mengubah sifatnya yang toksik. Itu pun bila ia menyadarinya dan ingin menjadi pribadi yang lebih baik.
Dari jauh, kamu dapat melihat tanda-tanda seorang yang toksik mulai belajar memperbaiki diri. Perbedaan sikapnya cukup mencolok dan patut mendapat dukungan. Namun, jangan bersikap terlalu lunak yang justru dapat membuatnya batal berubah.
1. Biasa mengkritik, sekarang belajar mendengarkan kritik

Orang yang toksik biasanya sangat gemar mengkritik siapa pun dengan kalimat yang menyakitkan hati. Sementara itu, kalau orang lain gantian mengkritiknya, ia tidak terima. Namun, akhir-akhir ini seseorang sepertinya lebih tenang daripada biasanya.
Ia tidak memberi tanggapan apa pun saat dikritik oleh orang lain. Dia mungkin terlihat menahan emosi, tapi minimal sudah gak langsung marah-marah. Bahkan, ia dapat tiba-tiba meminta kritik dari orang lain atas dirinya.
2. Banyak waktu digunakan untuk berintrospeksi

Introspeksi umumnya sangat jauh dari kebiasaan orang yang toksik. Pasangan dan teman sudah menunjukkan berbagai kesalahannya pun, dia gak mau mengakuinya. Ia selalu membela diri dan membenarkan semua perkataan serta tindakannya.
Namun, ketika orang yang toksik mulai ada keinginan buat berubah, introspeksi otomatis dipelajarinya. Tidak gampang, tetapi ia menjadi lebih banyak merenung dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan kesalahan diri. Untuk sementara, dia berusaha menjauh dari orang-orang agar dapat melihat ke dalam diri dengan lebih jelas.
3. Ada rasa kesepian karena orang-orang menjauhinya

Tidak ada orang yang tahan selalu berhadapan dengan pribadi toksik. Satu per satu teman bahkan keluarga akan menyingkir. Jangan sampai punya urusan dengan orang yang sikapnya selalu menyulut emosi mereka.
Tentu saja, lama-kelamaan hal ini juga disadari oleh orang yang toksik. Dulu hidupnya diwarnai banyak teman, tetapi kini ia seperti terkucil. Bahkan, pasangan dan anak pun takut sekali padanya sehingga memilih menghindarinya.
4. Memilih lebih banyak diam daripada salah bicara

Sifat toksik paling sering terungkap dari perkataannya yang senantiasa menyerang, merendahkan, dan mengubah emosi positif orang lain menjadi negatif. Bahasa lisannya selalu menjadi masalah dalam interaksinya dengan siapa saja.
Maka saat ia menyadari kelemahannya ini, dia bakal belajar cara berbicara yang lebih menyenangkan di telinga orang lain. Sebelum kemampuan ini dikuasai, dia akan cenderung diam. Meski belajar cara bicara penting, itu perlu didasari dengan pengendalian diri dulu.
5. Meminta bantuan pada orang yang paling dipercaya

Orang yang toksik juga bisa merasa nyaris putus asa oleh sifatnya sendiri. Di satu sisi, ia tahu sikapnya pada orang lain kerap buruk. Di sisi lain, mengubah sifat juga bukan pekerjaan yang mudah.
Walaupun harus menanggung sedikit rasa malu, orang toksik yang serius hendak memperbaiki diri mungkin saja meminta bantuan pada orang lain. Tentu sosok tersebut bukan orang sembarangan. Mungkin hanya dialah orang yang tidak pernah menjadi sasaran sikap toksiknya.
Orang itu amat diseganinya. Ia meminta pertolongannya karena keberadaan orang ini dapat membantunya mengendalikan diri. Dia mungkin minta agar sering-sering diingatkan sebelum sifat toksiknya keluar lagi.
Bila batu saja bisa hancur, sifat manusia pun sebetulnya dapat berubah. Memang tidak mudah, tapi masih sangat mungkin terjadi.
Sebagai teman atau saudara, kamu harus mendukungnya buat berubah. Namun tetaplah konsisten menunjukkan ketegasan padanya supaya sifat toksiknya gak malah menyasar kamu.



















