6 Alasan Doomscrolling Berita Duka Bikin Kamu Makin Cemas

- Doomscrolling berita duka membuat algoritma terus menyajikan konten serupa, sehingga paparan singkat dapat menciptakan kesan keliru bahwa dunia hanya dipenuhi bencana dan kesedihan.
- Empati beruntun terhadap berbagai tragedi dapat menguras energi, memurukkan suasana hati, serta memicu kecemasan bahwa musibah serupa bisa menimpa diri sendiri.
- Paparan berlebihan membuat kejadian buruk terasa tak terantisipasi dan mengabaikan penanganannya; membatasi konsumsi konten duka atau beralih ke konten lain dapat membantu menetralkan emosi negatif.
Sebelum ada medsos dan smartphone, ketika orang merasa bosan, capek, butuh hiburan serta rehat sejenak paling cuma ngobrol. Atau, tidur sebentar bila memungkinkan dan jalan-jalan. Sekarang orang lari ke aktivitas menggulir media sosial.
Bahkan meski tidak ada tujuan mencari kabar tertentu. Pokoknya asal scrolling sampai tak terasa sudah menghabiskan banyak waktu. Masalahnya ketika kamu doomscrolling lalu menemukan satu berita duka biasanya algoritma otomatis membawamu ke berita duka lainnya.
Terus seperti itu. Apalagi dirimu menunjukkan ketertarikan pada berita duka sebelumnya. Seperti dengan menonton atau menggeser slide sampai habis, memberikan tanda suka, mengomentari, atau repost. Padahal, terpapar berita duka secara terus-menerus dapat membuatmu merasa hopeless. Berikut penjelasannya.
1. Seakan-akan tidak ada kabar baik sama sekali

ilustrasi scrolling medsos (pexels.com/Dima Sh) Katakanlah kamu menggulir layar 15 menit. Dalam waktu tersebut, dirimu disuguhi banyak sekali berita duka. Jumlahnya gak terhitung lagi karena setiap kabar yang melintas cukup dilihat beberapa detik.
Ada berita kecelakaan tragis, bencana alam, kriminalitas sampai korbannya tewas, dan sebagainya. Paparan berita duka sebanyak itu secara beruntun menggiringmu untuk mengambil kesimpulan sendiri. Dunia tidak baik-baik saja. Isinya bencana dan kesedihan terus.
Sepertinya tak ada lagi kabar baik di negara bahkan dunia ini. Kesimpulan seperti ini tentu gegabah. 15 menit yang mempertemukanmu dengan sekian berita duka tidak bisa dijadikan dasar untuk secara tepat menilai apa yang sesungguhnya terjadi. Kamu seperti mengambil sampel yang terlalu sedikit kemudian hasil pengamatan diberlakukan ke semua hal.
2. Energi terus tersedot untuk berempati

ilustrasi scrolling medsos (pexels.com/cottonbro studio) Tentu bagus kalau kamu bisa berempati pada situasi duka yang dirasakan orang lain. Bahkan tanpa kalian saling mengenal. Itu artinya, dirimu punya kepedulian yang tinggi terhadap sesama.
Berawal dari empati juga dapat muncul usaha-usaha nyata buat menolong orang yang membutuhkan. Hanya saja, ketika energimu terus tersedot untuk berempati pada berbagai kedukaan yang muncul di medsos maka rasanya melelahkan sekali. Suasana hatimu ikut muram.
Kamu tidak punya cukup waktu untuk memulihkan energi selepas berempati. Satu berita duka saja otomatis bikin kepikiran agak lama. Apalagi ketika dirimu terpapar berita duka secara beruntun.
3. Jadi sibuk membayangkan bagaimana jika hal serupa menimpamu?

ilustrasi scrolling medsos (pexels.com/Ron Lach) Doomscrolling berbagai berita duka menujukkan nasib malang bisa terjadi pada siapa pun. Sekali terjadi bencana alam, warga terdampak dapat mencapai ribuan orang. Di satu tempat terjadi gempa, di lokasi lain banjir bandang.
Ada pula korban kecelakaan lalu lintas, bunuh diri, pemerkosaan, dan sebagainya. Semuanya bentuk duka. Orang yang mengalaminya punya latar belakang beragam. Kamu menjadi waswas. Seolah-olah dirimu tinggal menunggu giliran untuk apes juga.
Begitu pikiran ini melintas otomatis berbagai kecemasan berikutnya muncul. Seperti apakah kamu bakal selamat atau tidak? Bagaimana reaksi orang-orang di sekitarmu? Jangan-jangan dalam kondisi semalang itu justru gak ada seorang pun yang memedulikanmu. Sekarang hidupmu baik-baik saja, tapi perasaan sudah hopeless duluan.
4. Akses berlebihan ke berita duka membuatnya seperti tak bisa diantisipasi

ilustrasi scrolling medsos (pexels.com/shohib tri) Di jalan X terjadi kecelakan tunggal sampai korban meninggal dunia. Di kota A terjadi kecelakaan yang melibatkan banyak kendaraan sekaligus. Di negara C jalan tiba-tiba ambles dan membuat kendaraan yang melintas langsung terperosok.
Memang ada cukup banyak kejadian buruk yang tidak dapat diantisipasi. Contohnya, jalan yang mendadak ambles karena faktor alam. Akan tetapi, kejadian lain seperti kecelakaan pertama dan kedua masih dapat coba dicegah.
Seperti dengan lebih berhati-hati saat berkendara. Namun, karena dirimu mengakses begitu banyak berita duka dalam waktu singkat maka seakan-akan tidak satu pun bisa diantisipasi. Kamu menjadi merasa gak berdaya membayangkan segala hal yang dapat terjadi.
5. Cuma fokus ke kejadian demi kejadian, bukan penanganannya

ilustrasi scrolling medsos (pexels.com/Keira Burton) Bagian dari berita duka yang diekspos secara luar biasa di media sosial biasanya di bagian paling tragisnya. Ini adalah inti kejadian. Seperti tepat saat kecelakaan terjadi, jumlah korban, dan kronologi.
Begitu pula berita terkait bencana. Fokusnya sering kali akibat terburuk dari bencana tersebut. Tidak ada yang salah dari pemberitaan tersebut. Hanya saja, kamu bisa terjebak dalam bias pemikiran.
Sesuai dengan berita duka yang terjadi, perhatianmu menjadi terpusat pada peristiwanya saja. Apalagi dengan cepat kamu beralih ke kabar-kabar duka lainnya. Dirimu gak update lagi terkait penanganannya. Padahal jika kamu tahu penanganannya baik, cepat, dan optimal akan membuatmu merasa lebih tenang. Bukan hanya larut dalam nestapa.
6. Habis doomscrolling tiba-tiba ada kejadian tak menyenangkan

ilustrasi scrolling medsos (pexels.com/MART PRODUCTION) Kejadiannya murni kebetulan. Namun, lantaran dirimu baru membaca dan menonton banyak sekali berita duka rasanya bisa seperti kutukan. Atau, perasaan kamu ketularan nasib sial.
Emosimu sudah buruk akibat melihat banyak berita duka. Tambah negatif setelah kamu mengalaminya sendiri. Misal, berita duka yang banyak muncul di beranda medsosmu seputar bencana alam.
Sementara kejadian menyedihkan dalam hidupmu ialah saudara yang sudah lama sakit keras akhirnya berpulang. Sama-sama berita duka, tetapi sebetulnya amat berlainan. Namun, kamu dapat tanpa sadar menganggapnya sebagai satu rangkaian. Kamu menjadi lebih murung dibandingkan seandainya sebelum ini gak terjebak doomscrolling berita sedih.
Di dunia ini selalu ada berita duka terkait siapa pun dan apa pun. Tidak mungkin untukmu sepenuhnya menghindarinya. Apalagi ketika kamu membuka media sosial. Akan tetapi, ambil kendali dengan membatasi berita duka yang diterima.
Misalnya, setelah 3 kali berturut-turut muncul berita duka, tutup medsos dulu. Atau, masuk ke kolom pencarian dan ketik kata kunci yang akan membawamu ke konten berbeda. Seperti video lucu kucing. Ini berguna buat menetralkan emosi negatif karena paparan berita duka.






















