Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Alasan Kesuksesan Bisa Terasa Hampa Meski Sudah Mencapai Banyak Hal
ilustration of lonely man (freepik.com)
  • Banyak orang merasa hampa setelah sukses karena pencapaian hanya memberi kepuasan sementara dan memicu dorongan terus mengejar target baru tanpa rasa puas yang mendalam.

  • Kesuksesan sering terasa kosong ketika dibangun dari validasi atau ekspektasi orang lain, bukan dari keinginan dan nilai pribadi yang autentik.

  • Ambisi kadang jadi cara menghindari luka emosional, membuat seseorang tampak berhasil di luar, tapi tetapi kehilangan makna dan koneksi dengan diri sendiri.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang membayangkan bahwa hidup akan otomatis terasa bahagia setelah berhasil mencapai target tertentu, seperti diterima di tempat impian, memiliki karier yang stabil, mendapat pengakuan, atau mencapai pencapaian besar lainnya. Namun, kenyataannya gak sedikit orang yang justru merasa hampa setelah berhasil mendapatkan hal-hal yang dulu sangat mereka perjuangkan. Dari luar terlihat sudah berhasil, tapi di dalam diri masih ada rasa kosong, lelah, atau kehilangan arah yang sulit dijelaskan.

Perasaan ini bukan berarti seseorang gak bersyukur atau kurang ambisi. Kadang, kehampaan muncul karena selama ini hidup terlalu berfokus pada pencapaian sampai kebutuhan emosional dan makna personal terabaikan. Berikut adalah 5 alasan mengapa kesuksesan bisa tetap terasa hampa. Ayo evaluasi!

1. Terjebak dalam siklus dopamin dan ambisi

Kelelahan mental akibat tekanan pekerjaan bisa terjadi tanpa disadari, bahkan saat tubuh terlihat baik-baik saja. Photo by Nataliya Vaitkevich from Pexels

Kesuksesan kadang terasa hampa karena pencapaian sering kali hanya memberi rasa senang sementara, bukan kepuasan yang benar-benar bertahan lama. Setelah mencapai satu target, seseorang biasanya terdorong untuk mengejar target berikutnya terus-menerus. Salah satu alasannya adalah karena dopamin di otak memainkan peran besar dalam sistem penghargaan manusia. Menurut John McGuirk, psikoterapis terakreditasi BACP di Bristol, kepada Bristol Therapist,

"Dopamin merupakan zat kimia di otak yang berhubungan dengan rasa senang, motivasi, dan dorongan untuk mencari penghargaan. Saat seseorang berhasil mencapai sesuatu, otak akan melepaskan dopamin sehingga pencapaian tersebut terasa menyenangkan dan memuaskan. Namun, efek itu biasanya hanya berlangsung sementara. Setelah rasa senang itu mereda, muncul keinginan untuk mencari pencapaian berikutnya demi mendapatkan sensasi yang sama lagi."

Sebagian orang bisa terjebak dalam pola terus-menerus mengejar prestasi tanpa benar-benar merasa puas. Pola ini menjadi semakin sulit dihentikan ketika keberhasilan materi dan pengakuan sosial ikut memperkuat kebiasaan itu.

2. Kesuksesan dibangun dari validasi orang lain

ilustrasi cowok people pleasure (magnific.com/freepik)

Pengejaran validasi eksternal seperti gelar, kekayaan, status, dan penghargaan bisa menjadi salah satu alasan mengapa kesuksesan terasa hampa. Banyak orang akhirnya menjadikan pencapaian sebagai cara untuk merasa diakui, diterima, atau dihargai oleh orang lain. Menurut Matthew Storie-Pugh, seorang psikoterapis dan penulis di bidang kesehatan mental, dalam laman Mayfair Therapy,

"Salah satu pola yang paling sering ditemukan pada orang berprestasi tinggi adalah dorongan untuk terus mencari validasi eksternal. Kesuksesan akhirnya dijadikan alat untuk mendapatkan persetujuan dari orangtua, lingkungan sosial, maupun masyarakat."

Mayoritas high achiever menjadikan prestasi sebagai cara untuk mendapatkan pengakuan, penerimaan, atau rasa berharga. Masalahnya, validasi dari luar biasanya hanya memberi kepuasan sementara sehingga rasa kosong tetap muncul.

3. Kesuksesan diri dibentuk oleh ekspektasi orang lain

ilustrasi seorang pria tertidur di atas tumpukan uang, mencerminkan tekanan finansial sandwich generation (pexels.com/Walter Medina Foto)

Sebagian orang tumbuh dengan standar sukses dari keluarga, lingkungan, atau masyarakat. Akibatnya, mereka terus mengejar target yang sebenarnya bukan benar-benar berasal dari keinginan pribadi. Mark Shelvock, seorang psikoterapis asal Kanada yang berfokus pada terapi eksistensial, psikodinamik, dan attachment untuk orang dewasa, kepada Psychology Today mengatakan bahwa banyak orang sebenarnya membangun tujuan hidup yang bukan benar-benar berasal dari diri mereka sendiri, melainkan terbentuk dari harapan keluarga, tekanan sosial dan budaya, atau standar hidup ideal versi orang lain.

Akibatnya, banyak orang hanya berprestasi tanpa benar-benar merasa terhubung dengan apa yang mereka lakukan. Seseorang bisa terlihat sangat sukses secara eksternal, tapi merasa kosong.

4. Kesuksesan yang dicapai gak sejalan dengan nilai dan tujuan hidup pribadi

Ilustrasi seorang anak lelah akibat kurang tidur. (istockphoto.com/gratsiasadhihermawan)

Pencapaian dan makna hidup sebenarnya bukan hal yang sama. Banyak orang tumbuh dengan anggapan bahwa semakin banyak prestasi yang diraih, maka hidup juga akan terasa semakin bermakna dan memuaskan. Padahal, kenyataannya tidak selalu begitu. Banyak penelitian maupun pengalaman klinis justru menunjukkan bahwa seseorang tetap bisa merasa kosong, lelah, atau kehilangan arah meski terlihat sukses dari luar.

Menurut Mark Travers dalam tulisannya di Psychology Today, merasa kosong meski mengalami kesuksesan bisa menjadi tanda bahwa diri autentik kita selama ini ditekan demi mengejar prestasi. Kita mungkin terlalu sibuk menjadi versi ideal yang diharapkan lingkungan sampai kehilangan hubungan dengan kebutuhan emosional, nilai pribadi, dan hal-hal yang sebenarnya memberi rasa hidup menurut pribadi kita sendiri.

Makna hidup biasanya gak hanya muncul dari pencapaian, tapi juga dari rasa terhubung dengan diri sendiri, orang lain, nilai yang diyakini, serta dengan aktivitas yang terasa selaras secara personal. Karena itu, hidup yang bermakna gak selalu terlihat paling sukses dari luar, tetapi sering kali terasa lebih utuh dari dalam.

5. Ambisi dipakai untuk menghindari luka emosional

ilustrasi bersedih (pexels.com/Rizky Sabriansyah)

Meski banyak orang berhasil meraih kesuksesan eksternal seperti uang, jabatan, status, atau pengakuan sosial, namun hal itu ternyata gak selalu memenuhi kebutuhan emosional yang lebih dalam. Ambisi terkadang menjadi cara untuk menghindari emosi yang belum benar-benar selesai, seperti rasa gak cukup, insecurity, kesepian, atau luka lama. Mengejar kesuksesan dilakukan sebagai mekanisme coping supaya seseorang gak perlu berhadapan dengan perasaan tersebut.

Hal ini juga dijelaskan oleh Matthew Storie-Pugh dalam Mayfair Therapy. Pola ini sering kali berakar dari pengalaman masa kecil, ketika cinta, pujian, atau penerimaan terasa bergantung pada prestasi. Tanpa disadari, seseorang akhirnya tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya hanya berharga ketika berhasil mencapai sesuatu.

Itu dia 5 alasan mengapa kesuksesan bisa terasa hampa. Kesuksesan memang bisa memberi rasa bangga, aman, atau pengakuan. Namun, itu gak selalu sama dengan rasa bermakna. Karena itu, penting untuk sesekali bertanya pada diri kita, "Apakah aku sedang mengejar sesuatu yang benar-benar aku inginkan atau hanya berusaha memenuhi ekspektasi?”

Editorial Team