Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Alasan Pembayaran Digital dan Cashless Rentan Memicu Doom Spending
Pembayaran Self Service (freepik.com/freepik)
  • Pembayaran digital makin populer karena menawarkan kemudahan, kecepatan, keamanan, serta promo menarik yang mendorong masyarakat beralih dari uang tunai ke sistem cashless.
  • Kemudahan transaksi tanpa uang fisik membuat pengeluaran terasa ringan dan sering memicu pembelian impulsif yang berujung pada kebiasaan doom spending.
  • Akses belanja online 24 jam dan jarangnya pengguna memantau riwayat transaksi memperbesar risiko pengeluaran berlebihan tanpa disadari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Perkembangan teknologi keuangan telah mengubah cara masyarakat melakukan transaksi sehari-hari. Jika dahulu sebagian besar pembayaran dilakukan menggunakan uang tunai, kini berbagai metode cashless seperti dompet digital, mobile banking, kartu debit, kartu kredit, hingga pembayaran melalui kode QR semakin mendominasi aktivitas belanja.

Sistem pembayaran tanpa uang tunai menawarkan berbagai kemudahan, mulai dari proses transaksi yang lebih cepat, praktis, aman, hingga didukung oleh berbagai program promo dan cashback. Tidak mengherankan apabila penggunaan pembayaran digital terus meningkat di berbagai kalangan, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun aktivitas belanja secara daring.

Meskipun memberikan banyak manfaat, kemudahan transaksi cashless juga memiliki sisi yang perlu diwaspadai. Salah satunya adalah meningkatnya risiko doom spending, yaitu kebiasaan mengeluarkan uang secara berlebihan sebagai respons terhadap rasa cemas, stres, atau ketidakpastian mengenai kondisi masa depan.

Dalam sistem pembayaran digital, proses mengeluarkan uang terasa lebih mudah dan hampir tidak memberikan rasa kehilangan seperti ketika membayar menggunakan uang tunai. Akibatnya, seseorang dapat melakukan pembelian secara impulsif tanpa benar-benar mempertimbangkan dampaknya terhadap kondisi keuangan. Nah, berikut ini beberapa alasan pembayaran digital dan cashless bisa memicu doom spending. Scroll dibawah ini!

1. Pengeluaran terasa kurang nyata

Ilustrasi rebahan sambil main handphone (pexels.com/cottonbro studio )

Saat membayar menggunakan uang tunai, seseorang melihat secara langsung uang berpindah dari dompet ke tangan penjual. Proses tersebut memberikan kesadaran bahwa jumlah uang yang dimiliki benar-benar berkurang sehingga seseorang cenderung berpikir lebih lama sebelum melakukan pembelian.

Sebaliknya, transaksi cashless hanya memerlukan satu kali sentuhan pada layar ponsel atau kartu pembayaran. Karena tidak melihat uang secara fisik keluar dari dompet, banyak orang merasa pengeluaran menjadi lebih ringan sehingga lebih mudah membeli barang yang sebenarnya tidak direncanakan.

2. Transaksi menjadi sangat mudah

Pembayaran Self Service (freepik.com/freepik)

Kemudahan merupakan salah satu keunggulan utama sistem pembayaran digital. Dalam hitungan detik, seseorang dapat menyelesaikan transaksi tanpa perlu membawa uang tunai maupun menghitung kembalian.

Namun, kemudahan tersebut juga mengurangi waktu untuk mempertimbangkan keputusan belanja. Semakin sederhana proses pembayaran, semakin besar kemungkinan seseorang melakukan pembelian impulsif yang akhirnya berkontribusi pada doom spending.

3. Sulit mengontrol pengeluaran kecil

Ilustrasi pembayaran melalui QRIS (pexels.com/iMin Technology)

Pengeluaran dalam jumlah kecil sering dianggap tidak terlalu berpengaruh terhadap kondisi keuangan. Membeli minuman, makanan ringan, langganan aplikasi, atau barang murah secara cashless terasa sangat mudah sehingga jarang diperhitungkan secara serius.

Padahal, apabila dilakukan berulang kali, akumulasi transaksi kecil tersebut dapat menjadi pengeluaran yang cukup besar dalam satu bulan. Banyak orang baru menyadari jumlah pengeluarannya setelah melihat riwayat transaksi atau saldo rekening yang berkurang drastis.

4. Riwayat transaksi sering diabaikan

Belanja Online (freepik.com/freepik)

Aplikasi pembayaran digital sebenarnya menyediakan riwayat transaksi yang lengkap sehingga pengguna dapat mengetahui seluruh pengeluaran mereka. Namun, banyak orang jarang memeriksa atau mengevaluasi catatan tersebut.

Tanpa kebiasaan memantau pengeluaran, seseorang akan kesulitan mengetahui ke mana uang mereka digunakan setiap bulan. Kondisi ini membuat doom spending berlangsung terus-menerus tanpa disadari.

5. Belanja dapat dilakukan kapan saja

Ilustrasi membuka handphone (pexels.com/cottonbro studio)

Kemajuan teknologi membuat aktivitas belanja dapat dilakukan selama 24 jam melalui berbagai aplikasi dan marketplace. Hanya dengan menggunakan ponsel, seseorang dapat membeli hampir semua jenis produk tanpa harus keluar rumah.

Kemudahan akses tersebut membuat peluang melakukan pembelian menjadi jauh lebih sering. Ketika rasa bosan, stres, atau cemas muncul, belanja online menjadi salah satu bentuk pelarian yang akhirnya memicu doom spending.

Sistem pembayaran cashless memberikan banyak manfaat dalam kehidupan modern karena mampu menghadirkan transaksi yang cepat, praktis, aman, dan efisien. Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan baru berupa meningkatnya risiko doom spending. Menghindari doom spending bukan berarti harus meninggalkan sistem pembayaran cashless, melainkan menggunakannya secara lebih bijaksana.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAgsa Tian

Related Article