Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Novel tentang Beban Pekerja Tanpa Upah yang Dilimpahkan ke Perempuan

5 Novel tentang Beban Pekerja Tanpa Upah yang Dilimpahkan ke Perempuan
rekomendasi novel tentang pekerjaan tanpa upah (dok. Faber & Faber/Soldier Sailor | dok. Hachette/The Witch)
Intinya Sih
  • Lima novel ini memperlihatkan bagaimana beban pekerjaan tanpa upah kerap dibebankan kepada perempuan.

  • Kisah-kisah yang ada menyoroti pengasuhan, pekerjaan domestik, dan relasi keluarga yang timpang akibat peran gender.

  • Lewat fiksi, novel-novel ini mengajak pembaca menyadari bahwa unpaid labor perempuan sering dianggap kewajiban, bukan pekerjaan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Di luar pekerjaan profesional yang dilakukan untuk dapat upah, kita sering melupakan unpaid labor. Ia berkenaan dengan pekerjaan-pekerjaan yang umumnya tidak dimonetisasi, seperti bersih-bersih rumah dan merawat anggota keluarga. Memang ada beberapa rumah tangga yang punya privilese untuk membayar pekerja untuk menyelesaikannya, tetapi kerap kali anggota keluarga perempuan yang menanggung ini, rntah istri, ibu, atau anak perempuan.

Gak percaya? Lima novel tentang beban unpaid labor berikut bisa jadi gambarannya. Ini jadi pengingat kalau kita masih sering menyepelekan peran tersebut.

1. The Days of Abandonment (Elena Ferrante)

The Days of Abandonment karya Elena Ferrante
The Days of Abandonment karya Elena Ferrante (dok. Europa Editions/The Days of Abandonment)

Sebagai salah satu novelis yang vokal soal isu feminisme, Elena Ferrante, sukses bikin penonton termenung gara-gara The Days of Abandonment. Kali ini, ia memakai POV seorang perempuan yang secara mendadak ditinggalkan suaminya setelah melakoni 15 tahun pernikahan. Tak hanya dirinya, sang suami juga menelantarkan dua putri mereka dan melimpahkan beban pengasuhan kepada sang istri. Kejadian ini mengguncang psikis si lakon, padahal ia sudah melakukan berbagai upaya untuk menyenangkan sang suami. Rumah selalu diurusnya dengan baik dan kebutuhan keluarganya selalu tertata dengan rapi. Saat si lakon berpapasan dengan mantannya yang sudah menggandeng perempuan lain, ia tak kuat lagi menahan emosinya.

2. The Witch (Marie NDiaye)

The Witch karya Marie Ndiaye
The Witch karya Marie Ndiaye (dok. Hachette/The Witch)

Dalam The Witch, kamu akan berkenalan dengan Lucie, ibu dua anak yang sebenarnya punya kekuatan sihir. Kekuatan itu datang dari ibunya yang sayangnya tak melatih Lucie untuk memaksimalkan kekuatan tersebut karena mungkin malu dan alasan lainnya. Tak seperti sang ibu, Lucie ingin anak-anaknya bisa mengenal dan menggunakan kekuatan magis mereka. Inisiasi pun dimulai, tetapi sebuah konflik lain terjadi, salah satunya menyadarkan Lucie tentang rapuhnya ikatan perkawinan dan kepercayaan yang ia berikan pada sang suami.

3. Vilhelm’s Rooms (Tove Ditlevsen)

Vilhelm's Room karya Tove Ditlevsen
Vilhelm's Room karya Tove Ditlevsen (dok. Macmillan/Vilhelm's Room)

Vilhelm’s Rooms adalah novel terakhir Tove Ditlevsen yang ditulis sebelum ia mengakhiri hidupnya sendiri. Tak pelak, plot novel ini seperti sebuah autobiografi. Lakonnya Lise, penulis yang ditinggal suaminya setelah berpuluh-puluh tahun bersama. Kini berusia 51 tahun, Lise yang kesepian dan depresi membuat sebuah iklan di koran, berharap seseorang bisa menemaninya. Iklan itu sampai ke tangan Kurt, pemuda yang ternyata berniat memanfaatkan keadaan dan memeras harta Lise. Namun, selama itulah, Kurt justru disadarkan akan kisah tragis dan pengorbanan Lise.

4. Soldier Sailor (Claire Kilroy)

Soldier Sailor karya Claire Kilroy
Soldier Sailor karya Claire Kilroy (dok. Faber & Faber/Soldier Sailor)

Soldier Sailor ditulis Kilroy dengan format monolog yang bikin kamu seperti sedang mendengar curhatan seseorang. Kebetulan orang itu adalah perempuan yang sedang mengingat masa-masa sulitnya saat baru saja melahirkan dan untuk pertama kalinya mengemban gelar ibu. Tak seperti kata orang, jadi ibu benar-benar menguras tenaga dan pikirannya. Paling parahnya, ia tak bisa berbagi rasa yang sama dengan suami alias ayah dari bayinya. Saat diminta mengasuh anaknya, si suami akan mengeluh tentang pekerjaan dan bahkan menanyakan hal-hal sepele soal si bayi seolah menormalisasi ketidakmampuan serta sikap tak acuhnya.

5. Frankenstein (Mary Shelley)

Frankenstein karya Mary Shelley
Frankenstein karya Mary Shelley (dok. Penguin/Frankenstein)

Meski tidak gamblang, ada banyak elemen dalam novel Frankenstein yang bisa dikaitkan dengan unpaid labor. Relasi Frankenstein dengan penciptanya, Victor, bisa dilihat sebagai cerminan tipikal ayah yang berjarak dari anak sendiri. Novel itu juga sering dikaitkan dengan simbolisme penghilangan peran perempuan dalam reproduksi mengingat Frankenstein tercipta bukan dari rahim seperti manusia biasa, melainkan potongan-potongan tubuh jenazah manusia yang disusun Victor.

Buku-buku tadi jadi alasan mengapa feminisme ada. Nyatanya, memang pekerjaan-pekerjaan tak berupah kerap dilimpahkan ke perempuan. Salah satu yang paling mudah ialah memasak dan bersih-bersih. Ketika pekerjaan itu dilakukan di rumah, hal tersebut kerap dilimpahkan kepada anggota keluarga perempuan dan disebut sebagai tugas, bahkan kewajiban. Namun, ketika aktivitas itu dilakukan di luar rumah, seperti restoran atau perkantoran, itu mendadak jadi pekerjaan profesional dengan upah. Adapun, pria pun masuk ke sektor itu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More