Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Alasan Psikologi Kamu Suka Mengulang Skenario Percakapan Masa Lalu

mengapa percakapan masa lalu terus berulang di kepala
potret seorang wanita sedang merenung (unsplash.com/Vitaly Gariev)
Intinya sih...
  • Menghidupkan kembali momen sosial negatif: - Manusia lebih memperhatikan pengalaman negatif daripada positif. - Kecemasan dan perenungan memiliki pola saraf yang sama.
  • Sebab kamu memiliki kecemasan sosial yang tinggi: - Kecemasan sosial dapat bermanifestasi dalam cara yang halus. - Semakin takut dengan evaluasi negatif, semakin besar kemungkinan menganalisis percakapan secara detail.
  • Perfeksionisme internal dan komunikasi: - Individu dengan perfeksionisme tinggi cenderung melakukan pemikiran negatif secara berulang. - Harapan-harapan menjadi internal, menciptakan lingkaran pengulangan mental.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap manusia pasti telah melewati berbagai jenis percakapan di dalam hidupnya. Percakapan itu ada yang menyenangkan, maupun tidak menyenangkan, dan kamu mungkin masih belum bisa melupakannya. Percakapan yang kurang mengenakan tak jarang membekas lama, bahkan terus berulang di kepala. 

Pemutaran ulang percakapan di dalam internal diri ini mungkin bisa terasa menyebalkan dan bisa sangat menyiksa hingga mengganggu  tidur. Jika kamu mendapati diri terjebak dalam pemutaran ulang mental, ada beberapa alasan paling umum yang mungkin jadi penyebabnya. Pahami lima alasan dari sudut pandang psikologi tersebut berikut ini!

1. Menghidupkan kembali momen sosial negatif

tips pengambilan risiko agar lebih terukur ala cautious people
potret seorang wanita sedang merenung (pexels.com/Havanna Sousa)

Salah satu penemuan kuat dalam psikologi mengungkap bahwa manusia lebih  memperhatikan pengalaman negatif daripada pengalaman positif. Kondisi ini dikenal dengan bias negatif dan dapat memengaruhi bagaimana seseorang melakukan interaksi  sosial, bahkan bisa menyerupai ancaman berbahaya. Studi Neuroimaging 2024 menemukan kekhawatiran dan perenungan memiliki pola saraf yang sama.

Studi itu menjelaskan bagaimana otak mendeteksi  sesuatu yang terasa mengancam, termasuk  rasa malu atau ketidakpastian dalam percakapan, otak akan terus meninjau ulang, seolah-olah berupaya memecahkan masalah. Namun, saat bias negatif berperan, otak akan cenderung melakukan hal sebaliknya, dan memikirkan hingga ke detail terkecil interaksi yang  tidak menyenangkan tersebut.

2. Sebab kamu memiliki kecemasan sosial yang tinggi

mengapa percakapan masa lalu terus berulang di kepala
potret seorang wanita sedang merenung (unsplash.com/Kev Costello)

Banyak orang masih berasumsi, bahwa kecemasan sosial berarti kepanikan ekstrem atau kegugupan yang bahkan, terlihat saat ada di situasi sosial sederhana sekalipun. Namun, kenyataannya kecemasan sosial dapat  bermanifestasi dalam cara yang jauh lebih halus. Kondisi dapat terlihat saat kamu merenung secara berlebihan pasca-kejadian atau memutar ulang interaksi dan mencari potensi kesalahan.

Dalam Journal of Psychiatric Research tentang korelasi antara kecemasan sosial dan seberapa sering seseorang memutar percakapan masa lalu. Saat seseorang semakin takut dengan evaluasi negatif, semakin besar kemungkinan mereka menganalisis percakapan secara detail. Situasi ini dapat terjadi, bahkan saat kamu menganggap dirimu percaya diri dan mampu secara  sosial.

3. Perfeksionisme internal dan komunikasi

mengapa percakapan masa lalu terus berulang di kepala
potret seorang wanita sedang merenung (unsplash.com/Sinitta Leunen)

Terdapat sebuah keyakinan di tengah masyarakat sejak dahulu. Seseorang harus berkomunikasi tanpa cela, menghindari mengecewakan orang lain, atau mengelola suasana emosional di satu ruangan. Saat harapan-harapan itu menjadi internal, percakapan sehari-hari dapat seperti pertunjukkan yang penuh tekanan.

Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan perfeksionisme maladatif yang tinggi cenderung melakukan pemikiran negatif secara lebih berulang. Kamu  mungkin mengembangkan keyakinan, “seharusnya mengatakan percakapan tersebut dengan lebih baik” atau “seharusnya tahu apa yang mereka maksud”. Pola ini akhirnya  menciptakan akar dari lingkaran pengulangan mental.

4. Mendapatkan rasa kontrol emosi yang palsu

mengapa percakapan masa lalu terus berulang di kepala
potret seorang wanita merenung (unsplash.com/Kinga Howard)

Beberapa orang memilih untuk terus mengulang percakapan, karena merasa itu menciptakan kontrol sementara. Terlepas interaksi dalam percakapan itu sudah berakhir, mengulangi percakapan memberikan ilusi kamu lebih menguasai atau siap. Orang yang secara konsisten terjebak pemikiran negatif berulang, percaya bahwa cara ini dapat membantu mereka mencegah kejadi serupa terulang kembali.

Namun, apa yang terjadinya sebaliknya. Pasalnya, perenungan justru yang dapat meningkatkan suasana hati negatif daripada menyelesaikan masalahnya. Bukan artinya kamu melakukan kesalahan besar dengan mengulang-ulang percakapan kurang mengenakan di masa lalu. Hanya saja, otak kamu berusaha menyelesaikan percakapan itu dengan cara yang kurang efektif.

5. Ketakutan akan disalahpahami

mengapa percakapan masa lalu terus berulang di kepala
potret seorang wanita sedang olahraga (unsplash.com/Samir Vanegas)

Kecenderungan mengulang percakapan di masa lalu juga dapat berasal dari pengalaman yang berakar pada lingkungan rasional awal. Situasi ini terutama terjadi pada individu yang tumbuh  di lingkungan yang penuh kesalahpahaman. Yang mana saat kamu melakukan kesalahan, dapat mengakibatkan konflik, hukuman, atau penarikan diri secara emosional.

Penelitian menunjukkan bahwa orang dewasa dengan riwayat parenting  yang tidak konsisten atau kritis cenderung mengembangkan internal monitoring yang lebih tinggi. Selain itu, juga mengembangkan pola berpikir berulang yang lebih kuat yang berfokus pada diri sendiri. Otak mereka belajar bahwa mengulang percakapan adalah bentuk perlindungan diri.

Mengulang-ngulang percakapan di kepala kamu tidak selalu tentang penyesalan atau rasa bersalah. Terkadang itu adalah cara otak kamu untuk melakukan apa yang menurut dirimu butuhkan, cara untuk memahami situasi, melindungi diri kamu, menyelamatkan diri, hingga memegang kembali kendali akan diri seutuhnya. Namun, saat kamu otak kamu terus mengulang percakapan lama berlebihan, itu bisa menguras energi, mengubah suasana hati, dan mendistorsi ingatan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Life

See More

Inspirasi Desain Rumah ala Drama Korea Idol I, Sederhana namun Indah!

09 Jan 2026, 18:03 WIBLife