Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kerajinan Amai Setia (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
Kerajinan Amai Setia (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

Intinya sih...

  • Amai Setia didirikan sebagai sekolah keterampilan untuk perempuan, kemudian berkembang menjadi tempat belajar membaca, menulis, dan berhitung.

  • Pada tahun 1915, Amai Setia diakui oleh pemerintah Hindia Belanda dan menjadi pusat kerja sama antara perajin dan pemerintah dalam penjualan karyanya.

  • Roehana Koeddoes adalah sosok Kartini yang memajukan perempuan jauh sebelum kata emansipasi dikenal, membuka pintu suara bagi perempuan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Di dunia jurnalistik, nama Roehana Koeddoes tidaklah asing lagi. Sosok asal Kotogadang, Sumatera Barat itu dikenal sebagai wartawati sejak tahun 1912. Lewat surat kabar Soenting Melajoe, ia menyebarkan semangat edukasi untuk perempuan yang kala itu terhalang banyak batasan.

Atas dedikasinya di dunia jurnalistik itulah, pemerintah daerah Sumatera Barat memberinya penghargaan Wartawati Pertama pada tahun 1974. Tiga belas tahun berikutnya, ia mendapatkan penghargaan Perintis Pers Indonesia. Belum cukup, pada tahun 2007, ia diganjar Bintang Jasa Utama.

Kiprahnya dalam dunia pemberitaan tidak dianggap sebagai rutinitas biasa. Banyak dampak yang ia hasilkan, terlebih dalam situasi penjajahan di masa itu. Lewat tulisannya, Roehana turut membakar semangat pemuda-pemudi Indonesia dalam perjuangan pergerakan politik. Tak ayal, Roehana dianugerahi sebutan Pahlawan Nasional Indonesia pada 7 November 2019. Hal itu termaktub dalam Keputusan Presiden No. 120/TK/2019.

Namun, di luar karyanya sebagai jurnalis, masih ada satu legasi Roehana yang tak boleh terlupakan. Legasi yang masih abadi hingga saat ini dan turut memberdayakan perempuan dari keterbelakangan dan keterbatasan. Legasi itu bernama Amai Setia.

1. Mulanya, Amai Setia merupakan sekolah keterampilan yang ditujukan untuk perempuan lalu berkembang menjadi belajar membaca, menulis, dan berhitung

Potret Roehana Koeddoes di acara IDN Times berjudul 3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/ Krisna)

Roehana adalah sosok perempuan yang lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam pada masa Hindia Belanda. Ia merupakan anak dari kepala jaksa pada masa itu. Ia dikenal cerdas walaupun tidak mengenyam pendidikan formal.

Roehana Koeddoes dan kawannya, yakni Rakena Puti dan Hadisah mendirikan Kerajinan Amai Setia pada 11 Februari 1911. Di sini, para perempuan diajak belajar menyulam, menjahit dengan mesin, membuat bordir, merenda, hingga menenun. Saat itu, keahlian tersebut baru dikuasai perempuan Belanda saja. Dari upaya Roehana, muncullah karya yang ikonik hingga saat ini yakni motif bordir bunga yang tidak hanya apik dan rapi, tapi menyiratkan kesan klasik sekaligus etnik.

Lantas, delapan tahun kemudian, tepatnya 23 Februari 1919, Kerajinan Amai Setia telah menggunakan gedungnya sendiri. Hingga kini, gedung tersebut masih berdiri kokoh, bahkan menjadi ikon istimewa bagi daerah Kotogadang. Kini, gedung tersebut dijadikan sebagai museum karena nilai historisnya yang tinggi dan dampak besarnya pada masyarakat sekitar.

"Yayasan kami didirikan pada tahun 1911. Kalau dilihat, gedung ini adalah gedung yang didirikan dengan bantuan warga setempat, di mana Ibu Roehana Koeddoes menjual sertifikat di mana bisa dibeli dan duitnya dipakai untuk membeli tanah dan membangun gedung kerajinan Amai Setia pada tahun 1915 dan sampai sekarang tetap berdiri. kami juga tetap menggunakan gedung ini untuk menjalankan mimpi dan visi dari Ibu Roehana Kudus," ucap Trini Tambu, Ketua Yayasan Amai Setia dalam pembukaan acara 3 Wajah Roehana Koeddoes Perempuan Jurnalis Pertama di Indonesia pada Jumat (6/2/2026) di IDN HQ, Jakarta.

Bukan sekadar membuat kerajinan saja, perempuan yang bergabung di Amai Setia belajar membaca, menulis, dan berhitung. Meski Roehana sendiri tidak pernah mendapatkan pendidikan formal, namun dengan niat memajukan bangsa dan kegigihannya, ia tekun belajar membaca dan berbahasa dari sang ayah yang seorang jaksa. Keahlian itu diteruskannya pada perempuan-perempuan lain lewat Amai Setia.

Pada tahun 1923, Amai Setia sempat membuka nijverheidsschool atau sekolah industri. Sayangnya, sekolah ini hanya bertahan hingga tahun 1942 lantaran pasukan kolonial Jepang telah memasuki dan menduduki sejumlah tempat di Indonesia.

2. Pada tahun 1915, Amai Setia mendapat pengakuan pemerintah Hindia Belanda

Acara IDN Times berjudul 3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/ Krisna)

Upaya Roehana memajukan perempuan di Kotogadang tak sia-sia. Empat tahun setelah didirikan, Amai Setia diakui secara resmi oleh pemerintah Hindia Belanda. Amai Setia menjadi pusat kerja sama antara perajin dan pemerintah Belanda dalam penjualan karyanya di kota besar dan luar negeri. Saat itu, Amai Setia menjadi produsen yang dapat memenuhi standar pembelian internasional.

"Kalau dilihat, ini di awal tahun 1911, tidak hanya dengan kerajinan, dengan membaca dan juga menulis, tapi juga menjual hasil kerajinan untuk mendapatkan income bagi wanita-wanita di Kotogadang saat itu. Jadi sangat signifikan, tidak hanya untuk membaca menulis, tapi juga menjual hasil dan mereka mendapatkan penghasilan yang bisa untuk membantu keluarga," lanjut Trini tentang kegiatan di Amai Setia di awal pendiriannya.

Meski jerih payahnya menghasilkan buah yang manis, tak lantas hidup Roehana tenang-tenang saja. Banyak rintangan yang ia hadapi, terutama dari lingkungan sosial di mana masyarakat pada masa itu belum siap dengan kemajuan kaum perempuan. Saat ini, peran perempuan dianggap hanya di dapur, kasur, dan sumur. Namun, langkah Roehana justru kian kokoh dan teguh dengan apa yang diperjuangkannya.

Kini, Kerajinan Amai Setia berkembang menjadi Yayasan Kerajinan Amai Setia Kotogadang dan hingga kini giat dalam upaya pelestarian adat budaya serta kerajinan Kotogadang. Selain kerajinan yang menyangkut tekstil seperti renda, sulaman, dan bordir, Amai Setia juga rumah bagi perajin perak.

3. Pena dan pikiran perempuan bisa menggerakkan perempuan. Itulah yang terjadi pada Roehana Koeddoes

Potret Roehana Koeddoes di acara IDN Times berjudul 3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia di kantor IDN HQ, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026). (IDN Times/ Krisna)

"Kaum perempuan harus dimajukan mengikuti aliran zaman. Bangsa kita masih terbelakang dalam kemajuan hidup. Untuk itu, tidak dapat tidak kaum perempuan pun harus memasuki sekolah seperti kaum laki-laki. Karena dengan sekolahlah, ilmu pengetahuan diperoleh," Trini mengutip kata-kata Roehanna dalam artikel berjudul Perempuan pada tahun 1911 di surat kabar Soenting Melajoe.

Dari kutipan tersebut, tampak jelas bahwa Roehana adalah sosok Kartini lain yang patut diperhitungkan. Jauh sebelum kata emansipasi dikenal, ia telah menggaungkannya. Ia dididik di keluarga yang paham pentingnya edukasi untuk perempuan. Maka, langkah awalnya memajukan perempuan dimulai dari halaman rumahnya.

"Beliau membuat sekolah kecil di mana beliau mengajarkan anak, teman-teman perempuannya untuk membaca dan menulis. Beliau sebenarnya sangat fasih dengan bahasa Belanda dan bahasa Indonesia. Jadi, visi yang dikukuhkan beliau adalah mendirikan Kerajinan Amai Setia, zaman dulu disebut sebagai KAS. Di sini, murid-murid Amai Setia sangat banyak ya," kisah Trini.

Lantas, Roehana membuka pintu suara bagi perempuan. Perempuan mempunyai ruang amannya. Itulah bukti jika pena dan pemikiran perempuan tidak dapat diremehkan begitu saja. Pena dan pemikiran perempuan dapat berdampak untuk bangsa. Bertahun-tahun setelah upaya yang dibuka Roehana, kini perempuan bisa menggapai mimpinya. Perempuan dapat menjadi apa pun yang mereka inginkan. Perempuan berdaya dan bermanfaat bagi sesamanya.

"Saya rasa, warisan terbesar Ibu Roehana adalah keyakinan bahwa pena dan pikiran seorang perempuan dari mana pun, bisa menggerakkan perubahan. Sekarang, pena dan pikiran itu ada di tangan kita semua. Pertanyaannya adalah bagaimana kita akan menggunakannya?" pungkas Trini.

Editorial Team