Jakarta, IDN Times - Di dunia jurnalistik, nama Roehana Koeddoes tidaklah asing lagi. Sosok asal Kotogadang, Sumatera Barat itu dikenal sebagai wartawati sejak tahun 1912. Lewat surat kabar Soenting Melajoe, ia menyebarkan semangat edukasi untuk perempuan yang kala itu terhalang banyak batasan.
Atas dedikasinya di dunia jurnalistik itulah, pemerintah daerah Sumatera Barat memberinya penghargaan Wartawati Pertama pada tahun 1974. Tiga belas tahun berikutnya, ia mendapatkan penghargaan Perintis Pers Indonesia. Belum cukup, pada tahun 2007, ia diganjar Bintang Jasa Utama.
Kiprahnya dalam dunia pemberitaan tidak dianggap sebagai rutinitas biasa. Banyak dampak yang ia hasilkan, terlebih dalam situasi penjajahan di masa itu. Lewat tulisannya, Roehana turut membakar semangat pemuda-pemudi Indonesia dalam perjuangan pergerakan politik. Tak ayal, Roehana dianugerahi sebutan Pahlawan Nasional Indonesia pada 7 November 2019. Hal itu termaktub dalam Keputusan Presiden No. 120/TK/2019.
Namun, di luar karyanya sebagai jurnalis, masih ada satu legasi Roehana yang tak boleh terlupakan. Legasi yang masih abadi hingga saat ini dan turut memberdayakan perempuan dari keterbelakangan dan keterbatasan. Legasi itu bernama Amai Setia.
