Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Tanda Kamu Ambil Untung Kekecilan saat Jualan

berjualan sepatu
ilustrasi berjualan sepatu (pexels.com/Kampus Production)
Intinya sih...
  • Labamu tak cukup untuk hidup sejahtera
  • Sulit memutar modal saat harga barang naik
  • Tidak bisa mengembangkan usaha dan merawat tempat serta alat usaha
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Berjualan harus untung. Jangan sampai kamu malah buntung. Dengan keuntungan itu, dirimu dapat hidup serta mengembangkan usaha. Jangan terlalu takut mencari untung seolah-olah itu kejahatan.

Memang kadang ada pembeli yang menginginkan harga semurah mungkin. Sampai usahanya menawar harga terdengar kejam. Seperti dengan mereka mencela barang daganganmu, membandingkannya dengan toko lain, dan sebagainya.

Apa pun itu, dirimu tidak perlu selalu mengikuti keinginan calon konsumen yang tak realistis. Juga gak sehat buat kelanjutan usahamu. Enam hal berikut menandakan kamu ambil untung kekecilan saat jualan. Naikkan sedikit keuntungan dari tiap produk biar usahamu bisa bertahan.

1. Barang laku keras, tapi hidupmu gak tambah sejahtera

menjalankan usaha
ilustrasi menjalankan usaha (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Memang perkara hidupmu sejahtera atau tidak ditentukan oleh beberapa hal. Kamu bisa tetap hidup susah meski meraup untung besar dari usaha yang dijalankan. Ini terjadi apabila ada kesalahan dalam pengelolaan keuangan.

Misal, uang yang seharusnya diputar menjadi modal malah habis untuk kesenangan pribadi. Atau, laba besar masih belum sebanding dengan tanggunganmu. Contoh, total laba 10 juta rupiah per bulan.

Akan tetapi, kamu mesti kasih dukungan finansial untuk banyak sekali saudara. Jika pengelolaan keuanganmu sudah baik dan dagangan laku, tapi hidup tetap tidak sejahtera artinya cuma satu. Laba kekecilan sehingga pendapatan bersihmu minim.

2. Sulit memutar modal saat harga barang atau bahan naik

berjualan makanan
ilustrasi berjualan makanan (pexels.com/zhang kaiyv)

Sebagai pedagang, kamu selalu berhadapan dengan harga yang fluktuatif. Apa pun produk yang dijual tidak mungkin harganya selalu sama. Misalnya, dirimu berjualan makanan.

Dalam satu menu saja banyak sekali bahan dan bumbu yang digunakan. Belum minyak goreng serta gas. Kenaikan harga bahan, bumbu, gas, atau minyak goreng akan menguji daya tahan usahamu.

Bila laba yang diambil cukup, usahamu tak terlalu mudah terguncang saat terjadi kenaikan harga. Kamu malah masih bisa untuk sementara tak menaikkan harga sehingga konsumen suka berbelanja di tempatmu. Juga ada tambahan pembeli yang beralih dari toko lain.

Kalau harga terus naik baru dirimu mau tak mau menyesuaikan harga. Sebaliknya bila laba kekecilan, usahamu lumpuh begitu terjadi ketidakstabilan harga barang. Dalam keuanganmu tak ada kelonggaran dana guna mengantisipasi hal tersebut.

3. Tidak bisa mengembangkan usaha

melayani pelanggan
ilustrasi melayani pelanggan (pexels.com/RDNE Stock project)

Tidak bisa lain dengan tak mau mengembangkan usaha. Kadang ada orang yang merasa usahanya sudah cukup buat memberinya penghidupan. Mereka gak menginginkan usaha menjadi lebih besar lagi.

Barangkali mereka enggan repot mengurusnya atau khawatir risiko malah muncul setelah usaha lebih gede. Sementara kondisi kamu gak bisa mengembangkan usaha. Artinya, sebenarnya dirimu ingin usaha tersebut lebih maju.

Bisa dengan kamu membuka cabang atau pindah ke tempat yang lebih luas. Supaya ruang untuk makan di tempat plus dapurnya lebih lapang. Hanya saja dirimu terkendala oleh ketiadaan dana. Laba yang masuk selama ini cuma cukup buat hidup sehari-hari. Tak ada sebagian kecil pun yang dapat dipersiapkan guna mengembangkan usaha.

4. Juga sulit melakukan perawatan tempat serta alat usaha

menjalankan usaha
ilustrasi menjalankan usaha (pexels.com/女子 正真)

Boro-boro kamu mengembangkan usaha. Untukmu merawat tempat serta peralatan usaha saja kesulitan. Coba lihat tempat usahamu. Kapan terakhir kali dirimu mengecatnya? Usahamu barangkali bertahan bertahun-tahun.

Namun, makin ke sini tempatnya makin tak keruan. Cat mengelupas di mana-mana. Jika kamu objektif pasti sadar bahwa tempat usaha yang seharusnya tampak bersih dan menarik justru kian menyerupai bangunan terbengkalai.

Demikian pula peralatan yang digunakan bukan sengaja jadul untuk membangun kesan antik. Akan tetapi, memang dirimu tak memiliki dana buat peremajaannya. Beberapa alat yang rusak serta tidak layak pakai terpaksa masih digunakan.

5. Gak bisa gaji karyawan dengan layak

sejumlah juru masak
ilustrasi sejumlah juru masak (pexels.com/Ali Alcántara)

Terkadang menjalankan usaha serba salah. Kamu sudah gak bisa mengerjakan semuanya sendirian. Harus ada karyawan yang membantumu baik satu atau beberapa.

Namun, meski daganganmu laku keras ternyata hasilnya tak cukup buat membayar gaji karyawan dengan layak. Cuma orang yang benar-benar terdesak kebutuhan yang mau bekerja di tempatmu. Itu pun gak lama.

Begitu ada pekerjaan lain yang pendapatannya lebih baik, mereka langsung pergi. Kamu mesti mencari lagi karyawan dan ini melelahkan. Coba hitung dengan cermat keuntungan dari tiap produk, totalnya, dan standar gaji karyawan. Di luar pos buat perputaran modal, minimal harus ada uang yang cukup untukmu dan satu karyawan hidup layak.

6. Protes tak cuma datang dari 1 atau 2 pedagang yang sejenis

diprotes pedagang lain
ilustrasi diprotes pedagang lain (pexels.com/Kampus Production)

Mereka protes karena harga-harga di tokomu terlalu rendah. Ini menciptakan persaingan yang gak sehat dalam dunia usaha. Kamu rela membanting harga supaya daganganmu paling murah dari seluruh usaha sejenis.

Protes dari pada penjual ini sebaiknya tak terus diabaikan. Bukan tidak mungkin nantinya mereka menyusun strategi buat beramai-ramai menghancurkan usahamu. Tentu dalam persaingan usaha selalu ada orang yang gak menyukaimu.

Akan tetapi, pastikan sumber masalahnya bukan dirimu yang memasang harga terlalu rendah. Lagi pula, cara berdagang banting-bantingan harga bikin kamu sekadar membakar uang. Usahamu tidak bisa bertahan selamanya dengan cara ini.

Ambil untung memang jangan terlalu besar. Nanti daganganmu gak diminati orang. Meski begitu, ambil untung kekecilan saat jualan juga bikin usahamu tak mendapatkan apa-apa. Kamu hanya capek menjalankannya tanpa merasakan hasil yang sepadan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Kelebihan Parenting Orangtua INFJ, Sangat Berkomitmen!

15 Jan 2026, 13:15 WIBLife