Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Benar Buku yang Kita Baca Bisa Mengubah Cara Pandang Orang?

4 min read
Apa Benar Buku yang Kita Baca Bisa Mengubah Cara Pandang Orang?
ilustrasi membaca buku (unsplash.com/Christina @ wocintechchat.com)
  • Pilihan genre buku kerap memicu stereotip tentang kepribadian, kemampuan, atau kondisi hidup pembacanya, padahal alasan membaca bisa sekadar rasa ingin tahu dan tidak mencerminkan diri sepenuhnya.
  • Bacaan nonfiksi atau diskusi yang runtut dapat membangun kesan berwawasan, tetapi jumlah maupun tingkat kesulitan buku bukan ukuran pasti kecerdasan; penerapan pengetahuan lebih menentukan.
  • Kesamaan selera buku dapat membuka obrolan dan kedekatan, sementara sikap menghargai perbedaan bacaan menentukan kesan; pilihan buku sebaiknya bukan satu-satunya dasar menilai seseorang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pilihan buku kadang memunculkan penilaian tertentu terhadap pembacanya. Orang yang suka membaca biografi tokoh terkenal bisa dianggap ambisius, penggemar novel romantis dicap bucin, sementara pembaca buku horor mungkin dinilai punya selera yang aneh. Padahal, alasan seseorang menyukai sebuah buku bisa jauh lebih sederhana daripada anggapan orang lain.

Menariknya, penilaian itu bisa memengaruhi cara kita memperlakukan seseorang, mulai dari menganggapnya punya banyak wawasan hingga merasa punya kesamaan dengannya. Lantas, seberapa besar pengaruh buku yang dibaca terhadap cara orang lain memandang kita?

  1. 1. Pilihan buku bisa memunculkan stereotip

    ilustrasi buku self-help
    ilustrasi buku self-help (unsplash.com/iAm Evolving)

    Genre yang disukai seseorang sering dikaitkan dengan sifat tertentu. Penggemar buku sejarah dianggap suka belajar dari masa lalu, pembaca buku keuangan dinilai pandai mengatur uang, sedangkan orang yang menyukai novel fantasi mungkin dianggap gemar berkhayal. Anggapan seperti ini membuat orang merasa bisa mengenali kepribadian seseorang hanya dari genre bacaannya.

    Padahal, orang membaca buku karena banyak alasan. Seseorang bisa membaca buku keuangan karena sedang kesulitan mengatur pengeluaran, bukan karena sudah mahir mengelola uang. Ada pula orang yang membaca biografi karena penasaran dengan kehidupan tokohnya, bukan karena ingin meniru kesuksesannya. Genre buku memang bisa memberi petunjuk tentang minat seseorang, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan sifat atau kemampuannya.

  2. 2. Buku yang dibaca bisa memengaruhi kesan tentang kecerdasan

    ilustrasi membaca buku
    ilustrasi membaca buku (unsplash.com/Caroline Veronez)

    Orang yang sering membaca buku nonfiksi, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, atau membahas hasil bacaannya dengan runtut bisa dianggap berwawasan luas. Penilaian ini muncul karena orang lain melihat adanya pengetahuan yang bisa ia bagikan. Apalagi, jika ia mampu menjelaskan topik yang rumit dengan bahasa sederhana dan menjawab pertanyaan tanpa sekadar mengulang isi buku.

    Namun, jumlah buku atau tingkat kesulitannya bukan ukuran pasti kecerdasan seseorang. Membaca banyak buku pengembangan diri, misalnya, tidak otomatis membuat seseorang mampu menyelesaikan masalah dengan baik. Sebaliknya, orang yang lebih suka novel bisa memiliki kemampuan memahami karakter, konflik, dan sudut pandang yang beragam. Kesan cerdas biasanya lebih kuat ketika pengetahuan dari bacaan terlihat dalam cara seseorang berpikir dan berdiskusi.

  3. 3. Selera buku bisa membuat kita lebih mudah akrab dengan orang lain

    ilustrasi buku
    ilustrasi buku (unsplash.com/Brett Jordan)

    Mengetahui seseorang menyukai buku yang sama bisa menjadi awal percakapan yang menyenangkan. Dua penggemar novel misteri dapat saling membahas dugaan pelaku, sedangkan pembaca biografi mungkin asyik bertukar cerita tentang tokoh yang mereka kagumi. Kesamaan minat memberi mereka bahan obrolan tanpa harus mencari topik dari awal.

    Dari percakapan itu, seseorang juga bisa merasa lebih dekat karena menemukan orang yang memahami kegemarannya. Buku yang sebelumnya hanya dinikmati sendiri berubah menjadi pengalaman yang bisa dibagikan. Meski begitu, kesamaan selera bukan jaminan dua orang akan cocok dalam segala hal. Mereka mungkin menyukai penulis yang sama, tetapi berbeda pendapat tentang isi ceritanya atau memiliki nilai hidup yang bertolak belakang.

  4. 4. Orang bisa salah menilai kita dari buku yang sedang dibaca

    ilustrasi membaca buku
    ilustrasi membaca buku (unsplash.com/Nathan Aguirre)

    Buku yang sedang dibaca seseorang kerap dianggap mencerminkan keadaan hidupnya. Ketika seseorang membawa buku tentang patah hati, misalnya, orang lain mungkin mengira ia baru putus cinta. Jika ia membaca buku tentang kesehatan mental, ada kemungkinan orang langsung berasumsi bahwa ia sedang menghadapi masalah pribadi. Padahal, ia bisa saja membaca karena penasaran atau ingin memahami pengalaman orang lain.

    Kesimpulan terburu-buru seperti ini dapat membuat seseorang merasa harus menjelaskan pilihan bacaannya. Padahal, tidak semua buku yang kita baca berkaitan langsung dengan kehidupan pribadi, loh. Kita bisa menikmati cerita tentang pembunuhan tanpa punya kecenderungan melakukan kekerasan, atau membaca buku tentang bisnis tanpa berencana menjadi pengusaha. Rasa ingin tahu tidak selalu berarti pengalaman pribadi.

  5. 5. Sikap saat membahas buku ikut menentukan penilaian orang

    ilustrasi klub buku
    ilustrasi klub buku (pexels.com/www.kaboompics.com)

    Menyukai buku tertentu bukan masalah, tetapi cara seseorang membicarakan kesukaannya bisa memengaruhi kesan orang lain. Orang yang antusias merekomendasikan buku dan bersedia mendengar pendapat berbeda biasanya lebih mudah diajak berdiskusi. Ia tidak harus sepakat dengan semua orang untuk menikmati percakapan tentang bacaan.

    Sebaliknya, seseorang bisa terkesan menyebalkan ketika terus meremehkan buku yang tidak disukainya. Misalnya, ia menyebut pembaca komik kekanak-kanakan atau menganggap novel populer tidak layak dibaca. Padahal, setiap orang punya alasan sendiri dalam memilih bacaan. Ketika selera pribadi dijadikan standar untuk merendahkan orang lain, pembicaraan tentang buku justru bisa menciptakan jarak.

    Buku yang dibaca memang bisa memengaruhi cara orang lain menilai kita. Karena itu, kita tidak perlu memilih buku hanya demi membangun kesan tertentu. Membaca genre apa pun sama-sama bisa memberi pengalaman dan pengetahuan, tergantung pada isi serta cara kita menikmatinya. Begitu pula saat menilai orang lain, pilihan bukunya boleh menjadi pembuka obrolan, tetapi jangan dijadikan satu-satunya dasar untuk mengenal dirinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More