Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apakah Boleh Memperbaiki Suasana Hati dengan Makan Enak?

Apakah Boleh Memperbaiki Suasana Hati dengan Makan Enak?
ilustrasi aneka hidangan (pexels.com/Sidik Kurniawan)
Intinya Sih
  • Makan enak bisa membantu memperbaiki suasana hati saat stres karena rasa lezatnya memberi efek menenangkan meski masalah belum sepenuhnya hilang.
  • Kemampuan membeli makanan enak menunjukkan kondisi finansial yang cukup baik dan dapat meningkatkan rasa percaya diri menghadapi persoalan hidup.
  • Menikmati hidangan lezat perlu dibatasi agar tidak mengganggu kesehatan, keuangan, atau menjadi pelarian utama setiap kali menghadapi masalah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Apa yang biasa dilakukan olehmu saat menghadapi masalah? Selain nantinya kamu akan mencari solusi, barangkali rasa stres mendorongmu buat membeli makanan yang enak-enak. Kamu tak sendirian.

Banyak orang merasa lebih terdorong buat menikmati hidangan lezat ketika merasa stres. Rasa makanan itu seakan-akan mengalihkan kesedihan dan mengurangi rasa pusing. Sering kali bukan cuma rasa lebih nikmat yang dicari.

Akan tetapi, sebagian orang juga ingin makan lebih banyak dari biasanya. Sebenarnya boleh gak sih, kamu memperbaiki suasana hati yang negatif menjadi lebih positif dengan makan apa pun yang diinginkan? Mana yang lebih baik, tetap berusaha mengendalikan hawa nafsu atau justru melonggarkannya sejenak?

1. Menikmati makanan lezat berdampak positif karena langsung dirasakan

masakan kepiting
ilustrasi masakan kepiting (pexels.com/Kenneth Surillo)

Bayangkan seandainya dalam kondisi kamu bad mood oleh sesuatu malah harus menyantap makanan yang gak enak. Pasti dirimu makin tidak ingin menyentuhnya. Mending kamu sekalian sama sekali tak makan apa pun.

Sementara hidangan lezat memberikan efek sebaliknya. Tentu kamu gak lantas lupa sepenuhnya terhadap persoalan yang sedang dihadapi. Rasa pusing karena memikirkannya masih ada.

Nafsu makan juga kurang baik. Akan tetapi, adanya menu yang menggugah selera cukup memperbaiki suasana hati. Kamu memang bukan anak kecil yang gampang bahagia oleh makanan enak. Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa hidangan selezat itu sedikit melegakanmu.

2. Bisa beli makanan enak juga tanda kondisi finansialmu cukup baik

memesan makanan
ilustrasi memesan makanan (pexels.com/Deni Priyo)

Jenis makanan yang disebut enak tentu berbeda-beda bagi setiap orang. Begitu pula harganya. Namun, jika kebetulan makanan enak versimu berharga lumayan, bisa membelinya kasih sinyal positif. Masalah yang dihadapi memang bukan terkait keuangan.

Akan tetapi, kemampuanmu membelinya makin menegaskan bahwa setidaknya dari segi finansial masih baik-baik saja. Itu menambah kepercayaan dirimu dalam menghadapi persoalan apa pun. Bahkan ketika masalahnya sama sekali tidak berhubungan dengan duit.

Seperti tekanan kerja dari atasan hingga perselingkuhan pasangan. Keyakinan bahwa kamu masih punya cukup banyak uang memberikan ruang aman secara psikis. Situasinya memang sedang kurang baik. Akan tetapi, jelas bukan yang terburuk selama masih ada uang di tangan dan kamu bisa jajan yang cukup mahal.

3. Namun, makan makanan enak harus memperhatikan kesehatan

menikmati makanan
ilustrasi menikmati makanan (pexels.com/Nadin Sh)

Masalah baru akan muncul apabila keinginanmu buat menikmati hidangan-hidangan lezat membuatmu lupa. Ada kesehatan yang harus dijaga. Malah kesehatan ini semestinya menjadi prioritas dalam kondisi seperti apa pun.

Jangan sampai kamu menuruti dorongan makan enak terus hingga jatuh sakit. Terutama saat makanan enak versimu harus yang berlemak tinggi, sangat gurih serta asin, supermanis, dan sebagainya. Dirimu boleh menikmati berbagai sajian lezat.

Namun, cegah makanan tersebut menjadi senjata makan tuan buat kesehatanmu. Tetap ingat makanan-makanan yang mesti dipantang. Demikian pula apa pun jenis makanannya jangan dikonsumsi secara berlebihan. Sekadar agar stres agak berkurang dengan icip-icip hidangan secukupnya.

4. Juga jangan bikin dompet sekarat

memotret makanan
ilustrasi memotret makanan (pexels.com/Kenneth Surillo)

Ketika kamu mau makan enak apa pun serta di mana pun, sadari betul kemampuan keuanganmu. Jika kemampuanmu sesungguhnya maksimal 50 ribu rupiah sekali makan, misalnya. Jangan nekat makan enak 100 ribu rupiah.

Itu sudah melebihi kemampuan dompetmu. Lagi pula, ada kecenderungan keinginan makan enak tidak hanya sekali ini. Setidaknya dalam beberapa hari sampai seminggu ke depan dirimu ingin kembali menikmati hidangan yang membangkitkan nafsu makan.

Katakanlah setiap kali makan, kamu menambah 50 ribu rupiah dari bujet. Dalam sepekan sudah ada kebocoran sebesar 350 ribu rupiah. Angka yang signifikan apabila gaji masih pas-pasan. Itu yang bisa bikin kamu habis makan enak bukannya bahagia malah diam-diam menderita dan suasana hati tambah jelek.

5. Juga sebaiknya tidak menjadi pelarian tiap ada masalah

hidangan lengkap
ilustrasi hidangan lengkap (pexels.com/kandhi bharata)

Masalah akan selalu datang dalam hidupmu. Kadang seakan-akan ada jarak yang lumayan antarpersoalan sehingga kamu punya banyak waktu buat menyelesaikan satu per satu. Namun, bisa pula masalah tiba-tiba muncul bertubi-tubi sampai membuatmu pusing setengah mati.

Satu persoalan belum beres sudah ada masalah baru dan seterusnya. Apakah dirimu bakal terus-menerus mencari pelarian paling gampang dengan makan enak? Gak salah, sih. Namun, jelas itu bukan solusi buat semua persoalan tersebut.

Pengalih perhatian yang menyenangkan dan terus-menerus begini malah dapat menghambatmu untuk mencari solusi yang sejati. Kamu cuma larut dalam hiburan semu. Sementara persoalan masih tetap tak tersentuh. Akhirnya, dirimu bakal lebih pusing hingga merasa putus asa dalam menghadapinya.

Menyantap hidangan lezat guna memperbaiki mood boleh saja. Akan tetapi, ada beberapa hal yang kudu diperhatikan. Seperti soal uang dan kesadaran bahwa itu bukan jalan keluar untuk persoalanmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Related Articles

See More