Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Belajar dari Timnas: Kadang Keberhasilan Datang di Menit-menit Terakhir
Timnas Indonesia lawan Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026. (IDN Times/Sandy Firdaus)

Dalam sepak bola, pertandingan belum benar-benar berakhir sebelum wasit meniup peluit panjang. Sebuah gol bisa tercipta pada menit-menit terakhir dan mengubah jalannya pertandingan. Begitu pula dalam kehidupan, keberhasilan terkadang datang ketika seseorang hampir menyerah setelah melewati berbagai kegagalan dan penantian panjang. Perjuangan Timnas Indonesia semalam bisa menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk mencapai sesuatu tidak selalu datang sesuai dengan waktu yang kita harapkan.

Bagi anak muda maupun Gen Z yang sedang berjuang mencari pekerjaan, menyelesaikan kuliah, membangun bisnis, atau mengejar impian, perjalanan menuju keberhasilan sering kali terasa melelahkan. Dari perjuangan Timnas Indonesia, ada sejumlah hal yang bisa menjadi pelajaran.

1. Jangan menyerah hanya karena belum ada hasil

Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Aleh Tsikhanau)

Dalam pertandingan sepak bola, tim yang tertinggal tidak selalu berarti akan kalah. Selama pertandingan belum selesai, masih ada kesempatan untuk mengubah keadaan. Semangat ini juga terlihat dalam perjuangan Timnas Indonesia saat menghadapi Malaysia pada FIFA ASEAN Cup 2026, 28 September 2026.

Meski harus bermain dengan 10 pemain sejak babak pertama, Indonesia mampu mempertahankan skor imbang 0-0 hingga pertandingan berakhir. Bahkan, Justin Hubner melakukan penyelamatan penting pada menit ke-90+3 yang menggagalkan peluang Malaysia mencetak gol.

Situasi tersebut cukup relevan dengan kehidupan Gen Z yang sedang menghadapi berbagai tantangan. Misalnya, sudah mengirim puluhan lamaran kerja, tetapi belum mendapatkan panggilan wawancara. Ada pula mahasiswa yang sudah belajar berbulan-bulan, tetapi belum memperoleh nilai sesuai harapan.

Dalam situasi seperti ini, kegagalan sering kali membuat seseorang mempertanyakan kemampuan dirinya sendiri. Namun, belum berhasil bukan berarti tidak akan pernah berhasil. Bisa jadi, masih ada proses yang perlu dilalui dan strategi yang perlu diperbaiki.

Psikolog Albert Bandura, profesor psikologi dari Stanford University, memperkenalkan konsep self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya dalam melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Dalam penelitiannya bersama Edwin A. Locke yang diterbitkan dalam Journal of Applied Psychology pada 2003, keduanya menjelaskan bahwa keyakinan terhadap kemampuan diri dan tujuan pribadi dapat mendukung motivasi serta pencapaian.

"Para penulis membahas verifikasi sifat fungsional dari keyakinan efikasi diri (self-efficacy) dan mendokumentasikan bagaimana keyakinan tersebut bekerja selaras dengan sistem tujuan. Bukti yang saling menguatkan dari berbagai strategi metodologis dan analitis memverifikasi bahwa self-efficacy dan tujuan pribadi dapat meningkatkan motivasi serta pencapaian kinerja," jelasnya dikutip dari PubMed National Library of Medicine.

2. Keberhasilan tidak selalu datang sesuai dengan timeline kita

Ilustrasi lelah bekerja (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Salah satu tantangan yang sering dihadapi Gen Z adalah kebiasaan membandingkan pencapaian diri dengan orang lain. Media sosial membuat kita mudah melihat teman yang sudah bekerja di perusahaan besar, memiliki penghasilan sendiri, melanjutkan pendidikan ke luar negeri, atau membangun bisnis yang berkembang pesat.

Tanpa disadari, pencapaian orang lain bisa membuat kita merasa tertinggal, terutama ketika usaha yang dilakukan sendiri belum membuahkan hasil. Padahal, setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, dan tantangan yang berbeda. Ada yang langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah, tetapi ada juga yang harus melewati masa pencarian kerja selama berbulan-bulan.

Begitu pula dalam sepak bola, setiap pertandingan memiliki dinamika tersendiri. Ada tim yang mampu mencetak gol pada awal pertandingan, sementara tim lain harus berjuang hingga menit terakhir untuk mempertahankan atau mengubah keadaan. Perbedaan waktu tersebut tidak selalu mencerminkan besarnya usaha yang telah dilakukan.

3. Tetap berusaha meskipun situasi tidak berjalan sesuai rencana

Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Compagnons)

Dalam kehidupan, tidak semua hal berjalan sesuai dengan rencana. Ada kalanya seseorang sudah mempersiapkan diri dengan matang, tetapi tetap menghadapi hambatan yang tidak terduga. Situasi seperti ini tentu dapat menguras energi dan membuat seseorang kehilangan motivasi untuk melanjutkan perjuangannya.

Perjuangan Timnas Indonesia saat menghadapi Malaysia memberikan gambaran tentang bagaimana sebuah tim harus beradaptasi ketika situasi berubah. Bermain dengan 10 pemain sejak babak pertama membuat Indonesia harus menghadapi tekanan yang lebih besar. Meski demikian, para pemain tetap berusaha menjaga pertahanan hingga pertandingan berakhir imbang.

Peneliti psikologi Jean-Charles Lebeau dan rekan-rekannya membahas hubungan antara kegagalan mencapai tujuan, emosi, dan performa dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Psychology of Sport and Exercise pada 2018. Penelitian tersebut menemukan bahwa kegagalan mencapai target dapat menurunkan keyakinan diri dan memunculkan emosi negatif.

"Kegagalan mencapai tujuan mengakibatkan efikasi diri yang lebih rendah dan emosi yang lebih negatif," jelasnya dikutip dalam ScienceDirect.

Namun, dampaknya terhadap performa berikutnya tidak selalu sama dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Temuan ini menjadi pengingat bahwa kegagalan memang bisa terasa berat, tetapi bukan berarti seseorang tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki keadaan.

4. Jangan meremehkan kekuatan kerja sama dan dukungan orang lain

Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Parabol | The Agile Meeting Tool)

Sepak bola bukanlah olahraga yang mengandalkan kemampuan satu pemain saja. Sebuah tim membutuhkan kerja sama antara penjaga gawang, pemain bertahan, gelandang, dan penyerang untuk mencapai tujuan bersama. Bahkan, ketika satu pemain mengalami kesulitan, pemain lain harus siap memberikan dukungan.

Hal serupa juga berlaku dalam kehidupan Gen Z. Ketika sedang menghadapi masalah, kita terkadang merasa harus menyelesaikan semuanya sendiri agar dianggap mandiri. Padahal, meminta bantuan bukan berarti kita tidak mampu.

Dukungan dari teman, keluarga, mentor, atau rekan kerja dapat membantu kita melihat persoalan dari sudut pandang berbeda. Misalnya, seseorang yang kesulitan mencari pekerjaan bisa meminta masukan tentang CV atau mengikuti komunitas pencari kerja untuk mendapatkan informasi dan dukungan.

5. Menit terakhir bukan berarti semuanya sudah berakhir

Ole Romeny merayakan kemenangan (instagram/@oleromeny)

Dalam sepak bola, menit-menit terakhir sering menghadirkan ketegangan tersendiri. Tim yang sedang unggul harus mempertahankan keunggulan, sedangkan tim yang tertinggal masih berusaha mencari peluang. Tapi ada kalanya perjuangan sebuah tim justru terlihat dari kemampuannya mempertahankan hasil maupun mengejar hasil itu hingga peluit panjang dibunyikan. Di sini mentalitas dan keyakinan menjadi salah satu faktor pentingnya, seperti yang diperlihatkan Timnas Indonesia.

Pelajaran ini juga penting bagi Gen Z yang sering mengukur keberhasilan berdasarkan hasil akhir. Mendapatkan pekerjaan impian, lulus tepat waktu, atau memiliki bisnis yang sukses memang menjadi pencapaian yang membanggakan. Namun, proses yang dijalani untuk mencapai tujuan tersebut juga layak dihargai.

Belajar keterampilan baru, berani mencoba kembali setelah gagal, dan mampu bertahan ketika menghadapi masa sulit merupakan bagian dari perkembangan diri. Bahkan, ketika hasil yang diinginkan belum tercapai, seseorang tetap bisa memperoleh pengalaman berharga dari perjalanan tersebut.

Perjuangan Timnas Indonesia mengajarkan bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu berjalan mulus dan sesuai dengan harapan. Bagi Gen Z yang sedang berjuang meraih impian, belum berhasil hari ini bukan berarti kesempatan sudah tertutup. Sebab, keberhasilan bukan hanya tentang mencapai garis akhir, melainkan tentang bagaimana kita bertumbuh selama menjalani proses.

Curated For You

Editorial Team

Related Article