Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Aleh Tsikhanau)
Dalam pertandingan sepak bola, tim yang tertinggal tidak selalu berarti akan kalah. Selama pertandingan belum selesai, masih ada kesempatan untuk mengubah keadaan. Semangat ini juga terlihat dalam perjuangan Timnas Indonesia saat menghadapi Malaysia pada FIFA ASEAN Cup 2026, 28 September 2026.
Meski harus bermain dengan 10 pemain sejak babak pertama, Indonesia mampu mempertahankan skor imbang 0-0 hingga pertandingan berakhir. Bahkan, Justin Hubner melakukan penyelamatan penting pada menit ke-90+3 yang menggagalkan peluang Malaysia mencetak gol.
Situasi tersebut cukup relevan dengan kehidupan Gen Z yang sedang menghadapi berbagai tantangan. Misalnya, sudah mengirim puluhan lamaran kerja, tetapi belum mendapatkan panggilan wawancara. Ada pula mahasiswa yang sudah belajar berbulan-bulan, tetapi belum memperoleh nilai sesuai harapan.
Dalam situasi seperti ini, kegagalan sering kali membuat seseorang mempertanyakan kemampuan dirinya sendiri. Namun, belum berhasil bukan berarti tidak akan pernah berhasil. Bisa jadi, masih ada proses yang perlu dilalui dan strategi yang perlu diperbaiki.
Psikolog Albert Bandura, profesor psikologi dari Stanford University, memperkenalkan konsep self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya dalam melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Dalam penelitiannya bersama Edwin A. Locke yang diterbitkan dalam Journal of Applied Psychology pada 2003, keduanya menjelaskan bahwa keyakinan terhadap kemampuan diri dan tujuan pribadi dapat mendukung motivasi serta pencapaian.
"Para penulis membahas verifikasi sifat fungsional dari keyakinan efikasi diri (self-efficacy) dan mendokumentasikan bagaimana keyakinan tersebut bekerja selaras dengan sistem tujuan. Bukti yang saling menguatkan dari berbagai strategi metodologis dan analitis memverifikasi bahwa self-efficacy dan tujuan pribadi dapat meningkatkan motivasi serta pencapaian kinerja," jelasnya dikutip dari PubMed National Library of Medicine.