Dunia literasi idealnya menjadi ruang yang terbuka bagi siapa saja untuk membaca, berdiskusi, menulis, dan menemukan bacaan yang sesuai dengan minatnya. Namun, dalam praktiknya, terdapat standar tidak tertulis mengenai siapa yang dianggap benar-benar memahami buku atau pantas disebut sebagai pembaca. Standar tersebut dapat muncul dalam komunitas, media sosial, hingga percakapan sehari-hari.
Ketika standar tersebut digunakan untuk membatasi atau merendahkan orang lain, praktiknya dapat mengarah pada gatekeeping. Bukan sekadar perbedaan selera, gatekeeping membuat seseorang seolah harus memenuhi kriteria tertentu sebelum dianggap cukup "layak" berada dalam ruang literasi. Berikut beberapa bentuk gatekeeping di dunia literasi yang perlu dipahami.
