Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Bentuk Microableism saat Berinteraksi dengan Pengguna Kursi Roda
ilustrasi seorang pria bekerja dengan kursi roda (pexels.com/Ivan S)
  • Microableism adalah bentuk diskriminasi halus terhadap pengguna kursi roda yang sering terjadi tanpa disadari dan dapat memengaruhi kenyamanan mereka dalam berinteraksi di ruang publik.
  • Lima contoh microableism meliputi mendorong kursi roda tanpa izin, berbicara pada pendamping, menganggap selalu butuh bantuan, memberi pujian berlebihan, serta memakai jalur akses khusus sembarangan.
  • Perilaku kecil tersebut meski tampak sepele bisa membuat penyandang disabilitas merasa tidak dihargai, sehingga penting meningkatkan kesadaran agar interaksi lebih inklusif dan saling menghormati.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Diskriminasi terhadap penyandang disabilitas tidak selalu muncul dalam bentuk penghinaan atau perlakuan yang terang-terangan kasar. Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak sikap kecil yang terlihat biasa atau bahkan dianggap bentuk perhatian, tetapi sebenarnya dapat membuat pengguna kursi roda merasa tidak nyaman. Perilaku seperti ini sering disebut sebagai microableism.

Microableism biasanya muncul secara halus dan sering tidak disadari oleh orang non-disabilitas. Meski terlihat sepele, pengalaman tersebut dapat terjadi berulang kali dan memengaruhi kenyamanan pengguna kursi roda dalam berinteraksi di ruang publik. Berikut lima bentuk microableism yang sering terjadi saat berinteraksi dengan pengguna kursi roda.

1. Langsung mendorong kursi roda tanpa izin

ilustrasi membantu mendorong kursi roda (pexels.com/SHVETS production)

Sebagian orang merasa membantu pengguna kursi roda dengan langsung mendorong kursinya tanpa bertanya terlebih dahulu. Tindakan ini sering dilakukan dengan niat baik, terutama ketika melihat jalan menanjak atau situasi yang dianggap sulit.

Padahal, kursi roda merupakan bagian dari ruang pribadi dan alat mobilitas seseorang. Menyentuh atau mendorongnya tanpa izin dapat membuat pengguna kursi roda merasa kehilangan kendali dan tidak dihargai. Sikap yang lebih tepat adalah menawarkan bantuan terlebih dahulu dan menghormati keputusan mereka jika ternyata tidak membutuhkan bantuan.

2. Berbicara kepada pendamping, bukan kepada pengguna kursi roda

ilustrasi mengobrol dengan penyandang disabilitas (pexels.com/Centre for Ageing Better)

Dalam beberapa situasi, orang lebih memilih berbicara kepada teman, keluarga, atau pendamping pengguna kursi roda dibanding langsung kepada orangnya sendiri. Misalnya saat bertanya soal pesanan makanan, arah, atau kebutuhan tertentu.

Perilaku ini dapat membuat pengguna kursi roda merasa diabaikan dan dianggap tidak mampu berkomunikasi sendiri. Padahal, penggunaan kursi roda tidak berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk memahami percakapan atau mengambil keputusan. Berbicara langsung kepada individu yang bersangkutan merupakan bentuk penghormatan dasar dalam interaksi sosial.

3. Menganggap pengguna kursi roda selalu membutuhkan bantuan

ilustrasi atlet disabilitas berolahraga (pexels.com/Kampus Production)

Banyak orang otomatis berasumsi bahwa pengguna kursi roda pasti membutuhkan bantuan untuk melakukan berbagai aktivitas. Akibatnya, mereka sering langsung mengambil tindakan tanpa bertanya atau terlalu cepat merasa kasihan ketika melihat pengguna kursi roda beraktivitas sendiri.

Padahal, banyak pengguna kursi roda yang sangat mandiri dan terbiasa melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan. Menganggap seseorang selalu membutuhkan pertolongan hanya karena menggunakan kursi roda dapat memperkuat stereotip bahwa penyandang disabilitas tidak mampu hidup mandiri.

4. Memberikan pujian berlebihan untuk aktivitas sehari-hari

ilustrasi seorang pria menggunakan kursi roda (pexels.com/SHVETS production)

Komentar seperti “Hebat banget masih bisa kerja sendiri” atau “Keren ya tetap keluar rumah meski pakai kursi roda” sering dianggap bentuk apresiasi. Namun, pujian seperti ini juga bisa menjadi bentuk microableism jika diberikan hanya karena seseorang menggunakan kursi roda.

Aktivitas seperti bekerja, berbelanja, atau pergi ke tempat umum sebenarnya merupakan bagian normal dari kehidupan banyak orang. Ketika hal-hal tersebut dianggap luar biasa hanya karena dilakukan pengguna kursi roda, masyarakat tanpa sadar menunjukkan bahwa mereka memiliki ekspektasi yang rendah terhadap kemampuan penyandang disabilitas.

5. Menggunakan jalur akses atau area khusus sembarangan

ilustrasi jalur untuk pengguna kursi roda (pexels.com/Jakub Pabis)

Sebagian orang masih menggunakan jalur landai (ramp), lift prioritas, atau area akses kursi roda untuk kepentingan pribadi tanpa memikirkan dampaknya bagi pengguna kursi roda. Misalnya berhenti di jalur akses untuk bermain ponsel atau memarkir kendaraan di area yang seharusnya digunakan penyandang disabilitas.

Perilaku seperti ini sering dianggap sepele, tetapi sebenarnya dapat menghambat mobilitas pengguna kursi roda dalam kehidupan sehari-hari. Kurangnya kesadaran terhadap pentingnya aksesibilitas juga termasuk bentuk microableism karena menunjukkan bahwa kebutuhan penyandang disabilitas belum dianggap sebagai prioritas yang penting.

Itulah 5 bentuk microableism yang sering terjadi saat berinteraksi dengan pengguna kursi roda. Meski sering dilakukan tanpa niat buruk, perilaku-perilaku tersebut tetap dapat membuat penyandang disabilitas merasa tidak nyaman atau tidak dihargai. Karena itu, penting untuk mulai lebih peka terhadap cara bersikap agar interaksi sehari-hari menjadi lebih inklusif dan saling menghormati.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article