Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Ableisme Masih Terjadi di Sekitar Kita, Ini 5 Bentuk yang Sering Tak Disadari

Ableisme Masih Terjadi di Sekitar Kita, Ini 5 Bentuk yang Sering Tak Disadari
ilustrasi penyandang disabilitas (pexels.com/SHVETS production)
Intinya Sih
  • Ableisme adalah sikap yang menempatkan kondisi non-disabilitas sebagai standar normal, sering muncul tanpa disadari dalam percakapan dan kebiasaan sehari-hari.
  • Lima bentuk umum ableisme mencakup asumsi kemampuan seragam, penggunaan istilah disabilitas secara negatif, pujian berlebihan, pengabaian aksesibilitas, serta keraguan terhadap disabilitas yang tidak terlihat.
  • Kesadaran akan bentuk-bentuk ableisme membantu masyarakat lebih peka dan mendorong terciptanya lingkungan yang inklusif serta menghargai perbedaan individu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kesadaran tentang pentingnya menghormati dan mendukung penyandang disabilitas terus berkembang. Namun, masih ada berbagai perilaku yang tanpa disadari dapat memperkuat stigma atau menciptakan hambatan bagi penyandang disabilitas. Salah satunya adalah ableism, yaitu sikap, asumsi, atau perlakuan yang menempatkan kondisi non-disabilitas sebagai standar yang dianggap paling normal atau ideal.

Ableisme tidak selalu muncul dalam bentuk penghinaan atau diskriminasi yang terang-terangan. Justru, banyak contohnya yang terjadi dalam percakapan sehari-hari, kebiasaan sosial, maupun cara pandang yang sudah dianggap biasa. Karena sering dilakukan tanpa niat buruk, bentuk-bentuk ableisme ini kerap luput dari perhatian. Berikut lima bentuk ableisme yang sering tidak disadari dalam kehidupan sehari-hari.

1. Menganggap semua orang memiliki kemampuan yang sama

Penyandang disabilitas.
ilustrasi penyandang disabilitas (pexels.com/Gustavo Fring)

Salah satu bentuk ableisme yang paling umum adalah menganggap semua orang dapat melakukan aktivitas dengan cara yang sama. Misalnya, mengharapkan setiap orang mampu menggunakan tangga, membaca tulisan berukuran kecil, mendengar instruksi dengan jelas, atau mengikuti kegiatan tanpa bantuan apa pun.

Asumsi seperti ini sering kali membuat kebutuhan penyandang disabilitas terabaikan. Padahal, setiap individu memiliki kondisi dan cara berinteraksi dengan lingkungan yang berbeda. Dengan memahami bahwa kebutuhan akses setiap orang tidak selalu sama, masyarakat dapat menciptakan ruang yang lebih inklusif dan nyaman bagi semua.

2. Menggunakan disabilitas sebagai ungkapan negatif

Mengobrol dengan penyandang disabilitas.
ilustrasi mengobrol dengan penyandang disabilitas (pexels.com/SHVETS production)

Dalam percakapan sehari-hari, masih banyak orang yang menggunakan istilah terkait disabilitas sebagai bentuk ejekan atau ungkapan negatif. Contohnya, menyebut seseorang "buta" terhadap suatu masalah, "tuli" terhadap kritik, atau menggunakan kondisi tertentu untuk menggambarkan sesuatu yang dianggap buruk.

Meskipun sering dianggap sekadar kebiasaan berbahasa, penggunaan istilah tersebut dapat memperkuat stereotip negatif terhadap penyandang disabilitas. Bahasa memiliki pengaruh besar terhadap cara masyarakat memandang suatu kelompok. Karena itu, memilih kata yang lebih netral dan tidak merendahkan dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi ableisme.

3. Memuji penyandang disabilitas karena melakukan hal yang biasa

Penyandang disabilitas dengan tangan prostetik.
ilustrasi perempuan penyandang disabilitas dengan tangan prostetik (pexels.com/Anna Shvets)

Sekilas, memberikan pujian terdengar seperti tindakan positif. Namun, memuji penyandang disabilitas secara berlebihan hanya karena melakukan aktivitas sehari-hari, seperti bekerja, berbelanja, atau bersekolah, dapat menjadi bentuk ableisme yang tidak disadari.

Perilaku ini sering disebut sebagai inspiration porn, yaitu ketika penyandang disabilitas dijadikan sumber inspirasi hanya karena menjalani kehidupan seperti orang lain. Alih-alih menghargai kemampuan dan pencapaian mereka secara setara, pujian semacam ini dapat memperkuat anggapan bahwa penyandang disabilitas dianggap tidak mampu melakukan hal-hal yang sebenarnya biasa.

4. Mengabaikan aksesibilitas karena dianggap tidak dibutuhkan banyak orang

Akses prioritas untuk penyandang disabilitas.
ilustrasi akses prioritas untuk penyandang disabilitas (pexels.com/James Thomas)

Sering kali, fasilitas aksesibel dianggap tidak terlalu penting karena dinilai hanya digunakan oleh sebagian kecil masyarakat. Akibatnya, kebutuhan seperti jalur landai, lift, teks alternatif pada konten digital, atau informasi yang ramah disabilitas tidak menjadi prioritas.

Cara berpikir ini merupakan bentuk ableisme karena menganggap kebutuhan kelompok tertentu kurang penting dibandingkan kebutuhan mayoritas. Padahal, aksesibilitas tidak hanya bermanfaat bagi penyandang disabilitas, tetapi juga dapat membantu lansia, anak-anak, ibu hamil, maupun orang yang sedang mengalami keterbatasan sementara.

5. Meragukan disabilitas yang tidak terlihat

Penyandang disabilitas tak tampak.
ilustrasi penyandang disabilitas tak tampak (pexels.com/Arina Krasnikova)

Banyak orang masih menganggap bahwa disabilitas harus selalu terlihat secara fisik. Akibatnya, individu dengan disabilitas yang tidak tampak secara kasat mata sering menghadapi keraguan, pertanyaan berlebihan, atau bahkan tuduhan bahwa mereka melebih-lebihkan kondisi yang dialami.

Padahal, tidak semua disabilitas dapat dikenali hanya dari penampilan. Ada berbagai kondisi yang memengaruhi aktivitas sehari-hari tanpa menunjukkan ciri fisik yang jelas. Ketika seseorang langsung meragukan pengalaman orang lain hanya karena disabilitasnya tidak terlihat, hal tersebut dapat menjadi bentuk ableisme yang membuat penyandang disabilitas merasa tidak dipercaya dan tidak dihargai.

Itulah 5 bentuk ableisme yang sering tidak disadari dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengenali contoh-contoh tersebut, kita dapat lebih peka terhadap cara berpikir dan bertindak, sekaligus ikut menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, menghargai perbedaan, dan ramah bagi semua orang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya

Related Articles

See More