Kamu Pernah Tanpa Sadar Lakukan 5 Bentuk Ableism Ini?

- Ableism adalah sikap meremehkan penyandang disabilitas yang sering muncul tanpa disadari dalam kehidupan sehari-hari, seperti di sekolah, kantor, atau media sosial.
- Bentuk ableism mencakup asumsi bahwa difabel tidak mampu, pujian berlebihan atas aktivitas biasa, penggunaan istilah disabilitas sebagai candaan, serta membantu tanpa izin.
- Menganggap aksesibilitas sebagai fasilitas berlebihan juga termasuk ableism; padahal akses tersebut merupakan hak dasar untuk menciptakan kesempatan setara bagi semua orang.
Banyak yang mengira diskriminasi terhadap penyandang disabilitas hanya terjadi dalam bentuk yang umum. Misalnya, penolakan akses pendidikan, pekerjaan, atau fasilitas publik. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak bentuk perlakuan yang sebenarnya menunjukkan cara pandang yang meremehkan difabel.
Sikap ini dikenal dengan istilah ableism. Praktiknya cukup sering ditemukan di sekolah, kampus, kantor, media sosial, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Mulai dari menganggap difabel selalu membutuhkan belas kasihan hingga berasumsi mereka gak bisa hidup mandiri. Berikut ini lima sikap yang tanpa disadari meremehkan difabel.
1. Menganggap difabel selalu tidak mampu melakukan banyak hal

Salah satu bentuk ableism yang paling umum adalah berasumsi bahwa penyandang disabilitas pasti tidak bisa melakukan sesuatu. Misalnya menganggap seseorang yang menggunakan kursi roda tak mampu bekerja secara profesional. Banyak juga yang berpikir bahwa penyandang disabilitas sensorik tak bisa hidup mandiri.
Padahal, kemampuan seseorang tidak bisa ditentukan hanya dari kondisi fisiknya. Banyak difabel yang berhasil menjadi profesional, atlet, seniman, pengusaha, akademisi, hingga pemimpin organisasi. Mereka mungkin menghadapi tantangan yang berbeda, tapi bukan berarti tidak memiliki kapasitas untuk berkembang, ya!
2. Terlalu memuji aktivitas sehari-hari yang dilakukan difabel

Sekilas, memberikan pujian terdengar seperti hal yang positif. Namun dalam beberapa situasi, pujian yang berlebihan justru bisa menjadi bentuk ableism yang tak disadari. Misalnya, seseorang mengatakan, "Wah hebat sekali, kamu bisa kuliah meskipun difabel," atau "Luar biasa, kamu tetap bekerja seperti orang normal."
Kalimat ini terlihat baik, tapi mengandung asumsi bahwa difabel seharusnya tak mampu melakukan aktivitas tersebut. Fenomena ini disebut sebagai inspiration porn, yaitu ketika kehidupan difabel dijadikan sumber inspirasi bagi orang lain tanpa benar-benar memahami mereka. Padahal, difabel tak perlu dianggap luar biasa hanya karena menjalani aktivitas sehari-hari.
3. Menggunakan istilah disabilitas sebagai bahan candaan

Pernah mendengar orang berkata, "Buta banget sih," "Tuli ya?" atau "Lumpuh nih otak gue hari ini"? Kalimat-kalimat seperti ini sering dianggap sekadar bercanda dan jadi bahasa sehari-hari. Namun, penggunaan istilah yang berkaitan dengan disabilitas sebagai ejekan atau metafora negatif dapat memperkuat stigma di masyarakat.
Tanpa disadari, hal ini membuat kondisi disabilitas identik dengan sesuatu yang buruk, lucu, atau tak diinginkan. Bahasa memiliki pengaruh besar terhadap cara kita memandang suatu kelompok. Semakin sering istilah itu digunakan sebagai bahan candaan, semakin sulit pula menciptakan lingkungan yang menghargai keberagaman.
4. Membantu tanpa bertanya terlebih dahulu

Banyak orang ingin membantu difabel karena niat baik. Namun, niat baik tidak selalu menghasilkan tindakan yang tepat. Salah satu contoh yang cukup sering terjadi adalah langsung memberikan bantuan tanpa menanyakan apakah bantuan tersebut dibutuhkan.
Misalnya, mendorong kursi roda seseorang tanpa izin, memegang tongkat tunanetra secara tiba-tiba, atau mengambil alih tugas tertentu karena menganggap mereka kesulitan. Tindakan seperti ini bisa membuat seseorang merasa kehilangan kendali atas dirinya. Jadi, tetap hargai mereka dengan bertanya terlebih dahulu, ya!
5. Menganggap aksesibilitas sebagai sesuatu yang eksklusif

Bentuk ableism lain yang sering muncul adalah menganggap fasilitas aksesibilitas sebagai sesuatu yang berlebihan. Misalnya, mengeluh tentang keberadaan jalur kursi roda, area parkir khusus, lift aksesibel, atau fasilitas pendukung lainnya. Ada pula yang menganggap penyediaan aksesibilitas sebagai "kemewahan" yang tak penting.
Padahal, aksesibilitas adalah bagian dari hak setiap orang untuk dapat berpartisipasi dalam banyak aspek kehidupan. Tanpa akses yang memadai, banyak difabel akan menghadapi hambatan. Memahami pentingnya aksesibilitas membantu kita melihat bahwa fasilitas tersebut bukan bentuk perlakuan istimewa, melainkan upaya menciptakan kesempatan yang setara bagi semua orang.
Ableism sering kali tak terlihat karena sudah begitu melekat dalam kebiasaan sehari-hari. Banyak orang melakukannya tanpa niat buruk, tapi dampaknya bisa membuat penyandang disabilitas merasa diremehkan. Yuk, mulai hindari sikap yang merendahkan orang lain!


![[QUIZ] Kalau Hubunganmu Kayak Duo Upin Ipin, Kamu dan Pasangan Tipe Mana?](https://image.idntimes.com/post/20260520/pexels-katerina-holmes-5911298_0f3c3843-0768-44ee-ac8d-27c8b8571a20.jpg)















