Tidak semua orang jago memasak. Namun, banyak orang bisa menghasilkan masakan yang cukup lezat. Lajang pun tak sedikit yang dapat melakukannya untuk dikonsumsi sendiri setiap hari.
6 Tips Beranikan Diri Jualan Makanan daripada Terus Ditunda

- Mulai jualan makanan tak harus menunggu rasa sempurna; pastikan masakan layak konsumsi, bahan berkualitas, tidak basi, serta mendapat respons positif dari orang terdekat.
- Tekan risiko dengan memproduksi sedikit, memakai sistem pre-order, atau memulai dari makanan kering yang lebih tahan lama sebelum menambah pilihan makanan basah.
- Manfaatkan titip dagangan dan fokus pada resep sederhana yang dikuasai; melangkah lebih cepat membantu membangun pelanggan, memahami selera pasar, dan membuka peluang pendapatan.
Apalagi, orang yang sudah berumah tangga biasanya lebih sering memasak sendiri daripada membeli agar lebih hemat. Begitu pula orang yang pernah belajar tata boga punya bekal untuk mencari nafkah dengan berjualan masakan sendiri. Namun, faktanya sering kali orang masih ragu buat mulai berjualan makanan.
Ada kekhawatiran kalau-kalau dagangannya tidak laku, dibilang gak enak, dan sebagainya. Berapa lama kamu menunda keinginan berjualan makanan? Kamu perlu beranikan diri jualan makanan daripada terus ditunda dengan membaca tips-tips berikut ini.
1. Siapa bilang rasanya harus sangat lezat? Asal layak jual pun bisa jalan

ilustrasi menggoreng tahu isi (pexels.com/Henny Wiyanti) Seperti apa standar rasa yang sangat lezat? Ini sangat sulit dijelaskan. Tentu bukan sekadar tidak terlalu pedas, asin, atau manis. Setiap orang akan memiliki penilaian masing-masing terhadap makanan yang disajikan padanya.
Maka dari itu, kamu gak perlu terus menunda rencana berjualan makanan karena rasa kurang percaya diri atas masakanmu. Pembeli tidak semata-mata mencari makanan yang rasanya paling enak. Orang yang biasa makan di luar bahkan dapat sangat fleksibel soal rasa.
Yang terpenting, masakanmu masih masuk kriteria layak makan. Rasanya enak menurutmu dan orang-orang terdekatmu yang pernah mencobanya. Kualitas bahan bagus dan tidak basi ketika disajikan.
2. Bikin sedikit-sedikit dulu atau buka PO

ilustrasi jajanan pasar (pexels.com/Imam Efendi) Usaha apa pun, ketika buka kemudian langsung menyediakan stok terlalu banyak memang akan berisiko. Sangat sedikit orang yang tahu bahwa dirimu membuka warung. Orang yang kebetulan melintas pun masih sebatas memperhatikan adanya warung baru.
Bahkan tetangga kadang tak langsung membeli. Mereka ingin melihat-lihat dulu kira-kira usahamu meyakinkan atau tidak. Jika kamu konsisten berjualan, mereka baru mencobanya.
Paling aman, berjualan sedikit demi sedikit dulu. Risiko kerugian jika tidak habis dapat lebih ditekan. Sebaliknya, peluang semuanya habis terjual meningkat. Kamu juga dapat membuka pre-order untuk memastikan makanan yang dibuat benar-benar diambil oleh pemesan.
3. Makanan basah terlalu berisiko, makanan kering juga oke

ilustrasi berjualan makanan (pexels.com/Daneswara Eka) Kamu masih ragu berjualan makanan basah sekalipun stoknya cuma sedikit? Mungkin modalmu tak banyak dan gak ada cadangan dana seandainya dirimu harus rugi sekecil apa pun. Jika begini, bukan rencana berjualan makanan yang dibatalkan.
Akan tetapi, jenis makanan yang dijual diganti dari basah ke kering. Kamu dapat mulai berjualan kue-kue kering, kentang kering, tempe, dan sebagainya. Nanti, apabila dirimu sudah punya pelanggan baru satu per satu, makanan basah bisa ditambahkan.
Biasanya pelanggan tidak keberatan mencoba membelinya. Bahkan mereka sangat antusias karena di satu tempat dapat berbelanja makanan kering dan basah sekaligus. Soal keuntungan, berjualan makanan kering berpotensi lebih cuan sebab gak harus habis setiap hari.
4. Model titip dagangan saja

ilustrasi berjualan makanan (pexels.com/Pragyan Bezbaruah) Kamu juga tidak harus memasak sendiri semua makanan yang dijual. Dirimu bisa memakai sistem titip dagangan. Ini pun masih terdapat dua cara. Kamu yang membuat makanannya lalu menitipkannya di warung orang.
Atau, orang lain yang memasok makanan ke warungmu. Dengan kata lain, dirimu hanya perlu membantu menjualnya. Baik pihak yang menitip atau dititipi dagangan sama-sama punya jatah keuntungan apabila produk laku.
Dapat pula sistem kombinasi. Sebagian besar dagangan merupakan titipan orang agar variasinya banyak dan kamu tidak repot. Dirimu cuma membuat sendiri 1 atau 2 jenis dagangan yang paling simpel, resepnya dikuasai dengan baik, dan potensi lakunya cukup tinggi.
5. Ingat pujian orang sekecil apa pun atas masakanmu

ilustrasi berjualan martabak (pexels.com/ubay klik19) Kepercayaan dirimu perlu dibangkitkan atau keinginan membuka usaha kuliner tidak pernah terwujud. Selama ini mungkin ada banyak pujian yang terlupakan olehmu. Atau, kamu menganggapnya sekadar basa-basi.
Padahal, masih banyak orang yang tulus dalam memberikan pujian. Misalnya, dirimu pernah membagikan martabak telur buatan sendiri kepada teman-teman kantor. Kemudian kawan berkata bahwa martabakmu enak.
Bumbunya terasa berbeda dari martabak kebanyakan. Isiannya juga banyak, tapi gak bikin enek atau amis. Kulitnya bisa tipis dan kering. Semua pujian itu sudah cukup untuk modal awalmu untuk mulai menjual martabak buatan sendiri.
6. Pikirkan kemungkinan terbaik jika usaha dimulai vs akibat terus menundanya

ilustrasi seporsi sate (pexels.com/Firman Marek_Brew) Jangan mau terperangkap dalam rasa takut memulai usaha, padahal kamu sebenarnya punya skill yang cukup atau ide bagus. Lawan ketakutan itu dengan gantian kamu mendesak diri sendiri. Hindari memberikan terlalu banyak pilihan ke diri atau berpikir sangat positif.
Itu bisa membuat mentalmu lemah dan gak pernah berani memulai rencana apa pun. Kamu hanya punya dua pilihan di sini, memulai usaha itu atau terus menundanya. Lalu bayangkan berbagai kemungkinan terbaik dari menyegerakan niat berjualan makanan.
Dirimu dapat lebih cepat membentuk pelanggan, mengenali selera mereka, dan melakukan berbagai perbaikan agar produkmu makin disukai. Ending-nya, kamu bisa sukses lebih cepat. Sementara penundaan berulang berarti dirimu gak bisa memiliki pendapatan dari situ. Padahal, kamu sebenarnya sangat membutuhkannya.
Usaha memang tidak boleh gegabah. Apalagi, usaha makanan yang akan langsung dikonsumsi oleh pembeli dan kompetitornya banyak. Meski begitu, beranikan diri jualan makanan daripada terus ditunda karena kekhawatiran yang senantiasa dipelihara pun tak juga berguna. Kamu perlu punya nyali untuk melangkah.

























