realisasi program Papua Future Project (dok. Papua Future Project)
Selama menjalankan proyek PFP menerapkan tiga program utama demi mendukung pendidikan yang inklusif di Pulau Mansinam. Program pertama yang rutin dilakukan, yakni Belajar Intensif. Program tersebut dilakukan setiap seminggu sekali, pembelajaran berlangsung mulai pukul 12.00–14.00 WIT, sekitar 2–3 jam di sebuah pendopo terbyja. Setiap minggu juga akan ada tema berbeda yang mereka ajarkan.
Papua Future Project membagi anak-anak dalam 3 kelas berbeda, yakni Kelas Kecil, Menengah, dan Besar. Pembagian ini sesuai dengan kemampuan mereka, seperti Kelas Kecil yang diikuti oleh anak-anak yang belum dapat membaca. Kelas tersebut memang khusus untuk kelas literasi baca tulis. Sedangkan rentang usia sekolah sekitar usia PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) hingga SMP yang belum dapat membaca.
Di tingkat selanjutnya terdapat Kelas Menengah, untuk mereka yang sudah dapat membaca dan menulis. Sehingga, PFP berperan mengeksplorasi kemampuan anak dan mendukung apa yang telah diajarkan di sekolah. Sedangkan Kelas Besar, lebih fokus pada belajar teknologi, akademik, bahasa Inggris, dan teori. Biasanya diikuti oleh mereka yang sudah mahir membaca dan menulis, serta bersiap untuk masuk SMA.
Ada sekitar 102 murid di seluruh Pulau Mansinam yang berada di bawah naungan PFP. Setiap kelas diikuti oleh 30-40 orang. Jika kemampuan membaca dan menulis meningkat, maka mereka akan naik ke kelas berikutnya yang lebih tinggi. Kegiatan ini mereka lakukan sambil tetap bersekolah setiap harinya.
Cara belajar yang diterapkan pun beragam, untuk membuat anak-anak tetap semangat untuk menempuh pendidikan. Seperti halnya membuat ular tangga raksasa atau kartu untuk tanya jawab. Hal ini turut memberikan mereka pemahaman bahwa belajar tidak harus dari papan tulis.
Papua Future Project juga memberikan pendidikan untuk meningkatkan soft skill anak-anak di Pulau Mansinam. Seperti mendaur ulang sampah plastik bekas menjadi cindramata yang ramah lingkungan.
Program berikutnya yakni donasi buku dan literasi keliling yang telah dilakukan di lebih dari enam pulau dan kampung. Tim PFP melakukan hal ini kala tidak dapat mengajar secara langsung dan rutin, setidaknya buku sebagai gantinya. Mereka berkolaborasi dengan komunitas yang ada di daerah lain untuk mendistribusikan buku dan membantu anak-anak belajar membaca.
Papua Future Project sudah menyediakan buku dan biasanya berasal dari donatur. Sebagian buku yang telah dibaca anak-anak di Pulau Mansinam, juga akan didistribusikan secara bergilir ke daerah lain. Mereka benar-benar menyasar kampung-kampung yang sulit dijangkau dan membutuhkan, terutama di sektor pendidikan dan kesehatan.
Sedangkan kelas literasi keliling, PFP sebagai relawan yang keliling ke berbagai daerah, seperti Raja Ampat, Tambrauw, dan daerah lainnya sekitar 2-3 minggu untuk membuka kelas belajar. Hal ini turut memberikan dampak positif kepada masyarakat setempat.
Literasi keliling tidak sebatas menyuguhkan buku dan belajar membaca. Namun, juga mengedukasi masyarakat dan meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan. Seperti pentingnya menjaga penyu sebagai fauna yang dilindungi di Tambrauw.
Berbeda dari kedua program sebelumnya, PFP berkolaborasi dengan UNICEF Indonesia dan Kementerian Kesehatan untuk memberikan akses kesehatan kepada anak-anak. Hal ini dilakukan di tengah masyarakat Papua yang masih menerapkan menikah dini, terutama di kalangan perempuan.
Pendidikan pun diselipkan di tengah sosialisasi kesehatan untuk memerangi konstruksi sosial. Patut disadari bahwa perempuan juga memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Jika mereka menikah pada usia muda, juga dapat meningkatkan risiko kematian, demikian pula kondisi mental yang belum siap.
“Pemahaman terkait kesehatan reproduksi, remaja Papua dan Papua Barat masih sangat minim. Kami di kota saja masih sangat tabu, apalagi mereka,” ungkap Jordy.
Tim PFP mengunjungi rumah-rumah dan menggelar konsultasi bersama orang tua yang mempunyai anak perempuan. Di sisi lain, anak-anak perempuan sudah terbuka dan nyaman dengan keberadaan PFP. Sehingga, memudahkan PFP untuk mengedukasi kedua belah pihak secara maksimal. Meski, tetap ada batasan yang tidak dapat mereka tembus.
Misi mengedukasi masyarakat di bidang pendidikan tidak berhenti di situ. Setelah pandemi Covid-19, masyarakat semakin takut untuk melakukan imunisasi. Mereka kerap menyalahartikan sebagai vaksin dan skeptis terhadap efek vaksin yang dapat merenggut nyawa. Kehadiran PFP turut mendekatkan tenaga kesehatan dan masyarakat, sehingga pelayanan kesehatan dapat terpenuhi.