Ilustrasi baca buku (pexels.com/yazid n)
Namun, di balik kerasnya netizen menghakimi buku, muncul tren lain yang tak kalah mengkhawatirkan, yakni Performative Reading. Ini adalah kondisi di mana kita memamerkan buku-buku berat hanya demi terlihat pintar di kamera, meskipun mungkin kita sendiri gak menikmatinya.
Terkait perilaku haus validasi ini, Dr. Pretty Duggar Gupta, Konsultan Psikiater dari Aster Whitefield Hospital, Bengaluru, memberikan peringatan keras melalui laman OnlyMyHealth. "Semakin seseorang menyaring atau menyusun hidupnya demi mendapatkan validasi, semakin lebar jarak antara persona online dengan diri yang sebenarnya. Beberapa orang bahkan mulai membuat keputusan besar dalam hidup, baik itu soal karier, hubungan, atau pembelian berdasarkan bagaimana hal itu akan terlihat secara online, bukan apa yang benar-benar membuat mereka bahagia."
Dr. Gupta menyebut fenomena ini sebagai Identity Drift, di mana perilaku "akting" atau performa di media sosial akhirnya menenggelamkan nilai-nilai pribadi kita yang asli. Kita membaca bukan untuk diri sendiri, tapi untuk feed media sosial.