Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bookshaming di Media Sosial, Berhenti 'Judge' Rak Buku Orang Lain!
Ilustrasi baca buku (pexels.com/emre simsek)
  • Fenomena bookshaming di media sosial membuat banyak orang takut membagikan bacaan mereka karena khawatir dianggap kurang pintar atau tidak punya selera tinggi.
  • Secara psikologis, bookshaming muncul dari kebutuhan manusia membangun identitas sosial; menghakimi selera orang lain menjadi cara menegaskan posisi dalam kelompok tertentu.
  • Bookshaming dan performative reading berpotensi mematikan minat baca, karena fokus bergeser dari menikmati buku ke pencitraan demi validasi sosial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Baru-baru ini, linimasa Threads dan Twitter (X) dipenuhi dengan perdebatan panas soal apa yang dibaca orang lain. Mulai dari ejekan terhadap mereka yang membaca buku self-improvement, fiksi romansa yang dianggap "menye-menye", hingga buku-buku best seller yang dicap terlalu mainstream.

Fenomena ini punya nama, yaitu Bookshaming. Kenapa ya, urusan selera bacaan saja bisa bikin netizen saling serang? Mari kita bedah kenapa fenomena ini muncul dan kenapa kita harus berhenti melakukannya.

1. Maraknya bookshaming di platform media sosial

Ilustrasi baca buku (pexels.com/vlada karpovich)

Di Threads, sering kali kita temui unggahan yang nada bicaranya sinis terhadap buku-buku tertentu. "Hari gini masih baca buku motivasi?" atau "Cuma baca fiksi populer kok bangga?".

Dampaknya, ejekan ini menciptakan suasana di mana orang jadi takut untuk berbagi apa yang mereka baca. Mereka khawatir dianggap tidak cukup pintar atau tidak punya selera yang berkelas hanya karena selera bacaannya.

2. Mengapa kita menghakimi?

Ilustrasi baca buku (pexels.com/emre simsek)

Kenapa kita merasa perlu memvalidasi selera orang lain? Jawabannya ada pada Social Identity Theory yang dikembangkan oleh Henri Tajfel dan John Turner. Secara psikologis, keinginan untuk mengelompokkan dan menghakimi selera orang lain bukan muncul tanpa alasan. Hal ini berkaitan erat dengan cara manusia membangun identitas dirinya di tengah masyarakat.

Regina Tuma, PhD, pakar psikologi media dari Fielding Graduate University, menjelaskan bahwa identitas kita sebenarnya sangat dipengaruhi oleh kelompok sosial tempat kita berada. "Teori identitas sosial adalah tantangan bagi gagasan bahwa identitas adalah sesuatu yang mandiri, terisolasi, dan ada tanpa referensi ke masyarakat luas tempat kita berada," kata Regina seperti dikutip dari Very Mind.

Dalam konteks bookshaming, kutipan ini bermakna bahwa saat seseorang menghina buku "populer", ia sebenarnya sedang menegaskan identitasnya sebagai bagian dari kelompok "pembaca cerdas" atau "pembaca sastra berat". Menghakimi selera orang lain menjadi cara bagi individu tersebut untuk merasa terhubung dengan kelompok sosial yang dianggapnya lebih elit.

3. Mainstream bukan berarti murahan

Ilustrasi buku (pexels.com/hong son)

Target utama bookshaming biasanya adalah buku-buku populer atau best-seller. Padahal, sebuah buku menjadi populer bukan tanpa alasan. Sering kali, buku tersebut meledak karena bahasanya yang dekat, mudah dinikmati, dan menjawab keresahan banyak orang.

Menilai kualitas sebuah buku hanya dari tingkat "ringan" atau "beratnya" konten adalah sebuah kekeliruan. Literasi bukan kompetisi siapa yang paling pusing saat membaca, melainkan soal koneksi antara penulis dan pembaca.

4. Jebakan Performative Reading dan Identity Drift

Ilustrasi baca buku (pexels.com/yazid n)

Namun, di balik kerasnya netizen menghakimi buku, muncul tren lain yang tak kalah mengkhawatirkan, yakni Performative Reading. Ini adalah kondisi di mana kita memamerkan buku-buku berat hanya demi terlihat pintar di kamera, meskipun mungkin kita sendiri gak menikmatinya.

Terkait perilaku haus validasi ini, Dr. Pretty Duggar Gupta, Konsultan Psikiater dari Aster Whitefield Hospital, Bengaluru, memberikan peringatan keras melalui laman OnlyMyHealth. "Semakin seseorang menyaring atau menyusun hidupnya demi mendapatkan validasi, semakin lebar jarak antara persona online dengan diri yang sebenarnya. Beberapa orang bahkan mulai membuat keputusan besar dalam hidup, baik itu soal karier, hubungan, atau pembelian berdasarkan bagaimana hal itu akan terlihat secara online, bukan apa yang benar-benar membuat mereka bahagia."

Dr. Gupta menyebut fenomena ini sebagai Identity Drift, di mana perilaku "akting" atau performa di media sosial akhirnya menenggelamkan nilai-nilai pribadi kita yang asli. Kita membaca bukan untuk diri sendiri, tapi untuk feed media sosial.

5. Bookshaming berdampak pada minat baca yang layu sebelum berkembang

Ilustrasi baca buku (pexels.com/george milton)

Dampak paling nyata dari bookshaming adalah matinya minat baca. Bagi seseorang yang baru ingin memulai kebiasaan membaca, judgment dari netizen bisa sangat mengintimidasi. Bukannya semangat mencari buku lain, mereka justru bisa berhenti membaca sama sekali karena merasa dunia literasi itu eksklusif dan penuh orang-orang sombong.

Kita harus ingat bahwa tidak semua orang membaca untuk alasan yang sama. Ada yang membaca untuk belajar, ada yang sekadar ingin kabur sejenak dari penatnya dunia, dan ada yang mencari motivasi hidup.

Gak semua orang memulai perjalanan literasi dari titik yang sama. Buku yang menurutmu "biasa saja" atau "terlalu ringan", bisa jadi adalah buku yang menyelamatkan hidup seseorang atau menjadi pintu masuk bagi mereka untuk mencintai dunia literasi.

Pada akhirnya, buku terbaik adalah buku yang benar-benar dibaca, bukan yang cuma dijadikan pajangan demi terlihat pintar di kamera. Stop bookshaming, start reading!

Editorial Team