Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

6 Fakta Sejarah Buku dari Peradaban Kuno, Ternyata Secanggih Ini!

6 Fakta Sejarah Buku dari Peradaban Kuno, Ternyata Secanggih Ini!
potret buku dari peradaban kuno (commons.wikimedia.org/Vyacheslav Argenberg)
Intinya Sih
  • Sejak ribuan tahun lalu, berbagai peradaban seperti Mesir, Mesopotamia, dan Yunani-Romawi telah mengembangkan bentuk awal buku dari papirus, tablet tanah liat, hingga codex yang menyerupai buku modern.
  • Peradaban Persia dan Arab berperan besar dalam pengelolaan arsip serta penyebaran literasi global melalui sistem administrasi maju dan revolusi kertas yang memungkinkan produksi buku massal.
  • Kekaisaran Mongol mempercepat pertukaran pengetahuan lintas benua lewat Jalur Sutra, menjadikan perjalanan buku sebagai hasil kolaborasi panjang antarbudaya menuju bentuk modern yang kita kenal kini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dari yang kita bayangkan, buku sering dianggap sebagai produk modern. Sesuatu yang lahir setelah mesin cetak ditemukan di Eropa. Padahal, jauh sebelum itu, manusia sudah punya dorongan kuat untuk merekam pengetahuan, menyimpannya, dan mewariskannya ke generasi berikutnya. Momentum seperti Hari Buku Nasional, jadi pengingat bahwa tradisi literasi manusia punya akar yang sangat dalam, bahkan sejak ribuan tahun lalu.

Menariknya, “buku” di masa kuno tidak selalu berbentuk seperti yang kita kenal sekarang. Ada yang berupa gulungan panjang, tablet tanah liat, hingga lembaran kulit yang dijilid sederhana. Setiap peradaban mengembangkan caranya sendiri untuk menyimpan ilmu pengetahuan, menciptakan fondasi bagi dunia literasi modern. Berikut enam peradaban kuno yang sudah mengenal konsep buku dalam bentuk awalnya!

1. Papirus dari Mesir kuno, cikal bakal halaman buku

potret papirus dari Mesir kuno
potret papirus dari Mesir kuno (commons.wikimedia.org/Jeff Dahl)

Peradaban Mesir kuno dikenal sebagai pelopor penggunaan papirus, bahan tulis yang dibuat dari tanaman Cyperus papyrus. Papirus ini dipotong tipis, disusun silang, lalu ditekan hingga membentuk lembaran yang bisa ditulisi. Dalam banyak kasus, lembaran-lembaran ini digabung menjadi gulungan panjang yang disebut scroll, yang bisa mencapai puluhan meter panjangnya.

Salah satu contoh paling terkenal adalah Book of the Dead, kumpulan teks religius yang digunakan sebagai panduan bagi roh di kehidupan setelah mati. Teks ini bukan sekadar tulisan biasa, tapi juga dihiasi ilustrasi yang memperlihatkan keyakinan spiritual masyarakat Mesir Kuno.

Menurut penelitian arkeologi yang dirangkum oleh British Museum dan UNESCO, penggunaan papirus sudah ada sejak sekitar 3000 SM. Ini menunjukkan bahwa konsep “halaman” dan “penyimpanan teks” sudah dikenal sangat awal dalam sejarah manusia, meskipun belum berbentuk buku berlembar seperti sekarang.

2. Mesopotamia, tablet tanah liat sebagai halaman pertama

potret cuneiform dari Mesopotamia
potret cuneiform dari Mesopotamia (commons.wikimedia.org/Bjørn Christian Tørrissen)

Di wilayah Mesopotamia, yang meliputi Sumeria dan Babilonia, manusia menulis menggunakan sistem aksara paku (cuneiform) di atas tablet tanah liat. Tablet ini dipahat saat masih basah, lalu dikeringkan atau dibakar agar awet. Meski terlihat sederhana, sistem ini memungkinkan penyimpanan informasi dalam jumlah besar.

Kumpulan tablet sering disusun dan disimpan dalam arsip besar, seperti di Perpustakaan Ashurbanipal. Perpustakaan ini dianggap sebagai salah satu perpustakaan tertua di dunia, berisi ribuan tablet yang mencakup berbagai topik mulai dari hukum, mitologi, hingga sains.

Karya sastra legendaris seperti Epik Gilgamesh ditemukan dalam bentuk tablet ini. Berdasarkan studi dari British Museum dan para ahli assyriology, teks ini berasal dari sekitar 2100 SM, menjadikannya salah satu karya sastra tertua yang pernah ditemukan manusia.

3. Yunani dan Romawi kuno, lahirnya bentuk buku modern

potret codex dari Yunani kuno
‎potret codex dari Yunani kuno (commons.wikimedia.org/Paris, Bibliothèque Nationale)

Bangsa Yunani dan Romawi membawa revolusi besar dalam bentuk buku dengan memperkenalkan codex. Berbeda dari scroll, codex terdiri dari lembaran-lembaran yang dijilid di satu sisi, memungkinkan pembaca membuka halaman tertentu dengan cepat. Menjadikannya mirip dengan buku modern.

Perubahan ini tidak hanya soal bentuk, tapi juga cara membaca dan menyimpan informasi. Codex lebih praktis, tahan lama, dan mudah dibawa. Hal ini membuat penyebaran pengetahuan menjadi lebih efisien di dunia kuno.

Perkembangan ini juga berkaitan erat dengan pusat ilmu seperti Perpustakaan Alexandria, yang menurut catatan sejarawan kuno seperti Strabo dan Galen, menyimpan ratusan ribu gulungan teks dari berbagai peradaban.

4. Persia kuno, arsip kerajaan yang sistematis

potret persepolis tablet dari Persia kuno
potret persepolis tablet dari Persia kuno (commons.wikimedia.org/Pentocelo)

Kekaisaran Persia, khususnya pada masa Achaemenid (sekitar abad ke-6 SM), dikenal memiliki sistem administrasi yang sangat maju. Mereka menggunakan berbagai media tulis, seperti kulit, papirus, dan tablet untuk mencatat pajak, hukum, serta komunikasi antar wilayah kekaisaran.

Dokumen-dokumen ini disimpan dalam arsip kerajaan yang terorganisir dengan baik. Salah satu bukti arkeologis penting adalah Persepolis Fortification Tablets, yang berisi catatan ekonomi dan logistik kerajaan.

Menurut penelitian dari Oriental Institute University of Chicago, arsip-arsip ini menunjukkan bahwa Persia tidak hanya menyimpan informasi, tetapi juga mengelolanya secara sistematis. Sebuah langkah penting menuju konsep perpustakaan dan buku terorganisir.

5. Peradaban Arab, revolusi buku kertas yang mendunia

manuskrip Qur'an abad ke-7 di Birmingham
manuskrip Qur'an abad ke-7 di Birmingham (commons.wikimedia.org/The New York Times)

Peradaban Arab membawa lompatan besar dalam sejarah buku, terutama setelah mengadopsi teknologi kertas dari Tiongkok pada abad ke-8. Kertas jauh lebih murah dan mudah diproduksi dibanding papirus atau perkamen, sehingga memungkinkan produksi buku dalam jumlah besar.

Kota Baghdad menjadi pusat intelektual dunia dengan berdirinya Bayt al-Hikmah. Di sini, para ilmuwan menerjemahkan, menyalin, dan mengembangkan karya dari Yunani, Persia, dan India.

Menurut sejarawan, seperti George Saliba dan Jonathan Bloom, periode ini menjadi tonggak penting dalam sejarah literasi global. Buku tidak lagi eksklusif untuk kalangan elit, tetapi mulai tersebar luas, mencakup bidang astronomi, kedokteran, matematika, hingga filsafat.

6. Kekaisaran Mongol, penyebar buku lintas benua

potret surat Arghun dari Mongolia
potret surat Arghun dari Mongolia (commons.wikimedia.org/Archives nationales)

Meski bukan pencipta buku, Kekaisaran Mongol memainkan peran penting dalam menyebarkan pengetahuan. Di bawah kekuasaan mereka, Jalur Sutra menjadi lebih aman, memungkinkan pertukaran barang, ide, dan manuskrip antar wilayah Asia dan Eropa.

Hal ini mempercepat penyebaran teknologi kertas, teknik penulisan, dan bahkan isi buku itu sendiri. Pengetahuan dari dunia Islam, Tiongkok, dan Eropa bisa saling berinteraksi berkat stabilitas yang diciptakan oleh kekaisaran ini.

Sejarawan seperti Peter Frankopan dalam The Silk Roads menjelaskan bahwa konektivitas ini menjadi salah satu faktor utama berkembangnya peradaban global, termasuk dalam dunia literasi dan penyebaran buku.

Perjalanan buku ternyata bukan hasil karya satu peradaban saja, melainkan kolaborasi panjang lintas budaya selama ribuan tahun. Dari tablet tanah liat di Mesopotamia, gulungan papirus di Mesir, hingga codex Yunani-Romawi dan buku kertas di dunia Islam. Semuanya menjadi fondasi bagi buku modern yang kita kenal hari ini.

Jadi, setiap kali kita membuka buku, sebenarnya kita sedang terhubung dengan warisan panjang peradaban manusia. Dari tangan para juru tulis kuno hingga percetakan modern, buku adalah bukti bahwa manusia selalu punya satu hal yang sama—keinginan untuk memahami dunia dan meninggalkan jejak pengetahuan bagi masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna

Related Articles

See More