Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sabrina Carpenter di film Clouds.
Sabrina Carpenter di film Clouds (dok. Warner Bros/Clouds)

Intinya sih...

  • The Hate U Give – Angie Thomas

  • A Streetcar Named Desire – Tennessee Williams

  • No One Asked For This – Cazzie David

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sabrina Carpenter bukan cuma dikenal sebagai penyanyi dan aktris berbakat, tapi juga sebagai sosok yang gemar membaca. Pilihan bukunya mencerminkan ketertarikan pada kisah-kisah emosional, mulai dari isu sosial hingga perjalanan hidup yang sangat personal. Buku-buku favoritnya sering kali punya karakter kuat dan cerita yang meninggalkan bekas setelah halaman terakhir ditutup.

Menariknya, daftar bacaan Sabrina terasa sangat beragam. Ada novel yang mengkritik ketidakadilan sosial, drama klasik yang intens, memoar penuh nostalgia, sampai kisah nyata yang menguras emosi. Kalau kamu sedang mencari bacaan yang punya kedalaman emosi sekaligus relevan dengan kehidupan modern, daftar buku favorit Sabrina Carpenter berikut ini bisa jadi inspirasi sempurna.

1. The Hate U Give – Angie Thomas

buku The Hate U Give (harpercollins.com)

Buku ini mengikuti kehidupan Starr Carter, remaja yang hidup di dua dunia berbeda, lingkungan tempat tinggalnya yang keras dan sekolah elit yang mayoritas muridnya berasal dari keluarga berada. Ketegangan hidupnya memuncak ketika ia menjadi satu-satunya saksi penembakan sahabatnya oleh polisi. Dari titik ini, Starr harus berhadapan dengan tekanan sosial dan dilema moral.

Yang membuat The Hate U Give begitu kuat adalah caranya memanusiakan isu besar yang sering kita lihat di berita. Sabrina Carpenter sendiri menyukai bagaimana cerita ini tidak memberi ruang pada emosi, trauma, serta keberanian seorang remaja. Novel ini tidak hanya menyentuh, tapi juga membuka mata tentang suara yang sering kali diabaikan.

2. A Streetcar Named Desire – Tennessee Williams

buku A Streetcar Named Desire (waterstones.com)

Drama klasik ini berfokus pada Blanche DuBois, perempuan rapuh yang terjebak dalam kenangan masa lalu dan ilusi tentang dirinya sendiri. Saat tinggal bersama adiknya dan sang suami di New Orleans, Blanche perlahan kehilangan kendali atas realitas. Ketegangan antara dirinya dan Stanley menjadi pusat konflik yang emosional dan menghancurkan.

Buku ini penuh dialog tajam dan konflik psikologis yang intens. Ketertarikan Sabrina pada karya ini menunjukkan kecintaannya pada cerita yang menggali sisi gelap manusia. A Streetcar Named Desire bukan bacaan ringan, tapi sangat kuat dalam menunjukkan bagaimana trauma dan penyangkalan bisa menghancurkan seseorang secara perlahan.

3. No One Asked For This – Cazzie David

buku No One Asked for This (harpercollins.com)

Dalam buku esai ini, Cazzie David menuliskan kegelisahan hidupnya dengan gaya jujur, sarkastik, dan kadang sangat gelap. Ia membahas kecemasan sosial, rasa malu, hubungan yang canggung, dan ketakutan eksistensial dengan nada yang terasa sangat relatable. Buku ini seperti curhatan panjang yang tidak berusaha terlihat sempurna.

Dalam wawancara bersama Vogue, Sabrina terlihat menyimpan buku ini di meja samping tempat tidurnya, dan itu masuk akal. No One Asked For This terasa dekat dengan generasi muda yang sering overthinking dan merasa tidak cukup baik. Di balik humornya, buku ini menyentuh soal kesehatan mental dengan cara yang ringan tapi tetap mengena.

4. The Seven Husbands of Evelyn Hugo – Taylor Jenkins Reid

buku The Seven Husbands of Evelyn Hugo (waterstones.com)

Novel ini mengisahkan Evelyn Hugo, ikon Hollywood yang akhirnya memutuskan untuk menceritakan kisah hidupnya yang penuh skandal, cinta, dan pengorbanan. Lewat wawancara dengan jurnalis muda bernama Monique, lapisan demi lapisan masa lalu Evelyn terbuka. Setiap pernikahan membawa cerita, rahasia, dan luka yang berbeda.

Yang membuat buku ini begitu digemari adalah emosinya yang kompleks dan karakter yang terasa hidup. Sabrina tampaknya tertarik pada sisi glamor yang ternyata penuh kesepian. The Seven Husbands of Evelyn Hugo bukan sekadar cerita selebritas, tapi juga tentang identitas dan harga yang harus dibayar demi ketenaran.

5. Just Kids – Patti Smith

buku Just Kids (goodreads.com)

Memoar ini menceritakan hubungan mendalam antara Patti Smith dan fotografer legendaris Robert Mapplethorpe di New York era 60–70-an. Buku ini penuh kisah tentang seni, perjuangan, dan mimpi besar di tengah hidup yang serba pas-pasan. Setiap halaman terasa intim dan jujur.

Sabrina menyebut Just Kids sebagai salah satu buku favoritnya yang sering ia baca ulang. Wajar saja, karena buku ini tidak hanya bicara tentang seni, tapi juga persahabatan, cinta, dan kehilangan. Ceritanya lembut namun penuh makna, cocok bagi siapa pun yang sedang mengejar mimpi di dunia kreatif.

6. Clouds – Laura Sobiech

buku Clouds (goodreads.com)

Buku ini mengisahkan kisah nyata Zach Sobiech, remaja yang mengubah rasa sakit akibat kanker menjadi karya musik yang menginspirasi jutaan orang. Alih-alih menulis surat perpisahan, Zach memilih menciptakan lagu yang akhirnya viral dan menyentuh banyak hati. Cerita ini diceritakan dari sudut pandang ibunya, dengan penuh cinta dan kejujuran.

Sabrina Carpenter memiliki kedekatan emosional dengan buku ini karena ia juga membintangi adaptasi filmnya. Clouds adalah pengingat tentang betapa berharganya waktu dan bagaimana harapan bisa muncul di tengah situasi paling gelap. Buku ini menyentuh tanpa terasa manipulatif, dan sulit dibaca tanpa emosi.

Pilihan buku favorit Sabrina Carpenter menunjukkan bahwa ia menyukai cerita yang jujur, emosional, dan punya dampak mendalam. Dari semua buku di daftar ini, mana yang paling bikin kamu penasaran untuk langsung masuk ke reading list-mu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team