Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
buku Woman in the Nineteenth Century, buku The Subjection of Women, buku The Second Sex.
buku Woman in the Nineteenth Century (goodreads.com) | buku The Subjection of Women (gutenberg.org) | buku The Second Sex (goodreads.com)

Intinya sih...

  • A Vindication of the Rights of Woman – Mary Wollstonecraft (1792)

  • The Subjection of Women – John Stuart Mill (1869)

  • Woman in the Nineteenth Century – Margaret Fuller (1845)

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebelum kata “feminisme” dikenal luas dan dijadikan gerakan global, sudah ada suara-suara yang lebih dulu menggugat ketidakadilan terhadap perempuan lewat tulisan. Penulis-penulis ini menyoroti sistem sosial yang timpang, menuntut kesetaraan pendidikan, dan mempertanyakan peran tradisional yang selama ini dianggap kodrat.

Melalui karya sastra maupun esai filosofis, mereka menanam benih perjuangan yang kelak tumbuh menjadi gerakan besar. Mereka membuka ruang diskusi tentang hak, suara, dan kebebasan perempuan di tengah masyarakat yang dulu sangat konservatif. Kalau kamu penasaran dari mana hal tersebut berakar, maka kelima buku klasik yang membuka jalan lahirnya feminisme berikut ini menarik untuk dibaca.

1. A Vindication of the Rights of Woman – Mary Wollstonecraft (1792)

buku A Vindication of the Rights of Woman (britannica.com)

Buku ini sering disebut sebagai fondasi awal dari pemikiran feminis modern. Mary Wollstonecraft menulis esai panjang ini sebagai respons terhadap pandangan bahwa perempuan hanya cocok untuk menjadi istri dan ibu. Dalam bukunya, ia menuntut agar perempuan diberikan pendidikan yang sama dengan laki-laki karena menurutnya, kesetaraan intelektual adalah hak semua manusia.

Wollstonecraft tidak hanya bicara soal hak, tapi juga menyoroti bagaimana sistem sosial saat itu merugikan perempuan dari kecil hingga dewasa. Meski ditulis lebih dari dua abad lalu, argumennya masih sangat relevan hari ini. Buku ini dianggap berani dan melawan arus zamannya, menjadikannya karya penting yang membuka jalan bagi gerakan kesetaraan gender.

2. The Subjection of Women – John Stuart Mill (1869)

buku The Subjection of Women (gutenberg.org)

Menariknya, salah satu buku feminis paling berpengaruh ini ditulis oleh seorang pria. John Stuart Mill, bersama istrinya Harriet Taylor Mill, menulis The Subjection of Women sebagai kritik terhadap ketidakadilan hukum dan sosial terhadap perempuan. Ia berargumen bahwa diskriminasi terhadap perempuan bukanlah hal yang alami, melainkan hasil dari budaya patriarki yang sudah lama berlangsung.

Mill percaya bahwa dunia akan jauh lebih maju jika perempuan diberi kesempatan yang sama dalam pendidikan, politik, dan pekerjaan. Buku ini menjadi suara penting pada masanya dan membuat orang mulai mempertanyakan sistem yang sudah dianggap wajar. Sampai sekarang, buku ini masih dipelajari karena pendekatannya yang rasional dan humanis dalam membahas isu gender.

3. Woman in the Nineteenth Century – Margaret Fuller (1845)

buku Woman in the Nineteenth Century (goodreads.com)

Margaret Fuller adalah salah satu penulis perempuan pertama yang bicara soal kebebasan intelektual perempuan di Amerika. Dalam bukunya Woman in the Nineteenth Century, ia mendorong perempuan untuk tidak hanya menjadi pendamping laki-laki, tapi juga berdiri sebagai individu yang mandiri, punya suara, dan ikut berpikir dalam urusan sosial maupun politik.

Fuller menulis dengan semangat yang tinggi, mengangkat nilai kesetaraan bukan hanya dalam rumah tangga, tapi juga dalam masyarakat luas. Ia percaya bahwa perkembangan peradaban tergantung pada kemampuan perempuan untuk tumbuh dan berpikir secara bebas. Buku ini menjadi jembatan penting dari pemikiran individual ke arah feminisme kolektif di Amerika.

4. The Second Sex – Simone de Beauvoir (1949)

buku The Second Sex (goodreads.com)

Simone de Beauvoir mengubah cara orang melihat perempuan dengan The Second Sex, sebuah buku filsafat feminis yang sangat terkenal. Ia memperkenalkan konsep “perempuan bukan dilahirkan, tetapi dibentuk,” yang artinya banyak hal yang dianggap alami pada perempuan sebenarnya adalah hasil dari konstruksi sosial.

Buku ini tidak hanya membahas sejarah perempuan, tapi juga menelusuri bagaimana budaya, agama, dan sains membentuk identitas perempuan. Dengan gaya tulisannya yang tajam, Beauvoir mengajak pembaca untuk berpikir ulang tentang norma-norma yang selama ini dianggap biasa.

5. Their Eyes Were Watching God – Zora Neale Hurston (1937)

buku Their Eyes Were Watching God (zoranealehurston.com)

Lewat novel ini, Zora Neale Hurston menggambarkan kisah Janie Crawford, seorang perempuan kulit hitam yang berjuang menemukan suara dan jati dirinya di tengah tekanan masyarakat dan relasi yang tidak setara. Cerita ini menjadi potret penting tentang perjuangan perempuan, terutama dari perspektif ras dan kelas.

Hurston menulis dengan sangat puitis, menyentuh berbagai lapisan emosi dan konflik yang dialami perempuan. Meskipun tidak secara eksplisit disebut sebagai buku feminis pada zamannya, kisah Janie memperlihatkan pentingnya kemampuan perempuan untuk mengambil keputusan dan menentukan nasibnya sendiri.

Kalau kamu tertarik dengan sejarah feminisme atau ingin memahami akar-akar perjuangan kesetaraan gender, kelima buku ini bisa jadi awal yang sangat kuat. Dari kelima buku klasik yang membuka jalan lahirnya feminisme, mana yang paling ingin kamu baca terlebih dahulu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team