Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Berhenti Merasa Terancam oleh Prestasi Orang Lain

Ilustrasi gawai
Ilustrasi gawai (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya sih...
  • Pahami bahwa setiap orang punya timeline kehidupan yang berbeda-beda
  • Ubah cara pandangmu terhadap kesuksesan orang lain sebagai sumber inspirasi
  • Fokus pada progress pribadi daripada membandingkan dengan orang lain
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Media sosial memang membuat kita semakin mudah terhubung dengan orang lain, tapi di sisi lain juga membuat kita jadi lebih sering membandingkan diri dengan pencapaian mereka. Scrolling timeline sebentar saja, kamu sudah disuguhi berbagai cerita sukses, ada yang baru naik jabatan, ada yang berhasil membeli rumah impian, atau ada yang mendapat beasiswa bergengsi. Alih-alih merasa termotivasi, yang ada malah perasaan terancam dan insecure yang muncul. Padahal, seharusnya kesuksesan orang lain bisa kita jadikan sebagai inspirasi untuk berkembang, bukan malah membuat kita merasa kecil dan tidak berharga.

Kalau kamu sering mengalami perasaan seperti ini, tenang, kamu gak sendirian kok! Banyak orang yang mengalami hal serupa, dan kabar baiknya, perasaan ini bisa diatasi dengan beberapa cara sederhana. Yuk, simak cara berhenti merasa terancam oleh prestasi orang lain agar kamu lebih damai dan termotivasi!

1. Pahami bahwa setiap orang punya timeline kehidupan yang berbeda-beda

ilustrasi belajar
ilustrasi belajar (pexels.com/George Pak)

Salah satu alasan kenapa kita merasa terancam dengan prestasi orang lain adalah karena kita menganggap bahwa semua orang harusnya mencapai kesuksesan di waktu yang sama. Kenyataannya? Setiap orang punya perjalanan hidup yang unik! Ada yang memang beruntung bisa meraih kesuksesan di usia muda, tapi ada juga yang baru menemukan passion-nya di usia 40 tahun. Well, tidak ada yang salah dengan kedua hal tersebut.

Coba deh ingat-ingat, Colonel Sanders baru mendirikan KFC di usia 62 tahun, sedangkan Mark Zuckerberg sudah jadi miliarder di usia 23 tahun. Apakah salah satu dari mereka gagal? Tentu tidak! Mereka sama-sama sukses, hanya saja dengan timeline yang berbeda. Jadi, daripada stres karena merasa tertinggal, lebih baik fokus pada perjalananmu sendiri. Percaya deh, kesuksesanmu akan datang pada waktunya yang tepat.

2. Ubah cara pandangmu terhadap kesuksesan orang lain sebagai sumber inspirasi

ilustrasi berbincang
ilustrasi berbincang (pexels.com/fauxels)

Ketika melihat pencapaian orang lain, reaksi pertama kita mungkin adalah merasa iri atau bahkan merasa diri kita gak mampu. Tapi tunggu dulu, bagaimana kalau kita mengubah perspektif ini? Daripada melihat kesuksesan mereka sebagai ancaman, kenapa gak mencoba melihatnya sebagai bukti bahwa hal-hal hebat memang mungkin untuk dicapai?

Misalnya, saat temanmu berhasil mendapat promosi, alih-alih merasa tersaingi, kamu bisa bertanya pada diri sendiri, "Apa yang bisa aku pelajari dari perjalanannya?" Mungkin dia punya strategi networking yang bagus atau skill tertentu yang perlu kamu kembangkan. Dengan cara ini, prestasi orang lain justru bisa menjadi peta jalan untuk kesuksesanmu sendiri. Menarik, kan?

3. Fokus pada progress pribadi daripada membandingkan dengan orang lain

ilustrasi belajar
ilustrasi belajar (pexels.com/RDNE Stock project)

Membandingkan diri dengan orang lain itu ibarat lari maraton tapi kamu malah sibuk melihat pelari di sebelahmu terus-menerus. Akibatnya? Kamu kehilangan fokus pada lintasanmu sendiri dan malah bisa tersandung! Nah, daripada terus-terusan membandingkan pencapaianmu dengan orang lain, lebih baik fokus pada kemajuan yang sudah kamu buat.

Coba buat jurnal progres pribadi. Catat pencapaian-pencapaian kecil yang kamu raih setiap minggu atau setiap bulan. Bisa jadi kamu berhasil menyelesaikan project yang menantang, berhasil bangun lebih pagi selama seminggu penuh, atau bahkan berhasil membaca satu buku dalam sebulan. Pencapaian sekecil apa pun tetap layak untuk dirayakan! Dengan cara ini, kamu akan lebih menghargai perjalananmu sendiri tanpa perlu merasa terancam dengan kesuksesan orang lain.

4. Batasi konsumsi media sosial dan pilih konten yang membangun

Ilustrasi gawai
Ilustrasi gawai (freepik.com/freepik)

Mari kita jujur, media sosial sering kali hanya menampilkan highlight reel kehidupan seseorang, bukan behind the scene-nya. Kamu melihat foto liburan mewah temanmu, tapi gak tahu bahwa dia mungkin bekerja overtime selama berbulan-bulan untuk bisa berlibur. Atau kamu melihat postingan tentang kesuksesan bisnis seseorang, tapi gak tahu berapa kali dia gagal sebelum akhirnya berhasil.

Kalau scrolling media sosial mulai membuatmu merasa gak nyaman, mungkin sudah saatnya untuk membatasi waktu screen time. Kamu bisa menggunakan fitur timer di smartphone atau bahkan melakukan digital detox selama beberapa hari. Selain itu, kurasi juga feed-mu dengan konten-konten yang membangun dan menginspirasi. Unfollow akun-akun yang membuatmu merasa buruk tentang diri sendiri, dan follow akun-akun yang memberikan nilai positif untuk hidupmu.

5. Kembangkan rasa syukur dan apresiasi terhadap pencapaianmu sendiri

Ilustrasi wanita
Ilustrasi wanita (freepik.com/freepik)

Terakhir, tapi gak kalah penting adalah membangun kebiasaan bersyukur. Sering kali kita terlalu fokus pada apa yang belum kita miliki sampai lupa menghargai apa yang sudah ada. Padahal, kalau dipikir-pikir, pasti ada banyak hal dalam hidupmu yang patut disyukuri, kan?

Mulai hari ini, coba luangkan waktu setiap malam untuk menuliskan tiga hal yang kamu syukuri hari ini. Bisa hal-hal sederhana seperti makan siang yang enak, obrolan seru dengan teman, atau bahkan hanya karena hari ini kamu berhasil menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Dengan rutin melakukan ini, mindset-mu akan pelan-pelan berubah dari "kenapa aku belum seperti dia?" menjadi "aku bersyukur dengan apa yang aku miliki dan terus berusaha untuk lebih baik."

Merasa terancam dengan prestasi orang lain adalah hal yang manusiawi, tapi bukan berarti kita harus terus-terusan terjebak dalam perasaan tersebut. Ingat, hidup ini bukan kompetisi dengan orang lain, melainkan perjalanan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Jadi, daripada kamu iri hati dan energimu habis, lebih baik gunakan untuk menerapkan cara berhenti merasa terancam oleh prestasi orang lain dan fokus pada pertumbuhan pribadi. Siap untuk mulai mengubah perspektif?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Life

See More

3 Rekomendasi Eyebrow Pencil Terbaru 2026, Bikin Alis Presisi

15 Jan 2026, 12:03 WIBLife