Gaya Hidup di Daerah Rawan Bencana: Cara Bertahan dan Tetap Nyaman

- Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan terhadap risiko bencana
- Mengetahui tanda-tanda alam atau sirine peringatan dini
- Mempelajari jalur evakuasi dan lokasi pengungsian yang aman
- Memastikan bangunan rumah telah memenuhi standar tahan bencana
- Menyesuaikan bangunan dengan konstruksi tahan terhadap bencana
- Tidak membangun rumah di bantaran sungai serta menerapkan desain hunian yang lebih tinggi
Setiap orang tentu menginginkan tempat tinggal di wilayah yang aman dari bencana. Namun nyatanya, kondisi tersebut belum bisa dirasakan oleh semua orang. Bagi mereka yang tinggal di wilayah rawan bencana, seperti di dekat kaki gunung api, pesisir pantai, atau wilayah yang rentan mengalami pergeseran tanah, risiko akan datangnya bencana sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Ada alasan kuat mengapa di antara mereka masih banyak yang tetap tinggal di daerah rawan bencana. Mulai dari keterikatan sosial dan emosional yang erat terhadap tempat tinggal mereka, dekat dengan sumber mata pencaharian, hingga adanya keterbatasan biaya hidup.
Walaupun demikian, bukan berarti bencana yang datang tidak dapat diantisipasi. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana bisa menerapkan gaya hidup adaptif guna mengurangi risiko sekaligus dampak dari bencana yang akan terjadi. Berikut ini IDN Times mengulas tentang gaya hidup di daerah rawan bencana, dalam upaya mempertahankan diri sekaligus membangun ruang yang nyaman.
1. Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan terhadap risiko bencana

Langkah pertama yang wajib dilakukan adalah membekali diri dengan kesadaran dan pengetahuan terhadap risiko bencana yang sering muncul di wilayah tersebut. Misalnya, jika tempat tinggalmu rentan terjadi tsunami, maka kamu harus mengetahui tanda-tanda alam atau sirine peringatan dini terkait datangnya bencana tersebut.
Selain itu, memahami jalur evakuasi dan lokasi pengungsian yang aman juga menjadi aspek penting. Warga dan pemerintah setempat bisa mengadakan pelatihan khusus guna menghadapi bencana apabila sewaktu-waktu terjadi. Sebagai contoh; saat muncul tanda-tanda tsunami, mereka harus bisa tahu ke mana sebaiknya mereka pergi dan hal-hal apa yang harus dilakukan.
2. Memastikan bangunan rumah telah memenuhi standar tahan bencana

Karena bertempat tinggal di wilayah rawan bencana, alhasil masyarakat perlu menyesuaikan bangunan rumah dengan konstruksi yang sudah didesain khusus tahan terhadap bencana, terutama di daerah rawan gempa dan banjir. Bagi wilayah yang rawan terjadi gempa bumi, membangun konstruksi rumah yang tahan terhadap guncangan gempa bisa membantu meminimalisir kerusakan hunian.
Sementara itu, bagi yang tinggal di wilayah rawan banjir, tidak membangun rumah di bantaran sungai serta menerapkan desain hunian yang lebih tinggi juga dapat menjaga perabotanmu tetap aman. Perencanaan tata ruang dan pembangunan infrastruktur dengan mempertimbangkan potensi risiko bencana dapat membantu mempertahankan keberlanjutan pembangunan.
3. Memperkuat ikatan solidaritas antarwarga

Ikatan solidaritas dan budaya gotong royong yang kuat menjadi aspek penting bagi masing-masing individu. Apalagi, jika bertempat tinggal di wilayah rawan bencana. Melalui solidaritas yang kuat, masyarakat dapat lebih mudah dalam merespons keadaan darurat secara kolektif.
Bencana bisa menimbulkan tekanan fisik, psikologis, dan ekonomi. Namun jika solidaritas sosial dan budaya gotong royong sudah tertanam sejak dini, tekanan yang ditimbulkan akibat bencana bisa sedikit berkurang karena setiap individu saling merangkul, membantu, dan mendukung.
4. Menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan

Sudah menjadi hal yang wajib dilakukan setiap warga negara untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Apalagi, bagi mereka yang bertempat tinggal di daerah rawan bencana, mempertahankan keseimbangan alam setidaknya bisa membantu meminimalisir dampak buruk saat terjadi dan setelah bencana datang.
Misal, jika kamu bertempat tinggal di lereng gunung atau bukit yang berpotensi longsor, sebaiknya membuat terasering dengan sistem drainase yang tepat. Jangan sampai drainase tersumbat atau meresapkan air ke dalam tanah. Selain itu, hindari menebang pohon sembarangan, tetapi lakukanlah penghijauan melalui sistem yang benar agar tanaman dan pepohonan tumbuh subur sehingga mampu meminimalkan risiko tanah longsor.
5. Menjadikan kewaspadaan sebagai bagian dari kehidupan

Ancaman bencana yang bisa muncul kapan saja seakan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Karenanya, kesadaran akan kerawanan ini menuntut mereka untuk selalu waspada di mana pun dan kapan pun.
Mereka harus siap dan tanggap ketika menghadapi situasi darurat, seperti memahami bagaimana cara menyelamatkan diri, bagaimana cara bersikap saat berada dalam kondisi genting, dan masih banyak lagi. Meski kedengarannya berat, langkah ini dapat membantu menciptakan mental yang tangguh, mendorong mereka untuk cepat pulih dan bangkit guna melanjutkan hidup.
Sekali lagi, bencana merupakan peristiwa yang bisa datang secara tiba-tiba. Bencana alam murni terjadi secara alamiah, tanpa campur tangan manusia. Sementara, bencana akibat ulah manusia terjadi lantaran tindakan, kelalaian, atau aktivitas manusia itu sendiri.
Kendati demikian, penting bagi setiap orang untuk bahu-membahu menjaga kelestarian lingkungan serta memperkuat budaya tangguh bencana. Hal ini dilakukan demi melindungi generasi sekarang dan yang akan datang.



















