Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Cara Mengatasi Kesepian saat Jalani Puasa Sendirian di Perantauan
ilustrasi perempuan kesepian (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)
  • Artikel membahas tantangan emosional anak rantau yang menjalani puasa sendirian, terutama rasa sepi dan rindu keluarga saat sahur maupun berbuka.
  • Ditekankan pentingnya menciptakan suasana hangat lewat ritual pribadi, video call dengan orang terdekat, serta membangun koneksi dengan komunitas sekitar.
  • Disarankan menjaga kesehatan mental dengan aktivitas positif dan menerima perasaan sedih sebagai bagian dari proses tumbuh selama Ramadan di perantauan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah gak sih kamu merasa Ramadan kali ini terasa lebih sunyi dari biasanya? Tidak ada tradisi sahur bareng keluarga atau rebutan takjil di meja makan. Semua terasa lebih tenang, tapi juga lebih sepi. Apalagi kalau kamu sedang merantau jauh dari rumah.

Puasa sendirian di kos memang punya tantangan emosional tersendiri. Kamu harus kuat secara fisik sekaligus mental tanpa banyak dukungan langsung. Kadang yang paling berat justru bukan lapar, tapi rasa rindu. Kalau kamu sedang ada di fase ini, yuk simak tips bertahan agar Ramadan tetap terasa hangat.

1. Buat ritual sahur yang terasa personal

ilustrasi perempuan mendengarkan musik (freepik.com/freepik)

Sahur sendirian sering terasa hambar karena tidak ada yang diajak berbicara. Kamu bangun, makan seadanya, lalu kembali tidur tanpa interaksi berarti. Rutinitas ini bisa bikin puasa anak rantau terasa monoton. Padahal, kamu bisa menciptakan suasana yang lebih hangat.

Coba putar lagu favorit atau podcast yang menemani waktu makan. Siapkan menu sederhana yang kamu sukai, bukan sekadar yang praktis. Duduklah dengan tenang dan nikmati setiap suapan tanpa terburu-buru. Ritual kecil ini membantu mengatasi kesepian di perantauan secara perlahan.

2. Jadwalkan video call dengan orang terdekat

ilustrasi perempuan melakukan video call (freepik.com/benzoix)

Rasa hampa sering muncul saat azan magrib berkumandang. Kamu berbuka tanpa suara tawa atau rebutan gorengan seperti di rumah. Di momen seperti itu, rindu bisa datang tiba-tiba. Jangan dipendam sendirian.

Manfaatkan teknologi untuk tetap terhubung. Atur jadwal video call singkat saat sahur atau setelah tarawih. Melihat wajah orang tua atau sahabat bisa menguatkan mental health anak kos. Percakapan sederhana sering cukup untuk mengurangi loneliness Ramadan.

3. Cari komunitas kecil di sekitar kos atau kantor

ilustrasi buka puasa bersama teman (pexels.com/ds rexy)

Puasa sendirian di kos bukan berarti kamu harus selalu sendiri. Di lingkungan sekitar, pasti ada orang yang nasibnya sama. Mungkin teman sekantor, tetangga kamar, atau teman satu kota yang juga merantau. Kamu hanya perlu sedikit berani membuka obrolan.

Cobalah ajak mereka berbuka bersama sesekali. Tidak perlu mewah, cukup beli makanan lalu makan bareng di ruang tamu kos. Kebersamaan sederhana bisa memberi energi baru. Mengatasi kesepian di perantauan sering dimulai dari langkah kecil seperti ini.

4. Isi waktu dengan aktivitas yang bikin kamu merasa hidup

ilustrasi perempuan membaca (freepik.com/lifeforstock)

Kesepian sering terasa lebih kuat ketika kamu tidak punya kegiatan. Setelah kerja atau kuliah, kamar kos terasa makin sepi. Pikiran jadi ke mana-mana, apalagi saat tubuh lelah dan lapar. Di titik ini, kamu perlu distraksi yang sehat.

Ikut kelas online, membaca buku, atau olahraga ringan sebelum berbuka bisa jadi pilihan. Aktivitas tersebut membantu menjaga kesehatan mental tetap stabil. Kamu jadi punya fokus selain rasa sepi. Ramadan pun terasa lebih bermakna, bukan sekadar menahan lapar.

5. Izinkan diri merasa sedih tanpa menyalahkan keadaan

ilustrasi perempuan sedih (pexels.com/Liza Summer)

Kadang kamu sudah berusaha tetap sibuk, tapi tetap saja merasa kosong. Itu tidak berarti kamu lemah atau kurang bersyukur. Puasa anak rantau memang punya tantangan emosional tersendiri. Mengakui perasaan adalah langkah penting untuk bertahan.

Berikan ruang untuk jujur pada diri sendiri. Kalau ingin menangis sebentar, tidak apa-apa. Setelah itu, tarik napas dan ingat tujuan kamu merantau. Dari situ, kamu belajar bahwa puasa sendirian di kos juga bagian dari proses tumbuh.

Menjalani Ramadan jauh dari keluarga memang tidak mudah. Ada rindu yang datang diam-diam saat sahur dan berbuka. Namun, kamu tidak benar-benar sendirian dalam pengalaman ini. Yuk, pelan-pelan bangun versi Ramadan yang tetap hangat meski di perantauan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian