Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kamu Lagi Quarter Life Crisis? Coba 5 Langkah Ini Biar Tenang
ilustrasi seorang pria (pexels.com/REaL Studio Multimedia)
  • Artikel membahas fenomena quarter life crisis yang umum dialami usia 20-an, ditandai dengan kebingungan arah hidup, kecemasan masa depan, dan tekanan sosial soal pekerjaan.
  • Ditekankan pentingnya bekerja atau mengembangkan diri lewat kursus dan magang agar tetap produktif serta menjaga kesehatan mental selama menghadapi masa krisis ini.
  • Disarankan berhenti membandingkan diri dengan teman, berbagi cerita dengan yang berpengalaman, dan menyadari bahwa ketidaknyamanan adalah bagian alami dari proses pertumbuhan hidup.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat kamu berusia sekitar 25 tahun mungkin pikiran dan perasaanmu kerap terasa gak menentu. Banyak sekali hal yang dipikirkan olehmu dalam satu waktu. Terutama tentang masa kini dan masa depan.

Lalu perasaan cemas muncul lebih sering daripada tenang serta yakin. Fenomena ini disebut sebagai quarter life crisis atau krisis seperempat abad. Di masa ini, hidup terasa seperti di persimpangan.

Kamu kudu menentukan langkah dan kerap kali ini membuatmu kebingungan. Dirimu tidak yakin mesti mengambil jalan yang mana. Ada rasa takut salah bila melangkah sekaligus kamu tahu gak mungkin selamanya di situ-situ saja. Dalam situasi serba tak nyaman begini, dirimu dapat melakukan lima cara berikut supaya merasa lebih baik.

1. Usahakan sudah bekerja meski belum sesuai keinginan

ilustrasi seorang pria (pexels.com/Văn Nguyễn Hoàng)

Status telah bekerja akan sangat membantumu melalui masa quarter life crisis dengan lebih baik. Sebab di usia sekitar dua puluhan tahun tugas utamamu memang membangun kemandirian finansial. Dirimu telah dipercaya bisa mencari uang sendiri dan lepas dari tanggungan orangtua.

Apa pun pekerjaannya dan meski gaji masih minim tetap jauh lebih baik bagi kesehatan mentalmu ketimbang dirimu sama sekali gak bekerja. Ketiadaan pekerjaan dapat membuatmu kehilangan kepercayaan diri bahkan harga diri. Di umur segini, kamu bakal dihujani pertanyaan sudah bekerja atau belum.

Penting buatmu minimal punya jawaban yang meningkatkan respek orang terhadapmu. Meski pekerjaan impianmu sebenarnya berbeda, jangan buru-buru melepasnya. Sampai kamu memperoleh pekerjaan yang lebih baik atau sesuai impian. Biar dirimu gak galau terus setelah resign.

2. Kalau masih menganggur, gunakan waktu buat mengembangkan diri

ilustrasi seorang pria (pexels.com/Nhà văn)

Namun, memang persoalannya terkadang mendapatkan pekerjaan di usia sekitar 25 tahun gak mudah. Sebagian teman sepantarmu beruntung cepat memperoleh pekerjaan. Bahkan langsung pekerjaan impian.

Sementara dirimu boleh jadi kesulitan untuk sekadar bekerja apa saja. Jika begini, jangan terlalu stres. Itu akan membuat hari-harimu terasa amat buruk. Lebih baik gunakan waktu serta energimu untuk mengembangkan diri.

Ikuti kursus-kursus yang penting buat memperbesar peluang dirimu segera memperoleh pekerjaan. Kamu pun dapat magang dari satu kantor ke kantor yang lain. Baik pengalaman maupun relasi akan bertambah. Pokoknya, jangan di rumah atau kos-kosan doang tanpa ngapa-ngapain.

3. Jangan sibuk melihat teman-teman yang seperti langsung mapan

ilustrasi seorang pria (pexels.com/Theodore Nguyen)

Seperti disebutkan dalam poin sebelumnya. Ada sebagian orang yang dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan pertama mereka. Bahkan meski mereka resign di tahun kedua, pekerjaan baru cepat didapat.

Ada pula kawanmu yang bekerja di perusahaan atau instansi ternama. Gajinya sebagai fresh graduate langsung di atas upah minimum. Nama mereka menjadi populer di grup alumni. Sementara kamu seperti tenggelam di dasar lautan.

Berhentilah melihat ke arah mereka. Pusatkan perhatian terbesarmu ke diri sendiri. Bukan karena kamu gak bisa ikut gembira dengan nasib baik mereka. Namun, selalu mendongak pada keberuntungan orang lain dapat membuatmu minder serta kalah. Itu akan menekan mentalmu tanpa ampun.

4. Lebih banyak sharing dengan orang yang telah melalui quarter life crisis

ilustrasi seorang pria (pexels.com/Jeff Vinluan)

Kamu baru kali ini merasakan quarter life crisis. Sementara di luar sana ada banyak orang yang lebih dewasa darimu dan sudah terlebih dahulu mengalaminya. Mereka tahu betul apa yang membuatmu gelisah.

Kabar baiknya, mereka tak hanya bisa berempati padamu. Mereka juga sudah melalui krisis tersebut dengan cukup baik. Pastinya dirimu pun ingin berhasil menghadapi krisis seperempat abad ini tanpa menyebabkan kekacauan yang lebih besar.

Itu sebabnya berbicara dengan orang yang berpengalaman lebih tepat ketimbang kamu ngobrol sama kawan yang sama-sama sedang mencemaskan banyak hal. Kalian tanpa sadar hanya akan saling menguatkan kecemasan masing-masing. Kalian gak yakin bahwa semua rasa tidak nyaman ini bakal berlalu seiring waktu.

5. Sadari bahwa ketidaknyaman adalah tanda hidup sedang bertumbuh

ilustrasi seorang pria (pexels.com/Kenneth Surillo)

Masa pertumbuhan sering ditandai dengan segala rasa gak enak. Contohnya, ketika anak tumbuh gigi. Rewelnya bisa bukan main sampai ia tak mau makan. Juga anak perempuan ketika mengalami pertumbuhan payudara.

Pertumbuhan dalam hidup pun sama sekalipun tidak terlihat secara kasatmata. Malah rasa gak nyamannya lebih sulit dijelaskan. Psikis yang paling terasa tidak keruan. Meski terkadang badan pun terpengaruh.

Seperti kamu menjadi sulit tidur, kehilangan selera makan, dan sebagainya. Ketika dirimu menyadari semua ini normal dan tanda hidup akan bergerak ke depan, kamu pun lebih tenang. Tugasmu cukup mengikuti alur dengan tetap menjalani hari sebaik mungkin sampai seluruh masa tak nyaman berhasil dilalui.

Bulan Mei merupakan mental health awareness month atau bulan kesadaran kesehatan mental. Kamu yang lagi mengalami krisis seperempat abad juga mesti lebih peduli akan kesejahteraan psikismu. Setiap kecemasan mulai timbul, tenangkan diri kembali dengan membayangkan hal-hal baik di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team