Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ceramah Tarawih 2026 Malam ke-12: Menjadi Pribadi yang Pemaaf

Ceramah Tarawih 2026 Malam ke-12: Menjadi Pribadi yang Pemaaf
ilustrasi ceramah Tarawih malam ke-12 (unsplash.com/Raka Dwi Wicaksana)
Intinya Sih
  • Ceramah Tarawih malam ke-12 tahun 2026 mengangkat tema penting tentang menjadi pribadi yang pemaaf sebagai refleksi spiritual di bulan Ramadan untuk memperbaiki karakter dan membersihkan hati dari kebencian.
  • Disampaikan bahwa memaafkan bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan iman. Al-Qur’an dan hadis menegaskan Allah mencintai orang yang menahan amarah serta memberi maaf kepada sesama.
  • Memaafkan disebut sebagai puncak kematangan spiritual seorang Muslim, membawa ketenangan jiwa, menghapus dendam, dan menjadi jalan menuju ridha Allah SWT selama menjalani ibadah Ramadan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ceramah tarawih 2026 malam ke-12 merupakan waktu yang tepat untuk merefleksikan pikiran dan hati setelah sebelas malam berlalu. Ramadan bukan hanya agenda puasa satu tahun sekali, tetapi juga waktu yang tepat untuk membentuk karakter yang lebih baik. Salah satu karakter utama yang dianjurkan dalam Islam adalah menjadi pribadi yang pemaaf.

Sikap pemaaf bukan hanya tentang melupakan kesalahan orang lain, tetapi juga membersihkan hati dari rasa benci dan dendam yang menggerogoti jiwa. Dalam kehidupan sehari-hari, konflik dan salah paham merupakan hal yang tak mungkin dihindari. Untuk itu, ceramah tarawih 2026 malam ke-12 tentang menjadi pribadi yang pemaaf menjadi pilihan topik yang tepat dengan kondisi sosial saat ini.

1. Bagian isi

Ilustrasi membuka ceramah Tarawih
Ilustrasi membuka ceramah Tarawih (pexels.com/Photo by Alena Darmel)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Innalhamdalillah washolatu wasalamu ala rosulillah sayyidina Muhammad ibni abdilah waala alihi wasohbihi wamawalah (amma ba'du).

Jemaah masjid yang dirahmati Allah SWT,

Menjadi pribadi yang pemaaf merupakan salah satu sikap diri yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dalam berbagai riwayat hadis dan juga ayat Al-Qur’an, penggambaran diri sebagai pribadi yang pemaaf terpancar pada diri Nabi Muhammad. Sikap tersebut menunjukkan bahwa memaafkan merupakan tanda kekuatan, bukan kelemahan.

Dalam kehidupan sosial, sering kali maaf terhalang oleh tingginya ego seseorang. Terkadang, kita merasa paling benar dan menganggap orang lain yang salah dalam suatu perkara. Padahal, manusia pada dasarnya tidak pernah luput dari khilaf dan dosa serta rentan melakukan kesalahan. Untuk itu, ceramah tarawih malam ke-12 ini akan tepat rasanya bila kita merefleksikan diri dan meniatkan untuk menjadi pribadi yang pemaaf.

2. Bagian isi

ilustrasi ceramah di masjid
ilustrasi ceramah di masjid (pexels.com/Alena Darmel)

Jemaah tarawih yang berbahagia, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an tentang keutamaan memaafkan dalam Surah Ali Imran ayat 134: 

alladzîna yunfiqûna fis-sarrâ'i wadl-dlarrâ'i wal-kâdhimînal-ghaidha wal-‘âfîna ‘anin-nâs, wallâhu yuḫibbul-muḫsinîn

Artinya: "(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik diwaktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."

Pada ayat tersebut, ditegaskan bahwa Allah SWT mencintai orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Memaafkan kesalahan orang lain memanglah tidak mudah, terlebih ketika menyangkut hati yang tersakiti. Namun, disitulah letak kemuliaan seorang hamba di sisi-Nya.

Jemaah yang dimuliakan Allah, dalam konteks Ramadan, memaafkan merupakan bagian dari proses penyucian jiwa. Puasa melatih kita untuk mengendalikan diri, termasuk dalam menghadapi konflik. Tanpa sikap pemaaf, hati akan dipenuhi racun kebencian yang akan menghalangi cahaya iman di hati.

Menjadi pemaaf berarti siap untuk menerima kenyataan bahwa manusia jauh dari kata sempurna. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, begitu pula dengan diri kita sendiri. Ketika kita berbuat salah, tentunya kita juga mengharapkan maaf dari orang lain.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW juga bersabda:

Mā naqaṣat ṣadaqatun min māl, wa mā zādallāhu ‘abdan bi ‘afwin illā ‘izzā, wa mā tawāḍa‘a aḥadun lillāhi illā rafa‘ahullāh

Artinya: “Sedekah tidak mengurangi harta, tidaklah Allah menambah kepada hamba dengan sifat pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang rendah hati karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan, bahwa memaafkan merupakan sifat yang menjadi sebab tingginya derajat seseorang. Dunia mungkin melihat pemaaf sebagai seseorang yang kalah, tetapi ia merupakan pribadi yang mulia di sisi Allah SWT. Kemuliaan tidak diukur dari kemenangan dalam perdebatan, melainkan dari kelapangan hati.

Jemaah yang dimuliakan Allah, Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk menghapus daftar panjang kesalahan orang lain. Malam-malam tarawih menjadi saksi doa kita memohon ampunan. Maka, seharusnya pula kita juga belajar untuk memberi ampunan kepada orang lain.

Memaafkan memanglah berat, karena lawannya adalah ego kita sendiri. Setan selalu membisikkan diri kita untuk melakukan balas dendam. Namun, ingatlah bahwa kemenangan sejati adalah mereka yang menang melawan ego dirinya sendiri.

3. Bagian penutup

ilustrasi menutup ceramah tarawih
ilustrasi menutup ceramah tarawih (pexels.com/Alena Darmel)

Jemaah yang dimuliakan Allah, menjadi pribadi yang pemaaf adalah puncak kematangan spiritual seorang Muslim. Ia tidak mudah tersulut emosi dan tidak membiarkan kebencian menguasai hati. Ia memilih memaafkan demi ketenangan jiwa dan rida Allah SWT. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk golongan hamba-Nya yang dicintai karena mampu menahan amarah dan memberi maaf.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Demikian ceramah tarawih 2026 malam ke-12 tentang menjadi pribadi yang pemaaf. Semoga ceramah ini dapat menjadi renungan bagi kita semua dalam memperbaiki kualitas hati di bulan Ramadan. Semoga dengan hati yang bersih dan sikap pemaaf, seluruh ibadah yang kita jalankan semakin bernilai dan diterima oleh Allah SWT

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto
Follow Us

Latest in Life

See More